Pendahuluan
Kerusakan
total merupakan doktrin yang cukup menjadi pokok pemahaman mengenai keadaan
manusia berdosa baik dihadapan Allah maupun dihadapan manusia. Kaum Arminian
menolak keras doktrin kerusakan total, menurut penganut Arminian, manusia masih
bisa mengusahakan keselamatanannya sendiri. Keadaan manusia yang dapat
mengusahakan keselamatannya sendiri inilah yang ditentang oleh kaum Calvinis.
Sebab
manusia setelah kejatuhan Adam mula-mula telah dikuasai oleh dosa, sehingga
seluruh kehendak manusia sudah dikuasai oleh dosa. Yesaya mengatakan: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan
segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti
daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin
(Yes 64:6 ITB).”
Oleh sebab itu penulis menguraikan secara singkat yang
dimaksud dengan doktrin kerusakan total yang dipegang oleh kaum Calvinis. Sebab
segala hal yang dilakukan oleh manusia yang belum dilahir barukan di dalam
Kristus Yesus tidak dapat memahami kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan.
KERUSAKAN TOTAL
Pengertian
Kerusakan
total merupakan bagian pertama dari lima pokok calvinisme yang disingkat dengan
T-U-L-I-P. Bagian total depravity menjadi pokok pertama pembahasan sebab
menjelaskan mengenai kerusakan total manusia setelah manusia jatuh ke dalam
dosa. Doktrin mengenai kerusakan total mengacu pada Firman Allah mengenai
kejatuhan manusia (Kej. 3) dan pernyataan Alkitab mengenai keadaan manusia yang
penuh dengan dosa (bdk. Roma 3:23). Pengakuan iman Belgia pasal 14 menyatakan:[1]
Oleh
kehendaknya manusia sanggup menyesuaikan diri dengan kehendak Allah
dalam segala hal. Akan tetapi, ketika manusia sedang mulia ia tidak mempunyai pengertian, dan tidak menyadari keulungannya. Sebaliknya, dengan rela hati ia takluk kepada dosa, dan oleh karena itu kepada maut dan kutuk, karena membuka telinga untuk perkataan iblis. Sebab hukum kehidupan yang telah diterimanya itu dilanggarnya, dan oleh dosa ia memisahkan diri dari Allah, yang adalah hidupnya yang sejati. Ia telah merusak segenap kodratnya, dan dengan demikian ia patut dihukum mati, baik secara jasmani maupun secara rohani. Oleh karena manusia menjadi fasik dan buruk, serta bejat dalam segala jalannya, maka ia kehilangan semua karunia gemilang, yang telah diterimanya dari Allah, sehingga tiada yang tinggal kecuali hanya sisa-sisa yang kecil saja. Akan tetapi, sisa-sisa itu cukup sehingga manusia tidak dapat berdalih, karena seluruh terang yang ada di dalam diri kita telah berubah menjadi kegelapan,
dalam segala hal. Akan tetapi, ketika manusia sedang mulia ia tidak mempunyai pengertian, dan tidak menyadari keulungannya. Sebaliknya, dengan rela hati ia takluk kepada dosa, dan oleh karena itu kepada maut dan kutuk, karena membuka telinga untuk perkataan iblis. Sebab hukum kehidupan yang telah diterimanya itu dilanggarnya, dan oleh dosa ia memisahkan diri dari Allah, yang adalah hidupnya yang sejati. Ia telah merusak segenap kodratnya, dan dengan demikian ia patut dihukum mati, baik secara jasmani maupun secara rohani. Oleh karena manusia menjadi fasik dan buruk, serta bejat dalam segala jalannya, maka ia kehilangan semua karunia gemilang, yang telah diterimanya dari Allah, sehingga tiada yang tinggal kecuali hanya sisa-sisa yang kecil saja. Akan tetapi, sisa-sisa itu cukup sehingga manusia tidak dapat berdalih, karena seluruh terang yang ada di dalam diri kita telah berubah menjadi kegelapan,
Kerusakan
total bukan berarti kerusakan mutlak. Kerusakan mutlak berarti seseorang
melakukan kejahatannya sampai pada tingkat maksimal yang bisa dilakukannya
sepanjang waktu, sedang kerusakan total bukan menyangkut mengenai intensitas
kejahatan yang dilakukannya secara maksimal, melainkan ekstensitas atau luas
cakupan kejahatan secara maksimal. Sebab kejahatan telah merasuk sampai ke
dalam sumsumnya, sehingga apapun yang dilakukan, diucapkan, dipikirkan bahkan
kehendaknya sudah tercemar oleh dosa dan kecenderungannya melakukan dosa. Edwin
H. Palmer mengatakan:”tidak ada seorangpun melakukan dosa yang dapat dilakukan
oleh manusia, karena Allah melalui anugerah umumNya mengekang kejahatan yang
akan dilakukan oleh manusia.” Kerusakan total manusia itu digambarkan dengan
seseorang yang tenggelam di samudra Pasifik selama ribuan tahun, tubuhnya sudah
tidak berbentuk dan habis dimakan oleh ikan, sehingga dia tidak dapat lagi
berteriak meminta tolong supaya diselamatkan. Sehingga tidak ada alasan bagi
manusia untuk tidak memerlukan penolong yang dengan sukarela menolongnya, sebab
dia sendiri tidak bisa meminta tolong.
1. Kerusakan
total secara positif.
Manusia
secara natural tidak dapat disangkali dapat melakukan perbuatan baik yang
relatif, kebaikan yang dimaksudkan ialah bukanlah kebaikan sejati dalam sudut
pandang Allah. Pengakuan iman Belgia pasal 14 menyatakan mengenai kebaikan
manusia:
sebab manusia tidak lain dari
hamba dosa dan tidak dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak
dikaruniakan kepadanya dari surga. Sebab siapakah yang akan memegahkan
kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang baik seakan-akan hal itu timbul dari
dirinya sendiri, sedangkan Kristus berkata: Tidak ada seorang pun yang dapat
datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku? Siapakah
yang akan mengemukakan kehendaknya, sedangkan ia memahami bahwa keinginan
daging adalah perseteruan terhadap Allah?
Kerusakan
total berarti bahwa manusia tidak dapat melakukan kebaikan secara fundamental
yang menyenangkan hati Allah, dan kenyataannya manusia senantiasa berbuat
jahat. Kejadian 6:5 “Ketika dilihat
TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan
hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Hal ini menunjukan bahwa
tidak ada kebaikan secara fundamental dalam diri manusia yang berkenan
dihadapan Allah.
Mazmur 51:7 “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku
diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Menyatakan bahwa bayipun sudah
dalam keadaan berdosa. Jadi, kerusakan total menurut Palmer bersifat ekstensif
daripada intensif, sebab manusia tidak melakukan dosa dengan semua cara yang
ada, dan juga tidak sampai pada cara yang terburuk; bahkan manusia masih mampu
melakukan kebaikan relatif, tetapi dalam semua yang dilakukan masih berbuat
dosa.
2.
Kerusakan total
secara negatif ialah ketidakmampuan total.
Istilah
ketidakmampuan total memiliki arti yang negatif daripda kerusakan total, namun
lebih disukai daripada kerusakan total, sebab kerusakan total memberikan kesan
bahwa manusia telah menjadi seburuk mungkin. Ketidakmampuan total lebih
menyatakan kekurangan karakteristik positif dalam diri manusia. Palmer
menegaskan istilah ketidakmampuan total membantu menegaskan fakta-fakta
mengenai ketidakmampuan manusia untuk memahami, melakukan dan menginginkan
kebaikan. Beberapa contoh mengenai ketidakmampuan manusia menurut Edwin H.
Palmer:[2]
1.
Manusia tidak dapat
melakukan kebaikan
Orang
yang belum dilahirkan kembali di dalam Kristus tidak dapat melakukan kebaikan,
sebab seluruh kehidupannya masih dikuasai oleh dosa. Bahkan orang yang sudah
dilahirkan kembalipun masih saja memiliki kecenderungan tidak dapat melakukan
kebaikan jika tanpa anugerah Tuhan dalam Kristus Yesus. Orang percaya dapat
melakukan kebaikan karena mereka berakar di dalam Kristus, sebab oleh karena
Kristuslah kebaikan manusia diterima oleh Allah. Yesus berkata:” Demikianlah
setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak
baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu
menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan
buah yang baik (Mat 7:17-18 ITB).
Pertanyaan ke-8 pengakuan iman Heidelberg mengatakan: Pert.
Tetapi, begitu rusakkah kita, sehingga kita sama sekali tidak sanggup berbuat
apa pun yang baik, dan hanya cenderung pada yang jahat saja? Jaw. Ya,
kecuali jika kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah.
Paulus mengatakan:” Sebab keinginan daging adalah
perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini
memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin
berkenan kepada Allah” (Rom 8:7-8 ITB). Jadi, orang yang belum lahir
kembali didalam Kristus berseteru dengan Allah dan tidak taat kepada hukum
Allah, sehingga mereka tidam bisa melakukan kebaikan.
2.
Manusia tidak dapat
memahami kebaikan
Manusia
bukan hanya tidak dapat melakukan kebaikan, tetapi juga tidak dapat memahami
kebaikan. Dalam 1 Korintus 2:14, Paulus mengatakan:” Tetapi manusia duniawi
tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah
suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat
dinilai secara rohani.” Jadi manusia sama sekali tidak dapat memahami kebaikan
diluar Kristus.
Paulus menegaskan keadaan orang berdosa dengan “Sebab itu
kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama
seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia
dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena
kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka (Eph 4:17-18 ITB)”.
Hal ini cukup menunjukkan bahwa keadaan orang yang belum mengenal Tuhan tidak
dapat memahami kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan, karena keadaan manusia
yang dikuasai oleh dosa dan dosalah yang menutup manusia untuk memahami
kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan.
Pengakuan
iman Belgia pasal 14 tentang penciptaan manusia dan kejatuhan manusia,
katidakmampuan manusia untuk berbuat baik mengatakan:”
Sebab siapakah yang akan memegahkan kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang
baik seakan-akan hal itu timbul dari dirinya sendiri, sedangkan Kristus
berkata: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak
ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku? Siapakah yang akan mengemukakan
kehendaknya, sedangkan ia memahami bahwa keinginan daging adalah perseteruan
terhadap Allah?”
3.
Manusia tidak dapat
menginginkan kebaikan
Manusia
yang telah jatuh dalam dosa dan belum dilahirkan kembali di dalam Kristus bukan
hanya tidak dapat melakukan kebaikan dan memahami kebaikan, bahkan lebih parah
lagi, menginginkan kebaikanpun tidak dapat. Ketidakmampuan manusia untuk
mencapai kebaikan merupakan bagian dari kerusakan total manusia. Akibat
terburuk dari kerusakan total ialah manusia secara natural tidak menginginkan
kebaikan dalam hatinya. Terlebih lagi ketidakmampuan menginginkan Yesus sebagai
Juruselamatnya, Injil Yohanes mencatat pernyataan Yesus bahwa manusia tidak
dapat mengerti FirmanNya:”Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab
kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. (Yoh 8:43 ITB)”
Secara
natural dan tanpa campur tangan Tuhan, tidak mungkin manusia dapat mengenal
Yesus dan memahami perkataanNya. Hanya oleh karena anugerah Tuhanlah manusia
berdosa dapat memahami perkataan Tuhan Yesus, sehingga dapat memahami kebaikan
yang menyenangkan hati Tuhan. Pernyataan Yesus dengan tegas dalam Yoh. 6:44,”
Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh
Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Dengan
tegas menyatakan bahwa tanpa campur tangan Tuhan atau tanpa Tuhan yang
menetapkan dan menarik manusia berdosa tidak dapat datang kepada Yesus.
Meskipun banyak hal yang telah Tuhan Yesus lakukan selama menjadi manusia.
Edwin
H Palmer mengatakan:
“bukti yang paling jelas tentang ketidakmampuan manusia
untuk menginginkan yang baik dapat kita lihat pada semua ilustrasi Alkitab
mengenai efek dari permulaan dari karya Roh Kudus: pembaharuan hati, kelahiran,
penciptaan, dan kebangkitan. Istilah-istilah ini menyatakan dengan jelas
ketidakmampuan moral manusia yang bersifaat total.”
Kesimpulan
Kerusakan
total pada diri manusia setelah kejatuhan sangat besar akibatnya dalam
kehidupan manusia terutama manusia tidak dapat melakukan, memahami dan bahkan
menginginkan kebaikan dalam dirinya. Keterpisahan manusia dari kemulian Allah
penyebab manusia tidak dapat melakukan ketiga hal diatas. Manusia tidak dapat
berusaha sendiri untuk dapat kembali kepada keadaan semula sebelum mengalami
kejatuhan jika tanpa Allah yang menganugerahkannya kepada manusia.
Gambar
dan citra diri Allah telah rusak bersama dengann kejatuhan manusia. Oleh sebab
itu Allah kembali memperbaikai gambar dan rupaNya melalui Adam kedua yang lahir
tanpa cela yakni dalam Yesus Kristus. Tuhan Yesus menjadi penganti Adam pertama
yang telah gagal dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai kepala perjanjian.
Tuhan Yesus yang mengantikan Adam yang gagal, melaksanankan tanggungjawabnya
dengan taat bahkan taat sampai amti untuk memulihkan citra dan gambar diri
Allah yang telah rusak.
DAFTAR
PUSATAKA
http://reformed.sabda.org/book/export/html/122,
diacces pada tanggal 1 November 2014, pukul 8:20.
Palmer, Edwin H., Lima Pokok Calvinisme, Surabaya:
Momentum, 2011.
Baan, G. J., TULIP: Lima Pokok Calvinisme, Surabaya:
Momentum, 2012
Palmer, Edwin H., Five Points of Calvinism, Amerika: Baker
Publishing, 2010.
Spencer, Duane Edward, TULIP: The Five Points of Calvinism in the
Light of Scripture,
Amerika: Grand
Rapids, 2005.
Calvin, Yohanes, Intitutio, Jakarta: Gunung Mulia, 2011
Bekhof, Louis, Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah,
Surabaya: Momentum, 2011