Selasa, 04 November 2014

KERUSAKAN TOTAL

Pendahuluan
Kerusakan total merupakan doktrin yang cukup menjadi pokok pemahaman mengenai keadaan manusia berdosa baik dihadapan Allah maupun dihadapan manusia. Kaum Arminian menolak keras doktrin kerusakan total, menurut penganut Arminian, manusia masih bisa mengusahakan keselamatanannya sendiri. Keadaan manusia yang dapat mengusahakan keselamatannya sendiri inilah yang ditentang oleh kaum Calvinis.
Sebab manusia setelah kejatuhan Adam mula-mula telah dikuasai oleh dosa, sehingga seluruh kehendak manusia sudah dikuasai oleh dosa. Yesaya mengatakan: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin (Yes 64:6 ITB).”
Oleh sebab itu penulis menguraikan secara singkat yang dimaksud dengan doktrin kerusakan total yang dipegang oleh kaum Calvinis. Sebab segala hal yang dilakukan oleh manusia yang belum dilahir barukan di dalam Kristus Yesus tidak dapat memahami kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan.
 KERUSAKAN TOTAL
Pengertian
Kerusakan total merupakan bagian pertama dari lima pokok calvinisme yang disingkat dengan T-U-L-I-P. Bagian total depravity menjadi pokok pertama pembahasan sebab menjelaskan mengenai kerusakan total manusia setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Doktrin mengenai kerusakan total mengacu pada Firman Allah mengenai kejatuhan manusia (Kej. 3) dan pernyataan Alkitab mengenai keadaan manusia yang penuh dengan dosa (bdk. Roma 3:23). Pengakuan iman Belgia pasal 14 menyatakan:[1]
Oleh kehendaknya manusia sanggup menyesuaikan diri dengan kehendak Allah
dalam segala hal. Akan tetapi, ketika manusia sedang mulia ia tidak mempunyai pengertian, dan tidak menyadari keulungannya. Sebaliknya, dengan rela hati ia takluk kepada dosa, dan oleh karena itu kepada maut dan kutuk, karena membuka telinga untuk perkataan iblis. Sebab hukum kehidupan yang telah diterimanya itu dilanggarnya, dan oleh dosa ia memisahkan diri dari Allah, yang adalah hidupnya yang sejati. Ia telah merusak segenap kodratnya, dan dengan demikian ia patut dihukum mati, baik secara jasmani maupun secara rohani. Oleh karena manusia menjadi fasik dan buruk, serta bejat dalam segala jalannya, maka ia kehilangan semua karunia gemilang, yang telah diterimanya dari Allah, sehingga tiada yang tinggal kecuali hanya sisa-sisa yang kecil saja. Akan tetapi, sisa-sisa itu cukup sehingga manusia
tidak dapat berdalih, karena seluruh terang yang ada di dalam diri kita telah berubah menjadi kegelapan,
Kerusakan total bukan berarti kerusakan mutlak. Kerusakan mutlak berarti seseorang melakukan kejahatannya sampai pada tingkat maksimal yang bisa dilakukannya sepanjang waktu, sedang kerusakan total bukan menyangkut mengenai intensitas kejahatan yang dilakukannya secara maksimal, melainkan ekstensitas atau luas cakupan kejahatan secara maksimal. Sebab kejahatan telah merasuk sampai ke dalam sumsumnya, sehingga apapun yang dilakukan, diucapkan, dipikirkan bahkan kehendaknya sudah tercemar oleh dosa dan kecenderungannya melakukan dosa. Edwin H. Palmer mengatakan:”tidak ada seorangpun melakukan dosa yang dapat dilakukan oleh manusia, karena Allah melalui anugerah umumNya mengekang kejahatan yang akan dilakukan oleh manusia.” Kerusakan total manusia itu digambarkan dengan seseorang yang tenggelam di samudra Pasifik selama ribuan tahun, tubuhnya sudah tidak berbentuk dan habis dimakan oleh ikan, sehingga dia tidak dapat lagi berteriak meminta tolong supaya diselamatkan. Sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak memerlukan penolong yang dengan sukarela menolongnya, sebab dia sendiri tidak bisa meminta tolong.
1.      Kerusakan total secara positif.
Manusia secara natural tidak dapat disangkali dapat melakukan perbuatan baik yang relatif, kebaikan yang dimaksudkan ialah bukanlah kebaikan sejati dalam sudut pandang Allah. Pengakuan iman Belgia pasal 14 menyatakan mengenai kebaikan manusia:
sebab manusia tidak lain dari hamba dosa dan tidak dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Sebab siapakah yang akan memegahkan kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang baik seakan-akan hal itu timbul dari dirinya sendiri, sedangkan Kristus berkata: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku? Siapakah yang akan mengemukakan kehendaknya, sedangkan ia memahami bahwa keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah?
Kerusakan total berarti bahwa manusia tidak dapat melakukan kebaikan secara fundamental yang menyenangkan hati Allah, dan kenyataannya manusia senantiasa berbuat jahat. Kejadian 6:5 “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Hal ini menunjukan bahwa tidak ada kebaikan secara fundamental dalam diri manusia yang berkenan dihadapan Allah.
Mazmur 51:7 “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.” Menyatakan bahwa bayipun sudah dalam keadaan berdosa. Jadi, kerusakan total menurut Palmer bersifat ekstensif daripada intensif, sebab manusia tidak melakukan dosa dengan semua cara yang ada, dan juga tidak sampai pada cara yang terburuk; bahkan manusia masih mampu melakukan kebaikan relatif, tetapi dalam semua yang dilakukan masih berbuat dosa.
2.      Kerusakan total secara negatif ialah ketidakmampuan total.
Istilah ketidakmampuan total memiliki arti yang negatif daripda kerusakan total, namun lebih disukai daripada kerusakan total, sebab kerusakan total memberikan kesan bahwa manusia telah menjadi seburuk mungkin. Ketidakmampuan total lebih menyatakan kekurangan karakteristik positif dalam diri manusia. Palmer menegaskan istilah ketidakmampuan total membantu menegaskan fakta-fakta mengenai ketidakmampuan manusia untuk memahami, melakukan dan menginginkan kebaikan. Beberapa contoh mengenai ketidakmampuan manusia menurut Edwin H. Palmer:[2]
1.      Manusia tidak dapat melakukan kebaikan
Orang yang belum dilahirkan kembali di dalam Kristus tidak dapat melakukan kebaikan, sebab seluruh kehidupannya masih dikuasai oleh dosa. Bahkan orang yang sudah dilahirkan kembalipun masih saja memiliki kecenderungan tidak dapat melakukan kebaikan jika tanpa anugerah Tuhan dalam Kristus Yesus. Orang percaya dapat melakukan kebaikan karena mereka berakar di dalam Kristus, sebab oleh karena Kristuslah kebaikan manusia diterima oleh Allah. Yesus berkata:” Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17-18 ITB).
Pertanyaan ke-8 pengakuan iman Heidelberg mengatakan: Pert. Tetapi, begitu rusakkah kita, sehingga kita sama sekali tidak sanggup berbuat apa pun yang baik, dan hanya cenderung pada yang jahat saja? Jaw. Ya, kecuali jika kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah. Paulus mengatakan:” Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rom 8:7-8 ITB). Jadi, orang yang belum lahir kembali didalam Kristus berseteru dengan Allah dan tidak taat kepada hukum Allah, sehingga mereka tidam bisa melakukan kebaikan.
2.      Manusia tidak dapat memahami kebaikan
Manusia bukan hanya tidak dapat melakukan kebaikan, tetapi juga tidak dapat memahami kebaikan. Dalam 1 Korintus 2:14, Paulus mengatakan:” Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Jadi manusia sama sekali tidak dapat memahami kebaikan diluar Kristus.
Paulus menegaskan keadaan orang berdosa dengan “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka (Eph 4:17-18 ITB)”. Hal ini cukup menunjukkan bahwa keadaan orang yang belum mengenal Tuhan tidak dapat memahami kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan, karena keadaan manusia yang dikuasai oleh dosa dan dosalah yang menutup manusia untuk memahami kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan.
Pengakuan iman Belgia pasal 14 tentang penciptaan manusia dan kejatuhan manusia, katidakmampuan manusia untuk berbuat baik mengatakan:” Sebab siapakah yang akan memegahkan kemampuannya untuk berbuat sesuatu yang baik seakan-akan hal itu timbul dari dirinya sendiri, sedangkan Kristus berkata: Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku? Siapakah yang akan mengemukakan kehendaknya, sedangkan ia memahami bahwa keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah?”
3.      Manusia tidak dapat menginginkan kebaikan
Manusia yang telah jatuh dalam dosa dan belum dilahirkan kembali di dalam Kristus bukan hanya tidak dapat melakukan kebaikan dan memahami kebaikan, bahkan lebih parah lagi, menginginkan kebaikanpun tidak dapat. Ketidakmampuan manusia untuk mencapai kebaikan merupakan bagian dari kerusakan total manusia. Akibat terburuk dari kerusakan total ialah manusia secara natural tidak menginginkan kebaikan dalam hatinya. Terlebih lagi ketidakmampuan menginginkan Yesus sebagai Juruselamatnya, Injil Yohanes mencatat pernyataan Yesus bahwa manusia tidak dapat mengerti FirmanNya:”Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku. (Yoh 8:43 ITB)”
Secara natural dan tanpa campur tangan Tuhan, tidak mungkin manusia dapat mengenal Yesus dan memahami perkataanNya. Hanya oleh karena anugerah Tuhanlah manusia berdosa dapat memahami perkataan Tuhan Yesus, sehingga dapat memahami kebaikan yang menyenangkan hati Tuhan. Pernyataan Yesus dengan tegas dalam Yoh. 6:44,” Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.” Dengan tegas menyatakan bahwa tanpa campur tangan Tuhan atau tanpa Tuhan yang menetapkan dan menarik manusia berdosa tidak dapat datang kepada Yesus. Meskipun banyak hal yang telah Tuhan Yesus lakukan selama menjadi manusia.
Edwin H Palmer mengatakan:
“bukti yang paling jelas tentang ketidakmampuan manusia untuk menginginkan yang baik dapat kita lihat pada semua ilustrasi Alkitab mengenai efek dari permulaan dari karya Roh Kudus: pembaharuan hati, kelahiran, penciptaan, dan kebangkitan. Istilah-istilah ini menyatakan dengan jelas ketidakmampuan moral manusia yang bersifaat total.”
Kesimpulan
Kerusakan total pada diri manusia setelah kejatuhan sangat besar akibatnya dalam kehidupan manusia terutama manusia tidak dapat melakukan, memahami dan bahkan menginginkan kebaikan dalam dirinya. Keterpisahan manusia dari kemulian Allah penyebab manusia tidak dapat melakukan ketiga hal diatas. Manusia tidak dapat berusaha sendiri untuk dapat kembali kepada keadaan semula sebelum mengalami kejatuhan jika tanpa Allah yang menganugerahkannya kepada manusia.
Gambar dan citra diri Allah telah rusak bersama dengann kejatuhan manusia. Oleh sebab itu Allah kembali memperbaikai gambar dan rupaNya melalui Adam kedua yang lahir tanpa cela yakni dalam Yesus Kristus. Tuhan Yesus menjadi penganti Adam pertama yang telah gagal dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai kepala perjanjian. Tuhan Yesus yang mengantikan Adam yang gagal, melaksanankan tanggungjawabnya dengan taat bahkan taat sampai amti untuk memulihkan citra dan gambar diri Allah yang telah rusak.
DAFTAR PUSATAKA
http://reformed.sabda.org/book/export/html/122, diacces pada tanggal 1 November 2014, pukul 8:20.
Palmer, Edwin H., Lima Pokok Calvinisme, Surabaya: Momentum, 2011.
Baan, G. J., TULIP: Lima Pokok Calvinisme, Surabaya: Momentum, 2012
Palmer, Edwin H., Five Points of Calvinism, Amerika: Baker Publishing, 2010.
Spencer, Duane Edward, TULIP: The Five Points of Calvinism in the Light of Scripture,
         Amerika: Grand Rapids, 2005.
Calvin, Yohanes, Intitutio, Jakarta: Gunung Mulia, 2011
Bekhof, Louis, Teologi Sistematika 1: Doktrin Allah, Surabaya: Momentum, 2011



       [1]http://reformed.sabda.org/book/export/html/122, diacces pada tanggal 1 November 2014, pukul 8:20.
       [2]Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, (Surabaya: Momentum, 2011) 10-13

Senin, 03 November 2014

Kovenan dalam Perjanjian Lama

PENDAHULUAN
Kovenan merupakan sebuah perjanjian yang tidak dapat antara Allah dan manusia. Dalam perjanjian tersebut manusia hanya meresponi perjanjian tanpa harus menyetujui perjanjian tersebut. Dalam kovenan Allah yang berinisiatif untuk mengikat diriNya dengan ciptaanNya tanpa harus menunggu persetujuan dari pihak ciptaan. Louis Berhkof dalam bukunya Teologi Sitematika 2 membagi dua perjanjian yaitu perjanjian anugerah dan perjanjian kerja. Namun dalam makalah ini tidak membahas keduanya.
Perjanjian ini sepenuhnya adalah inisiatif Allah, Allahlah yang memulai menggagas permulaan perjanjian ini. Banyak perjanjian-perjanjian yang ditulis di dalam Alkitab, namun makalah ini membahas mengenai perjanjian Allah dan manusia dalam kitab Perjanjian Lama. Ada lima perjanjian besar yang terdapat dalam Perjanjian Lama yaitu: perjanjian Nuh, perjanjian Abraham, Perjanjian di Gunung Sinai dan perjanjian Daud. Makalah ini memaparkan ke-empat perjanjian tersebut.
 BAB I
KOVENAN DALAM PERJANJIAN LAMA
Kovenan Allah
Kovenan adalah suatu perjanjian yang bersifat khusus antara Allah dan manusia yang dibuat bukan berdasarkan kesepakatan yang sejajar tetapi inisiatif dipegang oleh Allah dan didasarkan kerelaan-Nya mengikat diri dengan ciptaan-Nya.[1] Perjanjian Allah pertama kali dinyatakan kepada Adam melalui larangan Allah kepada Adam untuk tidak memakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan tentang yang jahat, meskipun dalam kitab Kejadian tidak dinyatakan langsung sebagai suatu perjanjian. Hosea dalam Hosea 6:7[2] menyatakan bahwa Adam telah melanggar perjanjian dengan Tuhan. Thomas Edward McComiskey dalam bukunya the Covenants of Promise mengatakan:[3]
“the previous discusion has attempted to draw a distinction between two types of covenants: promissory and administrative. The promissory covenants elicit the response of trust; there is not a covenanted administration of obedience in them. In the administrative covenants, the mode of human obedience is given covenant formulation.”
Kovenan tidak akan pernah kehilangan keutuhannya, sedang dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dianggap sebagai alat yang mewajibkan Allah bertindak atas nama umatNya. Allah mengadakan perjanjian dengan umatNya, ada empat besar perjanjian antara Allah dengan manusia antara lain:
  1. Perjanjian Allah dengan Nuh
Perjanjian Allah dengan Nuh dimulai sebelum Allah mendatangkan air bah untuk memusnahkn bumi. Allah telah terlebih dahulu mengikat perjanjian dengan Nuh, bahwa Allah akan menyelamatkan Nuh  dan keluarganya serta binatang-binatang. Perjanjian ini pun diresponi oleh Nuh dengan membuat bahtera seperti yang telah diperintahkan oleh Tuhan. Perjanjian ini didasarkan pada janji yang sungguh-sungguh nyata, karena Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan Nuh dan keluarganya.
Perjanjian itu diperbaharui oleh Tuhan setelah Allah mendatang air bah ke atas muka bumi dan melenyapkan semua mahkluk di bumi selain yang bersama-sama dengan Nuh di dalam bahtera. Inti perjanjian ini ialah Tuhan tidak akan mendatangkan air bah dan tidak akan melenyapkan mahkluk di bumi dengan air bah lagi. Perjanjian Allah dengan Nuh ditandai dengan adanya busur atau lengkungan di cakrawala yang sering ditafsirkan dengan pelagi.
Perjanjian Allah dengan Nuh ini terdapat dalam Kejadian 9:9-12, perjanjian ini bukan hanya ditujukan kepada Nuh saja tetapi juga kepada keturunannya bahkan kepada binatang-binatang yang hidup setelah air bah. Perjanjian ini merupakan perjanjian kedamaian, Tuhan berjanji tidak akan mendatang air bah untuk memusnahkan bumi lagi seberapapun jahatnya manusia yang ditinggal di bumi.
  1. Perjanjian Allah dengan Abraham
Kovenan Allah dengan Abraham merupakan doktrin Alkitab yang cukup menonjol dalam konsep penebusan. Sejak penyebutan pertama dengan kata berit berlanjut pada Kej. 15:18 kelihatan masuk akal dan perlu memulainya dan dilajuntkan dengan detail pada pasal berikutnya.[4] Perjanjian pertama Allah dengan Abraham ialah mengenai tanah dan keturunan yang akan mewaris tanah tersebut. Secara tidak langsung perjanjian Allah dengan Abraham merupakan perjanjian antara Allah dengan umat pilihanNya. Abraham merepresentasikan atau mewakili umat pilihan Allah dengan Allah dan mengikat perjanjian. Dalam kovenan ini bukan Abraham yang berinisiatif untuk memulai perjanjian dengan persyaratan seperti pada umumnya yaitu perjanjian dengan orang yang sepadan, namun Allahlah yang berinisiatif memulai perjanjian tersebut meskipun kedudukan keduanya tidak sepadan.
Perjanjian antara Allah dan Abraham dimulai dalam Kej 12:1-3, isi perjanjian tersebut ialah Allah akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar, Allah akan membawa Abraham ke tanah perjanjian dan Abraham menjadi berkat bagi dunia. Pokok dari perjanjian Allah dengan Abraham ialah mengenai bangsa dan tanah serta penebusan. Allah ingin menjadikan keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar dan menjadi umat pilihan Allah.
Perjanjian Allah dengan Abraham merupakan perjanjian antara raja dengan bawahan, namun diperlukan tindakan aktif dari Abraham sebagai persyaratan dari perjanjian tersebut. Perjanjiian Abraham tidak hanya mengikat antara Abraham dan Allah, namun juga mengikat keturunannya.
  1. Perjanjian Allah di Gunung Sinai
Perjanjian Allah dengan Musa terdapat dalam Kel 19:5-6 merupakan perjanjian penebusan dan perjanjian Allah sebagai Allah yang disembah oleh orang Israel dan Israel menjadi umat Allah dengan syarat mentaati segala perintah atau hukum yang telah diberikan Tuhan kepada orang Israel. perjanjian ini merupakan kelanjutan dari perjanjian Allah dengan Abraham, bahwa Allah akan memberikan kepada Abraham dan keturunannya tanah perjanjian yang telah dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham dan menjadikan keturunan Abraham menjadi bangsa yang besar.
Allah menepati janjiNya dengan membawa orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan menuntun mereka ke tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan yang telah dijanjikan kepada Abraham. Perjanjian ini juga merepresentasikan keselamatan yang diberikan oleh Allah kepada umat pilihanNya. Musa menggambarkan keadaan hukum Taurat yang hanya dapat sampai pada tahap mengetahui tanah perjanjian itu, namun tidak dapat masuk ke dalam tanah perjanjian tersebut.
Taurat digambarkan sebagai hukum yang dapat membawa orang untuk melihat keselamatan, namun tidak dapat meyelamatkan. Keselamatan hanya diberikan oleh Allah langsung kepada umat pilihanNya dan merupakan anugerah yang tidak dapat ditolak oleh umat pilihan tersebut. Demikian juga dengan perjanjian yang dilakukan antara Allah dan Musa, merupakan perjanjian yang tidak dapat ditolak, sebab perjanjian ini merupakan perjanjian antara Raja dengan bawahan.
Unsur-unsur perjanjian Allah dan Musa sebagai berikut:[5]
  1. Orang-orang mepersiapkan dirinya sendiri dengan mencuci pakaian nya dan tubuh dan berpuasa.
  2. Moses recounted God’s mighty act of deliverances, reminded the people that God had fulfilled his promise and proclaimed God’s election of Israel and his will to make a covenant with them.
  3. There is the appearance of God, the theophany, which was heralded not only by thunders and lightnings, but also by the blast of the ram horn.
  4. Kehendak Tuhan yang telah dinyatakan.
  5. Respon terhadap kehendak Tuhan, orang-orang sungguh-sungguh berjanji dalam kesetiaan dan ketaatan mereka kepada Tuhan.
  6. Perjanjian Tuhan dan pernyataan.
  1. Perjanjian Allah dengan Daud
Perjanjian Allah dengan Daud terdapat dalam 2 Samuel 7:12-17, meskipun di dalammnya tidak terdapat kata perjanjian, namun isi dari ayat di atas mengandung janji. Perjanjian dengan Daud ini diberikan Tuhan melalui nabi Natan mirip dengan kata-kata dalam perjanjian Allah dengan Abraham. William Dryrness dalam bukunya Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama mengatakan:[6]
Mengingat kembali bentik-bentuk perjanjian yang diterima Daud dari Musa dan dinyatakan secara sempurna dalam ibadah Bait Suci, maka Allah dapat dimuliakan sebagaimana mestinya. Lebih-lebih lagi, mereka harus ingat bahwa Allah adalah Raja mereka yang benar dan bahwa pemerintahan Daud melambangkan pemerintahan yang lebih agung ini. Mengingat kembali janji yang disampaikan dengan perantaraan Nabi Natan, penulis Tawarikh mengulang lagi pernyataan maksud Allah bagi garis keturunan Daud.

Perjanjian Allah dengan Daud merupakan perjanjian mengkokohkan tahta kerajaan Daud menuju kepada kerajaan yang kekal. Tahta kerajaan akan diteruskan kepada keturunannya dengan persyaratan Daud dan keturunannya tetap menyembah Tuhan dan memuliakan Tuhan. Sifat-sifat dasar dari perjanjian ini adalah:[7]
1.      Perjanjian ini akan menjadi nyata “sesudah waktu itu” (ayat 33), yaitu, Sesudah tindakan penebusan lain yang Allah kerjakan.
2.      Salah satu fungsinya ialah menaruh Taurat dalam batin manusia.
3.      Kedudukan baru  di hadapan Tuhan dalah bagi setiap orang, bukan hanya bagi para nabi dan para imam.
Mengenai perjanjian Allah dengan Daud ini ada penafsir yang mengkaitkan perjanjian ini dengan kerajaan yang akan dibawa Mesias pada masa yang akan datang (bdk Yes 55:3-4). Tongkat kerajaan Daud tidak hanya terhenti pada masa raja-raja berkuasa di Israel, tetapi sampai kepada kerajaan Mesias.
Perjanjian Allah dengan Daud bahwa tahta kerajaan tidak pernah berpindah dari keturunannya, juga mengacu kepada janji mengenai kedatangan Mesias. Sebab, Mesias berasal dari garis keturunan Daud. Perjanjian Tuhan ini bukan hanya sekedar perjanjian yang berlaku pada saat perjanjian itu diucapkan, tetapi memiliki jangka waktu yang kekal. Seperti halnya perjanjian yang telah termeterai akan terus berlaku sesuai dengan waktu yang telah disepakati atau juga berlaku selama perjanjian itu belum dibatalkan.
 KESIMPULAN
Allah senantiasa memegang teguh perjanjian-perjanjian yang telah diikatkan kepada umatNya. Tuhan tidak pernah mengingkai janji-janji tersebut, Tuhan adalah Allah yangg setia memegang teguh janji. Perjanjian antara Tuhan dengan umatNya merupakan suatu perjanjian yang tidak dapat ditolak dengan syarat yang harus dilakukan oleh pihak manusia sebagai penerima janji tersebut.
Perjanjian Tuhan ini bersifat mengikat dan kekal, Tuhan tidak hanya berjanji untuk saat itu saja, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Memegang teguh perjanjian dengan Tuhan tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan pemegang janji tersebut, tetapi juga untuk keturunan dan orang yang berada disekitar pemegang perjanjian Tuhan itu.
Perjanjian Tuhan yang terutama kepada manusia adalah perjanjian kesalamatan di dalam Yesus Kristus yang telah dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Yesus Kristus adalah penggenap dari semua perjanjian yang telah Allah ikatkan kepada para nabi dan bapa lelulur yang terdahulu. Inti semua perjanjian itu mengarah kepada keselamatan dan penggenapan di dalam Yesus Kristus.
 Daftar pustaka
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika 2: Doktrin Manusia, Surabaya: Momentum, 2011.
McComiskey, Thomas Edward, The Covenants of Promise, Grand Rapids: Baker Book House,
         1985.
Dumbrell, W. J. Covenant and Creation: A Theology of Old Testament Covenant, New York:
         Thomas Nelson Publishers, 1984.
Szikszai, Stephen, The Covenant in Faith and History, Philadelphia: The Geneva Press, 1952.
Barth, Christoph dan Barth-Frommel, Marie-Claire, Teologi Perjanjian Lama 1, Jakarta:
         Gunung Mulia, 2010
Dryrness, William, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1990.
Robertson, O. Palmer, Covenants: God’s Way with his People, Philadelphia: Great
        Commission Publications, 1978.



       [1]Berkhof lebih menekankan membahas mengenai teologi perjanjian kerja antara Allah dan manusia. Louis Berkhof, Teologi Sistematika 2: Doktrin Manusia, (Surabaya: Momentum, 2011) 65.
       [2]dalam versi terjemahan LAI tidak terlalu kelihatan pernyataan Hosea mengenai perjanjian Allah dan Adam yang telah dilanggar, namun dalam terjemahan KJV terlihat pernyataan tersebut. But they like men have transgressed the covenant: there have they dealt treacherously against me (Hos 6:7 KJV). Terjemahan ini sesuai dengan bahasa aslinya dan didukung terjemahan NAS.
       [3]Thomas Edward McComiskey, The Covenants of Promise, (Grand Rapids: Baker Book House, 1985) 139.
       [4]W. J. Dumbrell, Covenant and Creation: A Theology of Old Testament Covenant, (New York: Thomas Nelson Publishers, 1984) 47.
       [5]Stephen Szikszai, The Covenant in Faith and History, (Philadelphia: The Geneva Press, 1952) 42-43.
       [6]William Dryrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1990) 103
       [7]William Dryrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, 104.