PENDAHULUAN
Kovenan merupakan sebuah perjanjian yang tidak dapat
antara Allah dan manusia. Dalam perjanjian tersebut manusia hanya meresponi
perjanjian tanpa harus menyetujui perjanjian tersebut. Dalam kovenan Allah yang
berinisiatif untuk mengikat diriNya dengan ciptaanNya tanpa harus menunggu
persetujuan dari pihak ciptaan. Louis Berhkof dalam bukunya Teologi Sitematika
2 membagi dua perjanjian yaitu perjanjian anugerah dan perjanjian kerja. Namun
dalam makalah ini tidak membahas keduanya.
Perjanjian ini sepenuhnya adalah inisiatif Allah,
Allahlah yang memulai menggagas permulaan perjanjian ini. Banyak
perjanjian-perjanjian yang ditulis di dalam Alkitab, namun makalah ini membahas
mengenai perjanjian Allah dan manusia dalam kitab Perjanjian Lama. Ada lima
perjanjian besar yang terdapat dalam Perjanjian Lama yaitu: perjanjian Nuh,
perjanjian Abraham, Perjanjian di Gunung Sinai dan perjanjian Daud. Makalah ini
memaparkan ke-empat perjanjian tersebut.
BAB I
KOVENAN
DALAM PERJANJIAN LAMA
Kovenan Allah
Kovenan adalah suatu perjanjian yang bersifat khusus
antara Allah dan manusia yang dibuat bukan berdasarkan kesepakatan yang sejajar
tetapi inisiatif dipegang oleh Allah dan didasarkan kerelaan-Nya mengikat diri
dengan ciptaan-Nya.[1]
Perjanjian Allah pertama kali dinyatakan kepada Adam melalui larangan Allah
kepada Adam untuk tidak memakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan tentang
yang jahat, meskipun dalam kitab Kejadian tidak dinyatakan langsung sebagai
suatu perjanjian. Hosea dalam Hosea 6:7[2]
menyatakan bahwa Adam telah melanggar perjanjian dengan Tuhan. Thomas Edward
McComiskey dalam bukunya the Covenants of Promise mengatakan:[3]
“the previous discusion has attempted to draw a
distinction between two types of covenants: promissory and administrative. The
promissory covenants elicit the response of trust; there is not a covenanted
administration of obedience in them. In the administrative covenants, the mode
of human obedience is given covenant formulation.”
Kovenan tidak akan pernah kehilangan keutuhannya,
sedang dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dianggap sebagai alat yang
mewajibkan Allah bertindak atas nama umatNya. Allah mengadakan perjanjian
dengan umatNya, ada empat besar perjanjian antara Allah dengan manusia antara
lain:
- Perjanjian Allah dengan Nuh
Perjanjian Allah dengan Nuh dimulai sebelum Allah
mendatangkan air bah untuk memusnahkn bumi. Allah telah terlebih dahulu
mengikat perjanjian dengan Nuh, bahwa Allah akan menyelamatkan Nuh dan keluarganya serta binatang-binatang.
Perjanjian ini pun diresponi oleh Nuh dengan membuat bahtera seperti yang telah
diperintahkan oleh Tuhan. Perjanjian ini didasarkan pada janji yang
sungguh-sungguh nyata, karena Allah mengambil inisiatif untuk menyelamatkan Nuh
dan keluarganya.
Perjanjian itu diperbaharui oleh Tuhan setelah Allah
mendatang air bah ke atas muka bumi dan melenyapkan semua mahkluk di bumi
selain yang bersama-sama dengan Nuh di dalam bahtera. Inti perjanjian ini ialah
Tuhan tidak akan mendatangkan air bah dan tidak akan melenyapkan mahkluk di
bumi dengan air bah lagi. Perjanjian Allah dengan Nuh ditandai dengan adanya
busur atau lengkungan di cakrawala yang sering ditafsirkan dengan pelagi.
Perjanjian Allah dengan Nuh ini terdapat dalam
Kejadian 9:9-12, perjanjian ini bukan hanya ditujukan kepada Nuh saja tetapi
juga kepada keturunannya bahkan kepada binatang-binatang yang hidup setelah air
bah. Perjanjian ini merupakan perjanjian kedamaian, Tuhan berjanji tidak akan
mendatang air bah untuk memusnahkan bumi lagi seberapapun jahatnya manusia yang
ditinggal di bumi.
- Perjanjian Allah dengan Abraham
Kovenan Allah dengan Abraham merupakan doktrin Alkitab
yang cukup menonjol dalam konsep penebusan. Sejak penyebutan pertama dengan
kata berit berlanjut pada Kej. 15:18
kelihatan masuk akal dan perlu memulainya dan dilajuntkan dengan detail pada
pasal berikutnya.[4]
Perjanjian pertama Allah dengan Abraham ialah mengenai tanah dan keturunan yang
akan mewaris tanah tersebut. Secara tidak langsung perjanjian Allah dengan
Abraham merupakan perjanjian antara Allah dengan umat pilihanNya. Abraham merepresentasikan
atau mewakili umat pilihan Allah dengan Allah dan mengikat perjanjian. Dalam
kovenan ini bukan Abraham yang berinisiatif untuk memulai perjanjian dengan
persyaratan seperti pada umumnya yaitu perjanjian dengan orang yang sepadan,
namun Allahlah yang berinisiatif memulai perjanjian tersebut meskipun kedudukan
keduanya tidak sepadan.
Perjanjian antara Allah dan Abraham dimulai dalam Kej
12:1-3, isi perjanjian tersebut ialah Allah akan membuat Abraham menjadi bangsa
yang besar, Allah akan membawa Abraham ke tanah perjanjian dan Abraham menjadi
berkat bagi dunia. Pokok dari perjanjian Allah dengan Abraham ialah mengenai
bangsa dan tanah serta penebusan. Allah ingin menjadikan keturunan Abraham
menjadi bangsa yang besar dan menjadi umat pilihan Allah.
Perjanjian Allah dengan Abraham merupakan perjanjian
antara raja dengan bawahan, namun diperlukan tindakan aktif dari Abraham
sebagai persyaratan dari perjanjian tersebut. Perjanjiian Abraham tidak hanya
mengikat antara Abraham dan Allah, namun juga mengikat keturunannya.
- Perjanjian Allah di Gunung Sinai
Perjanjian Allah dengan Musa terdapat dalam Kel 19:5-6
merupakan perjanjian penebusan dan perjanjian Allah sebagai Allah yang disembah
oleh orang Israel dan Israel menjadi umat Allah dengan syarat mentaati segala
perintah atau hukum yang telah diberikan Tuhan kepada orang Israel. perjanjian
ini merupakan kelanjutan dari perjanjian Allah dengan Abraham, bahwa Allah akan
memberikan kepada Abraham dan keturunannya tanah perjanjian yang telah
dijanjikan oleh Tuhan kepada Abraham dan menjadikan keturunan Abraham menjadi
bangsa yang besar.
Allah menepati janjiNya dengan membawa orang Israel
keluar dari perbudakan di Mesir dan menuntun mereka ke tanah perjanjian yaitu
tanah Kanaan yang telah dijanjikan kepada Abraham. Perjanjian ini juga
merepresentasikan keselamatan yang diberikan oleh Allah kepada umat pilihanNya.
Musa menggambarkan keadaan hukum Taurat yang hanya dapat sampai pada tahap
mengetahui tanah perjanjian itu, namun tidak dapat masuk ke dalam tanah
perjanjian tersebut.
Taurat digambarkan sebagai hukum yang dapat membawa
orang untuk melihat keselamatan, namun tidak dapat meyelamatkan. Keselamatan
hanya diberikan oleh Allah langsung kepada umat pilihanNya dan merupakan
anugerah yang tidak dapat ditolak oleh umat pilihan tersebut. Demikian juga
dengan perjanjian yang dilakukan antara Allah dan Musa, merupakan perjanjian
yang tidak dapat ditolak, sebab perjanjian ini merupakan perjanjian antara Raja
dengan bawahan.
Unsur-unsur perjanjian Allah dan Musa sebagai berikut:[5]
- Orang-orang mepersiapkan dirinya sendiri dengan
mencuci pakaian nya dan tubuh dan berpuasa.
- Moses recounted God’s mighty act of deliverances,
reminded the people that God had fulfilled his promise and proclaimed
God’s election of Israel and his will to make a covenant with them.
- There is the appearance of God, the theophany,
which was heralded not only by thunders and lightnings, but also by the
blast of the ram horn.
- Kehendak Tuhan yang telah dinyatakan.
- Respon terhadap kehendak Tuhan, orang-orang
sungguh-sungguh berjanji dalam kesetiaan dan ketaatan mereka kepada Tuhan.
- Perjanjian Tuhan dan pernyataan.
- Perjanjian Allah dengan Daud
Perjanjian Allah dengan Daud terdapat dalam 2 Samuel
7:12-17, meskipun di dalammnya tidak terdapat kata perjanjian, namun isi dari
ayat di atas mengandung janji. Perjanjian dengan Daud ini diberikan Tuhan
melalui nabi Natan mirip dengan kata-kata dalam perjanjian Allah dengan
Abraham. William Dryrness dalam bukunya Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama
mengatakan:[6]
Mengingat kembali bentik-bentuk perjanjian yang diterima Daud dari Musa
dan dinyatakan secara sempurna dalam ibadah Bait Suci, maka Allah dapat
dimuliakan sebagaimana mestinya. Lebih-lebih lagi, mereka harus ingat bahwa
Allah adalah Raja mereka yang benar dan bahwa pemerintahan Daud melambangkan
pemerintahan yang lebih agung ini. Mengingat kembali janji yang disampaikan
dengan perantaraan Nabi Natan, penulis Tawarikh mengulang lagi pernyataan
maksud Allah bagi garis keturunan Daud.
Perjanjian Allah dengan Daud merupakan perjanjian
mengkokohkan tahta kerajaan Daud menuju kepada kerajaan yang kekal. Tahta
kerajaan akan diteruskan kepada keturunannya dengan persyaratan Daud dan
keturunannya tetap menyembah Tuhan dan memuliakan Tuhan. Sifat-sifat dasar dari
perjanjian ini adalah:[7]
1.
Perjanjian ini
akan menjadi nyata “sesudah waktu itu” (ayat 33), yaitu, Sesudah tindakan
penebusan lain yang Allah kerjakan.
2.
Salah satu
fungsinya ialah menaruh Taurat dalam batin manusia.
3.
Kedudukan
baru di hadapan Tuhan dalah bagi setiap
orang, bukan hanya bagi para nabi dan para imam.
Mengenai perjanjian Allah dengan Daud ini ada penafsir
yang mengkaitkan perjanjian ini dengan kerajaan yang akan dibawa Mesias pada
masa yang akan datang (bdk Yes 55:3-4). Tongkat kerajaan Daud tidak hanya
terhenti pada masa raja-raja berkuasa di Israel, tetapi sampai kepada kerajaan
Mesias.
Perjanjian Allah dengan Daud bahwa tahta kerajaan
tidak pernah berpindah dari keturunannya, juga mengacu kepada janji mengenai
kedatangan Mesias. Sebab, Mesias berasal dari garis keturunan Daud. Perjanjian
Tuhan ini bukan hanya sekedar perjanjian yang berlaku pada saat perjanjian itu
diucapkan, tetapi memiliki jangka waktu yang kekal. Seperti halnya perjanjian
yang telah termeterai akan terus berlaku sesuai dengan waktu yang telah
disepakati atau juga berlaku selama perjanjian itu belum dibatalkan.
KESIMPULAN
Allah senantiasa
memegang teguh perjanjian-perjanjian yang telah diikatkan kepada umatNya. Tuhan
tidak pernah mengingkai janji-janji tersebut, Tuhan adalah Allah yangg setia
memegang teguh janji. Perjanjian antara Tuhan dengan umatNya merupakan suatu
perjanjian yang tidak dapat ditolak dengan syarat yang harus dilakukan oleh
pihak manusia sebagai penerima janji tersebut.
Perjanjian Tuhan
ini bersifat mengikat dan kekal, Tuhan tidak hanya berjanji untuk saat itu
saja, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Memegang teguh perjanjian dengan
Tuhan tidak hanya bermanfaat bagi kehidupan pemegang janji tersebut, tetapi
juga untuk keturunan dan orang yang berada disekitar pemegang perjanjian Tuhan
itu.
Perjanjian Tuhan
yang terutama kepada manusia adalah perjanjian kesalamatan di dalam Yesus
Kristus yang telah dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Yesus Kristus adalah
penggenap dari semua perjanjian yang telah Allah ikatkan kepada para nabi dan
bapa lelulur yang terdahulu. Inti semua perjanjian itu mengarah kepada
keselamatan dan penggenapan di dalam Yesus Kristus.
Daftar
pustaka
Berkhof, Louis, Teologi
Sistematika 2: Doktrin Manusia, Surabaya: Momentum, 2011.
McComiskey, Thomas Edward, The Covenants of Promise, Grand Rapids: Baker Book House,
1985.
Dumbrell, W. J. Covenant
and Creation: A Theology of Old Testament Covenant, New York:
Thomas
Nelson Publishers, 1984.
Szikszai,
Stephen, The Covenant in Faith and
History, Philadelphia: The Geneva Press, 1952.
Barth,
Christoph dan Barth-Frommel, Marie-Claire, Teologi
Perjanjian Lama 1, Jakarta:
Gunung
Mulia, 2010
Dryrness, William, Tema-Tema
dalam Teologi Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 1990.
Robertson, O. Palmer, Covenants: God’s Way with his People, Philadelphia: Great
Commission Publications, 1978.
[2]dalam versi terjemahan LAI
tidak terlalu kelihatan pernyataan Hosea mengenai perjanjian Allah dan Adam
yang telah dilanggar, namun dalam terjemahan KJV terlihat pernyataan tersebut. But they like men have transgressed the covenant: there
have they dealt treacherously against me (Hos 6:7 KJV). Terjemahan
ini sesuai dengan bahasa aslinya dan didukung terjemahan NAS.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar