Rabu, 22 Oktober 2014

KEJATUHAN ADAM DALAM KEJADIAN 3

PENDAHULUAN
            Dosa merupakan momok setiap manusia sebab dosa telah menjalar dalam setiap aspek kehidupan manusia, disadari atau tidak setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia berada dalam keberdosaan. Membahas tentang kejatuhan manusia dalam dosa ditemukan banyak teka-teki di dalamnya. Sebab tidak satupun manusia yang mengetahui proses terjadinya kejatuhan itu selain manusia pertama yang melakukannya. Alkitab tidak menjelaskan secara terperinci mengenai kronologis terjadinya dosa.
            Alkitab hanya menjelsakan bahwa dosa timbul akibat dari ketidaktaatan Adam dan Hawa terhadap larangan Allah. Akibat kejatuhan tersebut seluruh umat manusia tanpa terkecuali menanggung kesalahan yang dilakukan oleh Adam. Umat manusia menanggung kesalahan Adam dikarenakan Adam adalah kepala perjanjian dan wakil manusia dihadapan Allah. Dalam makalah ini penulis menjelaskan mengenai kejatuhan Adam dalam kejadian 3.
 KEJATUHAN ADAM DALAM KEJADIAN 3
a.      Siapakah Adam?
Membahas mengenai kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka perlu sedikit membahas tentang seseorang yang memiliki andil besar dalam kejatuhan itu ialah Adam. Kitab Kejadian yang memuat narasi tentang kejatuhan ditulis oleh Musa[1] sekitar tahun 1445 -- 1405 SM. Kitab Kejadian 1-3 berbeda dengan genre sastra yang ditemukan dalam kitab-kitab lainnya. Biasanya, para penulis Alkitab memiliki akses kepada orang-orang  maupun dokumen-dokumen yang dapat memberikan informasi kepada penulis.[2] Penulis kitab Kejadian, Khususnya Kejadian 1-3 tidak memiliki akses informasi yang akurat mengenai peristiwa tersebut. Kitab Kejadian mengatakan bahwa manusia pertama yang diciptakan oleh Allah ialah Adam. Mengenai Adam, timbul perdebatan apakah Adam merupakan pribadi historis atau simbolis. Beberapa tokoh yang menolak historisitas Adam ialah Karl Barth, Emil Bruner, H. M Kuitert. Karl Barth sendiri mengatakan bahwa: Adam bukanlah pribadi historis melainkan contoh representatif dari semua manusia yang mengikutinya.[3]
Adam dikisahkan untuk membantu setiap orang memahami realitas penebusan Kristus. Mempelajari pribadi Adam sebagai simbol mengenai asal-usul manusia dan tindakan manusia yang tidak taat kepada Allah. Anthony A. Hoekema menyanggah pernyataan bahwa Adam bukanlah pribadi historis, lebih lanjut dia mengatakan:[4]
”Saya yakin, penyangkalan bahwa Adam dan hawa hanyalah simbol atau “model pengajaran,” disebabkan oleh pemahaman yang tidak tepat atas Alkitab. Kejadian bukanlah satu-satunya acuan Alakitab pada manusia pertama. Silsilah dalam 1 Tawarikh 1 dimulai dengan Adam (ay. 1), dan jelas melihatnya sebagai pribadi historis. Sama dengan itu, silsilah Yesus di dalam Lukas 3 diakhiri dengan kata-kata berikut:”anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”(ay. 38). Ayat ini dengan jelas menempatkan Adam ada bukan melalui peranakan alamiah, melainkan melalui tindakan penciptaan.
Kejadian 2:7 mengenai penciptaan manusia penulis menggunakan kataהָֽאָדָ֗ם . pertikel הָֽ menegaskan bahwa manusia pertama itu ada dan diciptakan melalui tindakan langsung Allah. Kejadian 3:12 juga menggunakan partikelהָֽ  untuk menyatakan historisitas dari peristiwa kejatuhan manusia, sekaligus menyatakan bahwa Adam adalah pribadi historis. Historisitas mengenai Adam mendapat dukungan penuh dari penulis Perjanjian Baru, terutama Paulus. Paulus dalam suratnya banyak menyinggung mengenai peristiwa kejatuhan manusia sebagai suatu peristiwa historis dan Adam sebagai pribadi historis (bdk. Rm. 5:12-21; 1 Kor 15:21-22; 1 Tim 2:13,14; Yds 1:14).
b.      Kejatuhan Adam.
Kejatuhan Adam merupakan sebuah peristiwa historis yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, sebab Adam adalah sosok perwakilan manusia yang mewakili manusia dihadapan Allah. Adam merupakan kepala perjanjian, dimana perbuatan ataupun ketaatannya dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kejatuhan Adam dimulai dari lemahnya pembimbingan kepada Hawa. Iblis mengetahui sisi lemah daripada Hawa, sebab Hawa bukan orang yang mendapatkan perintah langsung dari Allah.
            Pada awal pasal 3 ini dimulai dengan percakapan Hawa dengan iblis. Ular dikatakan sebagai makhluk yang licik dari segala binatang yang hidup (ayt. 1). Ular ini digunakan oleh iblis untuk menggoda Hawa dengan memutar balikkan fakta firman Tuhan. ular mengatakan “karena Tuhan berkata: jangan kalian makan semua pohon di kebun ini” (ayt. 1b bdk pasal 2:16).[5] Kata jamak yang dipakai penulis Kejadian mengungkapkan bahwa Hawa tidaklah sendirian waktu iblis berbicara kepadanya, melainkan Adam bersama-sama dengan Hawa pada saat itu. Adam mengetahui persis bahwa perkataan iblis itu salah, namun Adam membiarkan Hawa menjawab perkataan iblis itu dengan firman Tuhan yang telah ditambahi oleh Hawa. Hawa menjawab “kecuali buah dari pohon yang di tengah-tengah kebun itu, Allah berkata: jangan kalian memakannya dan jangan kalian sentuh sehingga kalian mati”.[6] Perkataan Hawa bahasa aslinya ditambahkan kata פֶּן yang berarti tidak atau sehingga.
            Percakapan ular bukan hanya tertuju kepada Hawa saja, tetapi juga kepada Adam, sebab frasa yang digunakan penulis dalam perkataan iblis menggunakan kata ganti orang kedua jamak bukan tunggal. Penggunaan kata ganti orang kedua jamak yang dipakai oleh penulis menggambarkan kebersamaan Adam dan Hawa, sekaligus ingin menunjukan bahwa Adam dengan sengaja membiarkan Hawa untuk mengambil keputusan. Peran Adam sebagai kepala perjanjian seakan-akan digantikan oleh Hawa dengan keputusan-keputusan yang telah diambilnya. Adam seharusnya dapat mencegah Hawa untuk tidak mengambil keputusan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu sebab Adam bersama-sama dengan dia pada saat itu.

c.       Akibat Kesalahan Adam.
            Ketika Adam dan Hawa telah memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat barulah merekan menyadari bahwa mereka telanjang. Setelah menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan mereka bersembunyi dari Allah karena rasa malu. Anthony A. Hoekema mengatakan: perasaan malu Adam dan Hawa merupakan tanggapan langsung dari hati nurani yang bersalah.[7] Pertama kali yang Allah cari ialah Adam karena Adamlah yang menjadi kepala perjanjian bukan Hawa. Sebagai wakil manusia Adam memiliki tanggungjawab yang sangat besar dan tanggungjawab itu tidak dapat dilakukan dengan baik, sehingga Adam gagal dan jatuh ke dalam dosa bersama dengan Adam.
            Allah memberikan hukuman kepada setiap pribadi yang terlibat aktif dalam pelanggaran terhadap perintah Allah.

1.      Hukuman kepada Ular.
            Ular dipakai oleh iblis untuk menggoda Hawa dengan kelicikannya dan Allah mengutuk ular diantara binatang lainnya. LAI menterjemahkan kutukan Allah kepada ular dengan “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.” Ayat ini bukan berarti menjelaskan bahwa dahulu ular berjalan dengan kaki atau gaya berjalan yang lain dari sekarang ini dan Alkitab juga tidak menjelaskan tentang hal itu. Mengenai debu tanah menjadi makanan ular, hal ini jangan semata-mata dijelaskan bahwa debulah yang menjadi makanan ular, tetapi untuk menegaskan bagaimana ular benar-benar berjalan dengan perutnya.
2.      Hukuman kepada Hawa.
            Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu" Gen 3:16 ITB. Allah menghukum Hawa dengan kesedihan dan kesakitan saat melahirkan akibat menerima godaan iblis dan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Hawa akan merasakan kesakitan yang luar biasa bahkan tidak jarang wanita yang melahirkan meninggal. Hukuman yang timbul dari dosa ialah penderitaan, sebab gambar dan rupa Allah telah rusak bersama dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa.
3.      Hukuman kepada Adam dan kutukan kepada Bumi.
            Allah memberikan hukuman kepada Adam untuk bekerja dengan susah payah. Sebelum Adam jatuh dalam dosa, Adam tidak perlu bersusah payah bekerja untuk mencukupi kebutuhannya karena Allah telah menyediakan semuanya di taman eden. Pengusiran manusia dari taman eden mengindikasikan hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak. Selain itu, tanah juga mnedapatkan kutukan akibat kejatuhan manusia itu. Tanah sebelumnya tidak mengeluarkan semak duri, tetapi ketika manusia jatuh dalam dosa, tanah mengeluarkan semak duri sebagai tanda bahwa manusia harus bersusah payah bekerja untuk mendapatkan makanannya.

d.      Pengaruh Kejatuhan Adam bagi Masa Kini.
Kejatuhan Adam merupakan kegagalan Adam sebagai kepala perjanjian dan perwakilan mansuia dihadapan Allah. Kejatuhan Adam mengakibatkan dosa asal (kerusakan total) manusia dihadapan Allah. Manusia tidak memiliki kehendak baik yang mutlak, tetapi kebaikan yang dilakukan manusia hanyalah kebaikan relatif yang dilakukan dalam keberdosaan. Dosa asal mengakibatkan manusia melakukan dosa-dosa aktual lainnya. Fakta dosa dalam kehidupan manusia tidak dapat dihindari dan tidak dapat dicegah. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, keadilan dan penghakiman menuliskan mengenai fakta dosa yang mengikat kehidupan manusia ialah kesengsaraan, dosa dan kematian.[8]
Pengaruh dosa asal dalam kehidupan masa kini ialah manusia masa kini telah dilahirkan dalam keadaan berdosa. Manusia ikut menanggung kesalahan yang dilakukan oleh Adam. Menanggung kesalahan Adam bukan berarti manusia bertanggungjawab atas dosa orang lain, tetapi perlu diingat bahwa Adam adalah kepala perjanjian dan wakil manusia dihadapan Allah. Dosa asal juga mencemari seluruh aspek moral manusia dab bukan status manusia dihadapan hukum Allah. Kesalahan asal sebagai pencemaran natur manusia akibat dosa dan menghasilkan dosa. Sebagai akibat dari ketercakupan manusia di dalam kesalahan Adam dan semua manusia dilahirkan dalam kondisi rusak total.[9]
KESIMPULAN
            Tokoh Adam merupakan pribadi historis bukan sekedar simbol atau cerita tentang kejatuhan manusia. Mempercayai Adam sebagai seorang pribadi yang historis akan mempermudah dalam menerima semua konsekuensi dosa yang telah terjadi. Kesalahan Adam mengakibatkan semua manusia hidup dalam keberdosaan. Fakta dosa sangat nyata dalam kehidupan manusia bahkan seorang manusia yang masih dalam kandunganpun sudah berdosa, meskipun belum melakukan dosa aktual seperti yang dilakukan oleh orang dewasa.
            Dosa berada dalam kedaulatan Allah yang mahakuasa, tetapi Allah tidak terlibat dalam dosa yang dilakukan oleh manusia. Manusia memiliki kehendaknya sendiri di dalam kuasa kehendak Allah. Dosa-dosa aktual yang dilakukan manusia berasal dari dosa asal yang diwariskan oleh Adam.
DAFTAR PUSTAKA
Bonhoeffer, Dietrich, Creation and Fall: A Theological Interpretation of Genesis 1-3, New York: Macmillan Publishing, 1978.
Gowan, E. Gowan, From Eden To Babel: A Commentary on the Book of Genesis 1-11, Michigan: Grand Rapids.
Kvam, Kristen E. Schearing, Linda S. Ziegler, Valarie H. Ed, et all, Eve and Adam:Jewish, Christian, and Muslim readings on Genesis and Gender, USA: Indiana University Press, 1999.
Hadiwiyata, A.S. ed, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta: KANISIUS, 2002.
Tong, Stephen, Dosa, Keadilan dan Penghakiman, Jakarta: LRRI, 1996.
Berkhof, Louis, Teplogi Sistematika 2: Doktrin Manusia, Surabaya: Momentum, 2008.
Piper, John, Dosa-Dosa Spektakuler dan Tujuan Globalnya bagi Kemuliaan Kristus, Surabaya: Momentum, 2012.
Bakker, Dr. F.L, Sejarah Kerajaan Allah 1, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
Hoekema, A. Anthony, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah, Surabaya: Momentum, 2008.
Hill, Andrew E. & Walton, John H., Survei Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2013




       [1]penulis mempercayai dan setuju pada tradisi yang menyatakan bahwa Musa adalah penulis kitab Pentateukh, termasuk kitab Kejadian.
       [2]Anthony A. Hoekema, Manusia: Menurut Gambar Allah, (Surabaya: Momentum, 2008) 159.
       [3]Anthony A. Hoekema, Manusia: Menurut Gambar Allah, 146.
       [4]Anthony A. Hoekema, Manusia: Menurut Gambar Allah, 147.
       [5]ayat ini merupakan terjemahan bebas penulis dari bahasa aslinya kata kalian diambil dari kata תֹֽאכְל֔וּ  kata kerja qal imperfek orang kedua maskulin jamak sedang LAI menterjemahkannya dengan kata kamu.
       [6]terjemahan bebas penulis.
       [7]Anthony A. Hoekema, Manusia: Menurut Gambar Allah, 154.
       [8]Stephen Tong, Dosa, Keadilan dan Penghakiman, (Jakarta: LRRI, 1996) 3-4.
       [9] Anthony A. Hoekema, Manusia: Menurut Gambar Allah, 192.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar