Tuhan yang Meneguhkan
(Yohanes 21:15-23)
Perikop ini dilatarbelakangi oleh perikop sebelumnya, dimana
Petrus dengan murid-murid yang lain menjala ikan di danau. Yohanes yang pada
saat itu ikut mencari ikan, mencatat bahwa mereka tidak mendapatkan ikan sama
sekali semalam-malaman itu. Namun, ketika Tuhan Yesus menyapa mereka dan
menyuruh mereka menebarkan jala ke sebelah kanan, mereka baru mendapatkan ikan.
Yohanes mengenal bahwa orang yang menyuruh itu adalah Tuhan Yesus, sekali lagi Petruslah
yang pertama kali menyongsong Tuhan Yesus dan meninggalkan teman-temannya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kita semua tentunya
mengenal karakter Petrus. Bagaimana dia dengan seketika dan beraninya membela
Yesus, bahkan Yesus pernah berkata :” Maka Yesus
berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu
sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia."(Mat 16:23 ITB). Petrus
merupakan salah satu dari ketiga murid yang ada di lingkaran utama (bisa juga
dikatakan sebagai tangan kanan Yesus).
Terlepas dari apa yang Petrus lakukan pada waktu Tuhan Yesus
ditangkap, Petrus merupakan murid yang paling berani diantara yang lain dan
senantiasa maju pertama kali, walaupun sering melakukan kesalahan. Setelah
Yesus naik ke Sorga, Petruslah yang menjadi pemimpin rasul-rasul. Pada ayat 15
dikatakan setelah sarapan, Yesus berkata kepada Petrus : Simon, anak Yohanes,
apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini? Kata mereka ini dalam KJV
maupun NIV diterjemahkan dengan kata “these” dengan kata lain terjemahan yang
tepat adalah “apakah engkau mengasihi aku lebih dari ini? Pertanyaan Tuhan
Yesus yang pertama ini memiliki tiga arti yang cukup mendalam:
1.
Menyatakan
bahwa Petrus mengasihi lebih dari mengasihi perkerjaannya.
2.
Menyatakan
bahwa Petrus mengasihi lebih dari mengasihi teman-teman atau saudaranya.
3.
Menyatakan
bahwa Petrus mengasihi lebih dari murid-murid lain mengasihi Tuhan.
Pertanyaan ini untuk membandingkan kasih Petrus kepada Tuhan
lebih besar atau lebih kecil. Namun jawaban Petrus tidak menyatakan
membandingkan, dengan kata lain Petrus tidak berani menyatakan bahwa dia
mengasihi Tuhan lebih dari yang lain, namun keadaan pasrahlah yang dilakukan
Petrus untuk menyatakan kesungguhan kasihnya kepada Tuhan. Secara tidak
langsung Yesus ingin mendengar bahwa Petrus benar-benar mengasihi-Nya lebih
dari apapun dan siapapun. Bukan berarti Tuhann Yesus tidak tahu, namun ingin
mendengar pengakuan Petrus sendiri secara langsung.
Ayat tersebut sebenarnya bukan hanya berlaku kepada Petrus
untuk meneguhkan imannya, tetapi juga kepada kita. Coba kita tanyakan pada diri
kita masing-masing, apakah kita benar mengasihi Tuhan lebih dari apapun? Lebih
dari apa yang kita miliki? Pengakuan ini bukan hanya sekedar pengakuan secara
lisan saja, tetapi merupakan keteguhan iman kita bahwa tidak ada hal atau yang
lain yang lebih utama selain Tuhan.Pada waktu saya masih semester 1, saya merasa hidup saya sendirian, saya sempat ingin keluar dari STTIAA ini. Selama saya merantau dan jauh dari rumah baru kali itu saya merasa saya tidak layak untuk tetap tinggal. Ketika saya berdoa kepada Tuhan tentang keputusan saya tersebut, dengan jelas ayat 15 ini teringat di dalam doa saya. Saya diam sejenak untuk memastikan apakah itu cuma sekedar halusinasi atau memang Tuhan berbicara kepada saya. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tetap menjalani panggilan saya dan berusaha menjadi pribadi yang berkenan dihadapan Tuhan, meskipun sangat sulit untuk dilakukan.
Pernyataan untuk meneguhkan ini terlihat dari pengulangan sebanyak tiga kali oleh Tuhan Yesus kepada Petrus, dan diakhir pertanyaan yang ketiga Petrus dengan sedih hati menjawab pertanyaan Tuhan Yesus. Pertanyaan Yesus yang diajukan kepada Petrus sebanyak tiga bukan semata-mata karena Petrus telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, tetapi Yesus ingin menunjukkan betapa kerasnya ujian orang yang benar-benar mengasihi Dia untuk memurnikan kasihnya itu.
Petrus mengetahui maksud dari perntanyaan Yesus kepadanya, sehingga saat pertanyaan itu diulang untuk ketiga kalinya, Yohanes menuliskan “maka sedihlah hati Petrus”, saya kurang setuju dengan frasa sedihlah, frasa ini kurang begitu dalam maknanya, NIV dan KJV menterjemahkannya dengn kata grieved yang berarti berdukacita atau meratap. Petrus tahu betapa beratnya konsekuensi yang harus dia tanggung untuk mengasihi Tuhan, disisi lain Petrus dengan penuh kerendahan hatinya menyerahkan dirinya untuk mengasihi Yesus. Penyerahan diri ini ditunjukan dalam frasa Engkau tahu, Petrus ingin menyatakan kemahakuasaan Allah bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan, jikalau Petrus berbohong dengan pernyataannya Tuhan pastinya tahu. Pernyataan Petrus ini juga menunjukkan bahwa Ia tidak sedang berapi-api atau mengasihi sesaat saja, tetapi kasih itu sungguh-sungguh tertanam dalam hatinya, setelah ia menyaksikan penyaliban dan penyiksaan Yesus.
Inilah cara Tuhan untuk kembali meneguhkan panggilan Petrus, sebab dalam tiga kali pertanyaan tentang kasih, Tuhan Yesus memberikan perintah untuk menggembalakan domba-dombaNya. Setelah Petrus mendapat peneguhan dari Tuhan Yesus mengenai kasihnya kepada Tuhan, kehidupan Petrus berubah drastis. Kisah Para Rasul mencatat pekerjaan-pekerjaan hebat yang dilakukan oleh Petrus.
SOLI DEO GLORIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar