Minggu, 21 Desember 2014

roma 1:16-17

Pendahuluan
Mencari kebenaran di dalam Alkitab haruslah menggunakan metode eksegese, yakni menggali apa yang menjadi maksud dan tujuan penulis dalam teks pada masa itu ditarik kepada jaman eksegetor melalukan eksegese untuk mendapatkan kebenaran dari teks dan maksud penulis yang sesungguhnya, bukan dengan menggunakan metode eisegese yang menarik konteks jaman ini dan mencari ayat Alkitab sebagai pendukungnya sehingga mengesampingkan makna teks yang sebenarnya.
Pembahasan makalah ini akan memunculkan eksegese Roma 1:16,17 dengan menggunakan metode eksegese dari buku New Testament Exegesis karangan Gordon D. Fee sebagai buku acuan langkah-langkah eksegese. Kiranya hasil eksegese ini memberikan pemahaman dan pengertian yang baru mengenai Roma 1:16,17.
Alasan Memilih Perikop
Eksegetor memilih Roma 1:16-17 untuk menjadi bahan eksegese dikarenakan, ayat 16-17 merupakan satu kesatuan dan ditempatkan dalam satu perikop. Selain itu ayat 16-17 merupakan tema dari Surat Roma ini. Dimana Paulus ingin menyampaikan kebenaran Allah yang terkandung di dalam Injil. Dalam pemilihan perikop ini eksegetor mencari beberapa terjemahan Alkitab untuk memastikan apakah perikop yang dipilih oleh eksegetor merupakan satu kesatuan dan ditempatkan diperikop yang sama.
Eksegetor menggunakan lima terjemahan Alkitab diantaranya: The Ryrie Study Bible (NAS), New Internation Version (NIV), Harper Study Bible (Revised Standard Bible), The Jerusalem Bible dan Indonesia Terjemahan Baru. Dari kelima terjemahan Alkitab tersebut hanya NIV yang berbeda dalam penempatan perikopnya, NIV menempatkan ayat 16-17 digabung menjadi satu perikop dari ayat 8-17.
Latar belakang Surat Roma
Penulis dan Penerima Surat.
Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus sekitar tahun 57 M dengan tema terdapat dalam Roma 1:16-17 mengenai “Injil adalah Kekuatan Allah yang Menyelamatkan”.[1] Penerima Surat Roma ialah jemaat yang tinggal di Roma, baik orang Yahudi ataupun orang Yunani. Jemaat Roma terdiri dari orang Yahudi dan orang Yunani.[2] Keadaan jemaat Roma bisa dilihat dalam pasal 1 dan juga dalam pasal 9-11 banyak menuliskan mengenai kepercayaan orang Yahudi dan Abraham sebagai bapa orang Yahudi. Mengenai siapa pendiri jemaat Roma masih menjadi perbincangan sampai saat ini, ada beberapa pendapat yang dikemukakan mengenai pendiri jemaat Roma, antara lain:
1.      Jemaat Roma didirikan oleh Petrus pada masa kaisar Klaudius sekitar tahun 42 M. namun, pendapat ini mendapat sanggahan sebab di dalam Surat Roma sama sekali tidak menyebutkan nama Petrus. Selain itu ada tradisi yang mengatakan bahwa Petrus dan Markus datang ke Roma setelah tahun 42 M.
2.      Orang-orang yang hadir pada hari Pentakosta dalam Kisah Para Rasul yang menyebutkan bahwa ada pendatang-pendatang dari Roma (bdk Kis 2:10).
Paulus belum pernah sekalipun mengunjungi Roma pada saat surat Roma ini dikirim (bdk. Roma 1:13). Pada waktu surat ini ditulis, jemaat Roma sedang mengalami penderitaan karena penganiayan yang dilakukan oleh Kaisar Nero pada waktu itu. Orang Kristen manjadi sasaran penganiayan.
 Tujuan Penulis
Paulus meskipun belum pernah datang ke Roma, namun Paulus mendapatkan berita mengenai keadaan jemaat di Roma kemungkinan besar dari Akwila dan Priskila. Tujuan Paulus menulis Surat Roma ialah:[3]
1.      Karena jemaat Roma rupanya mendengar kabar angin yang diputarbalikkan mengenai berita dan ajaran Paulus (Rom 3:8; 6:1-2,15), Paulus merasa perlu untuk menulis Injil yang telah diberitakannya selama dua puluh lima tahun.
2.      Dia berusaha untuk memperbaiki beberapa persoalan yang terjadi di dalam gereja karena sikap salah orang Yahudi terhadap mereka yang bukan Yahudi (Rom 2:1-29; 3:1,9) dan orang bukan Yahudi terhadap orang Yahudi (Rom 11:11-36).
Sementara Donald Guthrie menambahkan mengenai tujuan Surat Roma:[4]
1.      Meringkaskan pengalaman Paulus.
2.      Memenuhi kebutuhan Pembacanya. Hal ini berkaitan dengan problematika yang ada dalam jemaat Roma mengenai pengajaran lain yang diterima jemaat yang berbeda dari apa yang telah dipaparkan oleh Paulus.
Penekanan-penekanan yang ada dalam Surat Roma.[5]
1.       Kasih Karunia. Kasih karunia dalam Surat Roma menggunakan kata χάριν kata ini muncul kurang lebih sebanyak 36 kali. Kata kasih karunia dalam surat Roma ini berhubungan dengan keselamatan orang percaya.
2.       Kuasa/kekuatan. Dalam bahasa Yunaninya δuναμις dipakai sekitar 2 kali dalam surat Roma. Kekuatan/ kuasa yang dimaksudkan ialah mengenai kekuatan Allah untuk menyelamatkan orang percaya.
3.       Dosa. Dalam bahasa Yunaninya ἁμαρτίαν dipakai sekitar 53 kali dalam Surat Roma.
Selain itu Donald Guthrie menyatakan ada masalah mengenai pasal 16 surat Roma ini tentang salam-salam yang diberikan Paulus. Lebih lanjut, Donald Guthrie mengungkapkan alasan-alasan pasal 16 merupakan bagian yang dikirim ke Efesus antara lain:[6]
1.      Paulus tidak pernah pergi ke Roma tetapi memberikan salam kepada jemaat di Roma. Hal ini dianggap tidak masuk akal, lebih tepatnya salam ini diberikan kepada jemaat Di Efesus sebab Paulus berada sekitar 3 tahun di Efesus. Lebih lanjut, nama orang yang tercantum di dalam salam ini tidak satupun yang tercatat di dalam surat-surat yang dikirim dari Roma.
2.      1 Korintus yang ditulis sebelum Surat Roma juga mencatat salam dari Akwila dan Priskila yang tinggal di Efesus (bdk 1 Kor 16:19; Rom 16:3; 2 Tim 4:19).
3.      Epenetus (Rom 16: 5) disebut sebagai buah pertama di daerah Asia. Pernyataan ini dianggap sesuai jika Epenetus tinggal Efesus dari pada di Roma.
4.      Pujian kepada Febe dianggap lebih mungkin diberikan kepada orang yang sudah kenal baik daripada jemaat yang baru dikunjungi.
5.      Peringatan Paulus dalam Rom 16:17-19 berfokus kepada perpecahan antara orang Yahudi dan Yunani, peringatan ini dianggap melawan antinomianisme[7] yang mengancam jemaat Efesus.
6.      Pasal 15 kelihatan seperti kesimpulan Surat Roma, yang dapat memperkuat anggapan bahwa pasal 16 ditambahkan saat surat Roma disebarkan.
Garis Besar Surat Roma
Garis besar Surat Roma, penulis lebih condong kepada pemikiran Adina Chapman dalam bukunya Pengantar Perjanjian Baru, sebagai berikut:
Salam pembukaan (1:1-15)
Tema surat       (1:16-17)
I.         Injil yang dinyatakan kepada Paulus (1:18-11:36)
1.      Semua orang terlibat dalam dosa (1:18-11:36)
a.         Keadaan dan penyelewengan orang-orang bukan Yahudi (1:18-2:16)
b.        Keadaan dan penyelewengan orang Yahudi (2:17-3:18)
c.         Semua orang terlibat dalam dosa (3:19-20)
2.      Jalan kebenaran (3:21-5:21)
a.       Karunia Allah menjadi kebenaran manusia melalui iman (3:21-31)
b.      Abraham dibenarkan karena imannya (4)
c.       Kebenaran Allah ditawarkan kepada semua orang melalui iman dan Kristus Yesus (5)
3.      Jalan hidup menuju kesucian hidup (6-8)
a.       Hidup dalam kemenangan melalui penyerahan anggota-anggota tubuh kita kepada Allah (6)
b.      Pendirian di bawah hukum Taurat dan dosa (7)
c.       Kemenangan dalam kuasa Roh Allah (8)
4.      Pilihan Allah terhadap orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (9:1-11:36)
a.       Kedaulatan Allah terhdap bangsa pilihan-Nya (9:1-29)
b.      Kesempatan diberikan kepada bangsa-bangsa lain (9:30-10:21)
c.       Sisa kaum pilihan Allah diselamatkan (11:1-36)
II.      Kehidupan orang percaya (12:1-15:13)
1.      Kelakuan dan kewajiban orang Kristen terhadap sesamanya (12:1-21)
2.      Kelakukan orang Kristen terhadap pemerintahnya (13:1-7)
3.      Kewajiban-kewajiban orang Kristen dan hukum Taurat (13:8-14)
4.      Kesimbangan dalam mempraktekan sikap-sikap rohani di antara sesama orang percaya (14:1-15:13)
Nasehat-nasehat terakhir dan salam penutup (15:14-16:27)
Roma 1:16-17.
Untuk Injil aku tidak menjadi malu,
Karena
Injil adalah kekuatan Allah sendiri
                      Dalam
                      keselamatan setiap orang percaya,
                                pertama orang Yahudi
                                dan juga
                                orang Yunani.
Sebab di dalamnya
menyingkapkan kebenaran Allah,
yang keluar dari iman ke dalam iman,
seperti ada tertulis :”tetapi orang benar hidup oleh iman.”
Aparastus Roma 1:16-17
Ayat 16
penambahan
Kata yang ditambahkan pada kata εαγγλιονberarti kabar baik ditambahkan kata tou cristou berarti dari Kristus
Pendukung penambahan :
Dc        : ditemukan pada abad ke 5
Ψ         : Athous lavrensis atau uncial dari abad ke- 9/10
Pendukung tidak ada penambahan :
P26vid    : tampaknya papirus ditemukan pada sekitar tahun 600
a          : codex Sinaiticus pada tahun 330-360
A         : codex Alexandrinus di salin pada abad ke-5
B         : codex Vaticanus disalin pada abad ke-4
C         : codex Cairensis disalin pada tahun 894-895
D*       : codex Claromontanus pada abad ke-6
G         : uncial dari abad ke 9
33.       : minusculle 33 pada abad ke-9
81.       : minusculle pada tahun 1044
1506.   : minusculle pada tahun 1320
1739.   : minusculle pada abad ke-10
1881.   :minusculle pada abad ke-14 di Sinai
2495    : minusculle pada abad ke-14/15 di Sinai
pc        : pauci beberapa salinan
lat        : bagian dariterjemahan Latindari Perjanjian Lama danBaru
sy         : codex Syrer sekitar abad ke-4/5 di Sinai
co        : versi terjemahan koptik
eksegetor memilih mengikuti Nestle-Aland yang tidak menambahkan kata tou cristou dalam penyelidikan penulis, sebab ada salinan teks yang lebih tua tidak menambahkan kata tersebut dalam salinannya.
Penghilangan
Kata yang dihilangkan ialah kata ες σωτηραν berarti menyelamatkan
Pendukung penghilangan :
G         : uncial dari abad ke 9
Eksegetor tetap mempertahankan penggunaan kata ες σωτηραν dalam terjemahan dan pemilihan teks yang dilakukan oleh esksegetor dengan alasan untuk memperjelas karya keselamatan yang terdapat di dalam Injil. Selain itu kata ες σωτηραν menjadi dasar kekristenan untuk tidak malu mengakui dan menceritakan mengenai Injil kepada orang lain.
Kata yang dihilangkan πρτον berarti pertama
Pendukung penghilangan :
B         : codex Vaticanus disalin pada abad ke-4
G         : ditemukan sekitar abad 9
sa         : sahidics
Mcion  : Marcion pada abad ke-2
Eksegetor memilih mengikuti teks salinan lama marcion yang menghilangkan kata πρoτον dalam teks yang sedang diteliti dan juga tidak memasukan terjemahan kata πρoτον dalam terjemahan akhir eksegetor, sebab salinan yang lebih mendekati pada abad kedua menghilangkan kata πρoτον.
Ayat 17
Penambahan kata mou pada kata δiκαιος berarti kebenaran atau benar
Pendukung penambahan :
C*       : ditemukan pada abad ke 5
Eksegetor memilih tetap mempertahankan tidak menggunakan penambahan kata mou meskipun pendukung penambahan ini dalam salinan yang cukup tua yakni abad ke-5, namun eksegetor mempertahankan teks dalam Netle-Aland.
Langkah 6 eksegese analisa tata bahasa
ποκαλπτεται κ πστεως ες πστιν, berarti menyingkapkan keluar dari iman ke dalam iman.
ποκαλπτεται merupakan kata kerja present indikatif pasif orang ketiga tunggal dari kata ποκαλπτω kata ini merupakan kata kerja yang sedang dilakukan oleh orang ketiga namun dalam bentuk pasif bagi yang dikenai pekerjaan itu.

Analisa kata
δuναμις : memiliki arti kemampuan untuk melakukan aktivitas tertentu atau untuk menjalani pengalaman-kemampuan. Kami berada di bawah tekanan besar jauh melampaui kemampuan kita (untuk bertahan) 2 Kor 1: 8. Dalam sejumlah bahasa setara dengan kemampuan di 2 Kor 1:8 dapat dinyatakan hanya oleh modal seperti bisa, misalnya, jauh melampaui apa kita dapat mampu atau bertahan.” Dalam konteks ini kata δuναμις memiliki arti kemampuan Tuhan untuk melakukan hal yang melampui kemampuan manusia, hanya Tuhanlah yang dapat melaksanakannya. Kata ini juga bermakna bahwa manusia tidak memiliki kemampuan atau kekuatan untuk menyelamatkan diri dari kuasa dosa, tetapi Allah lah yang memiliki kekuatan dan inisiatif untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa.
σωτηρiαν : memiliki arti untuk menyampaikan, untuk menyelamatkan, untuk membuat aman, pembebasan, untuk menyelamatkan dari bahaya dan untuk mengembalikan ke dalam keadaan keselamatan dan kesejahteraan, dan saat ia mulai tenggelam, ia berteriak, Tuhan, selamatkan saya (Mt14.30). Ia berpikir bahwa orang-orangnya sendiri akan mengakui bahwa Allah akan memberikan pembebasan mereka melalui dia (Kis 7:25). Dalam konteks ini kata σωτηρiαν merupakan tindakkan penyelamatan Allah untuk orang berdosa dengan tujuan supaya kembali bersama-sama dengan Allah tanpa melihat keadaan manusia sebelumnya.
Δικαιοσuνη : memiliki arti kebenaran atau pembenaran, kebenaran yang dimaksud ialah tindakan untuk melakukan apa yang Allah minta-'kebenaran, melakukanapa yang Allah minta, melakukan apa yang benar. Dalam konteks ini Δικαιοσuνη memiliki arti kebenaran atau anugerah Allah yang diberikan kepada manusia dalam rangka karya keselamatan Allah. Selain itu makna kata ini ialah pembenaran yang berarti dengan Injil manusia dibenarkan oleh Tuhan untuk dapat memperoleh keseamatan dan kesempurnaan sesuai dengan standar Allah sendiri.

Latar belakang sejarah-budaya
Surat Roma memang berbeda dari surat-surat lain yang dikirm oleh Paulus. Perbedaan yang mencolok antara surat Roma dengan surat yang lain ialah surat Roma ditujukan kepada jemaat yang sama sekali belum dikenal oleh Paulus, bahkan Paulus tidak memiliki hubungan dengan pendiri jemaat Roma. Hal inilah yang membuat Paulus tidak banyak menyinggung masalah-masalah praktis dalam surat Roma. Dari surat-surat yang dikirim oleh Paulus, surat Romalah yang paling mendekati sebagai suatu risalah teologis.


Latarbelakang Orang Yahudi.
Pada saat itu Yahudi di bawah penjajahan orang Romawi. Kemungkinan besar orang Yahudi yang datang di Roma sebagai pedagang dan juga karena adanya penganiayaan terhadap orang kristen di Yerusalem. Orang Yahudi ialah orang yang mengaku umat pilihan Allah, namun mereka menolak Anak Allah yang datang ke dunia dalam Yesus Kristus. Ironisnya orang Yahudi selalu menganggap bahwa diri mereka secara langsung termasuk umat pilihan Allah hanya karena dilahirkan sebagai orang Yahudi. Oleh sebab itu Paulus menyatakan bahwa bukan orang Yahudi secara jasmani yang dipilih Allah sebagai umat pilihanNya, terlebih lagi orang Yahudi secara rohanilah yang menjadi umat pilihan Allah.
Latarbelakang Orang Yunani
Pengaruh filsafat Yunani sangat besar pada masa pemerintahan Romawi. Zaman keemasan Yunani klasik pada masa Pericles cukup mengerikan dan dalam kebingungan selama tiga puluh tahun dari perang Peloponnesia, dan kondisi Yunani terus bertumbuh selama beberapa dekade berikutnya. Perpecahan politik meningkat dan perpecahan di dalam negeri dengan adanya perang internal tidak pernah berakhir. Upaya untuk menggantikan sisa hegemoni dari Sparta dan Atena oleh republik federal, tetapi mereka tidak berhasil. Diparuh kedua abad ke-IV SM, hegemoni Mecedonia membawa solusi berumur pendek; tapi bencana baru muncul yang disebabkan oleh kekuatan eksternal, yaitu kerajaan helenistic dan Roma.
Situasi ekonomi juga memburuk selama abad ke-IV SM. Tetapi, proses industrialisasi dimulai pada abad ke-V SM. Perindistrian dengan menggunakan tenaga kerja budak, industri manufaktur meningkat itu menghasilkan barang-barang konsumsi, senjata dan peralatan lainnya untuk berperang sekarang terus meningkat karena pertempuran terus-menerus.
Mengapa malu?
Orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah umat pilihan Allah sejak zaman Abraham. Selain itu mereka juga menanti-nantikan kedatangan Mesias sebagai raja yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Namun mereka menolak kedatangan Yesus Kristus hanya karena tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
Sementara orang Yunani mengandalkan rasio mereka untuk menilai segala sesuatu. Orang Yunani sangat sulit menerima ajaran yang tidak masuk akal mereka, sebab setiap ada ajaran yang baru, mereka senantiasa membawa ke aeropagus untuk diuji. Jika ajaran itu tidak sesuai dengan rasio mereka, maka ajaran itu dianggap sebagai suatu kebodohann apalagi menyangkut kebangkitan orang mati. Kebangkitan orang mati menurut mereka sangat tidak masuk akal.
Sifat formal surat
Perbedaan-Perbedaan dalam Sifat
Surat Roma memang berbeda dari surat-surat lain yang dikirm oleh Paulus. Perbedaan yang mencolok antara surat Roma dengan surat yang lain ialah surat Roma ditujukan kepada jemaat yang sama sekali belum dikenal oleh Paulus, bahkan Paulus tidak memiliki hubungan dengan pendiri jemaat Roma. Hal inilah yang membuat Paulus tidak banyak menyinggung masalah-masalah praktis dalam surat Roma. Dari surat-surat yang dikirim oleh Paulus, surat Romalah yang paling mendekati sebagai suatu risalah teologis.
Aspek-Aspek Persuratan
Bagian surat yang sedang dieksegesis merupakan bagian inti surat Roma. Sebab bagian ini merupakan inti dari apa yang ingin disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Roma. Sebab beberapa latarbelakang perjanjian baru seperti Alkitab Hidup berkelimpahan, bukunya Donald Guthrie, The Ryrie Study Bible (NAS), dan Harper Study Bible (Revised Standard Bible). Sehingga penulis menyimpulkan bahwa Roma 1:16-17 merupakan bagian dari inti pokok surat Roma.
Konteks sejarah khusus
Surat Paulus kepada jemaat Roma ini salah satu bentuk surat yang isinya menegaskan mengenai teologi doctrinal, yang kemungkinan besar kurang dipahami oleh jemaat di Roma. Penegasan Paulus mengenai sangat jelas terlihat dalam surat ini yang tercatum dalam pernyataan pada kalimat pembuka ayat 16 dengan tegas menyatakan keyakinan Paulus tentang apa yang selama ini dipercayai dan dipegang teguh.
Pembaca mula-mula kemungkinan masih memiliki keragu-raguan dengan injil sebab latarbelakang pembaca mula-mula sebagai orang Yahudi dan Yunani yang menganggap injil sebagai batu sandungan dan juga kebodohan. Pembaca mula-mula menganggap apa yang dahulu dipercayai sebagai suatu kebenaran yang benar dan menganggap injil sebagai bentuk dari ketidakbenaran itu sendiri.
Mengingat keadaan jemaat mula-mula yang terpengaruh oleh helenisme yang cenderung menggunakan rasio, maka tidaklah heran jika keadaan jemaat Roma membawa pemahaman Injil dalam rasio dan memaksakan Injil untuk mengikuti rasio mereka. Tetapi jika mereka mau menundukan rasio mereka di bawah otoritas Injil, maka tidak sulit untuk menerima Injil sebagai kebenaran, sebab Injil adalah kebenaran yang mutlak dari Allah sendiri.
Kata Kunci
Injil
Kekuatan
Kebenaran
Gambaran ringkas
Injil bukanlah hal yang memalukan untuk diakui dan dipercayai, di dalam injil nyata kebenaran dan kekuatan Allah dalam karya keselamatan setiap orang percaya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Karya keselamatana ini telah dirahasiakan Allah sejak manusia jatuh dalam dosa sampai kepada penggenapannya di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Konteks sastra
Pada ayat ini merupakan pokok dari keyakinan rasul Paulus, rasul Paulus ingin meneguhkan jemaat di Roma mengenai injil yang ia beritakan. Inti dari ayat ini ialah mengenai pernyataan rasul Paulus yang tidak malu mengakui Injil yang menyelamatkan. Argumentasi Rasul Paulus ialah Injil merupakan kekuatan Allah yang memberi keselamatan bagi setiap orang percaya. Isi yang dimaksudkan oleh rasul Paulus ialah memegang teguh Injil dan tidak menyimpang dari kebenarannya, sebab Injil menyingkapkan kebenaran Allah yang membawa kepada iman. Inti teks ini ialah:
Keyakinan yang kokoh dalam Injil (tidak menjadi malu)
·         argumen: Injil adalah kekuatan Allah dalam karya keselamatan. Sebab di dalam Injil merupakan pengenapan dari janji-janji Tuhan untuk menyelamatkan manusia dari hukuman akibat dosa sejak manusia pertama kali jatuh dalam dosa.
·         Di dalam Injil menyingkapkan kebenaran Allah. Injil merupakan perwujudan janji Allah dan penggenapan dari hukum Taurat Musa. Di dalam Injil Tuhan telah menggenapi semua nubuatan para nabi mengenai Penyelamat manusia yang telah dinyatakan secara rahasia kepada bangsa Israel.
Konteks teologi dan Alkitab secara luas
Roma 1:16 jelas menegaskan tentang pengakuan Injil yang membawa keselamatan bagi setiap orang yang percaya dengan segenap hatinya. Rasul Paulus dengan tegas menyatakan keyakinannya akan Injil yang ia terima dan beritakan. Hal serupa juga dikatakan oleh Tuhan Yesus Kristus dalam Markus 8:38
Whosoever therefore shall be ashamed of me and of my words in this adulterous and sinful generation; of him also shall the Son of man be ashamed, when he cometh in the glory of his Father with the holy angels (KJV).”  Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus" (Mar 8:38 ITB). Menyatakan bahwa  orang yang menolak Injil dan malu mengakuinya dihdapan orang lain, Tuhanpun malu mengakui orang tersebut dihadapan Tuhan.
Pernyataan ini tercatat juga dalam Lukas 22:26, tentang pernyataan orang yang mengikut Tuhan Yesus Kristus haruslah ikut memikul salibnya dan menyangkal diri. Jadi setiap orang yang mengikut Tuhan Yesus Kristus haruslah bersedia menderita untuk mengabarkan Injil dan mengikut Tuhan Yesus Kristus, sebab mengikut Tuhan Yesus Kristus akan banyak mengalami penderitaan. Dalam rumusan lima pokok Calvinis yang disingkat dengan T-U-L-I-P menjelaskan mengenai rumusan karya keselamatan yang dilakukan oleh Allah. Memahami T-U-L-I-P dengan benar, maka akan lebih memudahkan untuk memahami alasan rasul Paulus mengatakan dengan tegas tidak malu mengakui Injil.
  
Sumber-sumber tambahan
Tafsiran Alkitab Wycliffe lebih menekankan orang memperoleh keselamatan ialah orang yang terus-menerus menanggap injil dengan percaya. Penafsiran Wycliffe ini tanpa melihat aspek alasan rasul Paulus kenapa menekankan bahwa dia tidak malu akan injil yang dianggap sebagai batu sandungan dan kebodohan, tetapi menjelaskan mengenai argumen rasul Paulus. Penekanan penulis wycliffe ialah mengenai kata percaya dan cenderung tidak menyinggung frasa dari ayat 16 itu sendiri, dengan kata lain, maksud daru penulis tidaklah terlihat dari hasil penafsiran ini. Sedang pada ayat 17 banyak menekankan pada aspek iman. Usulan untuk Tafsiran wycliffe seharusnya juga mengupas mengenai latarbelakang mengapa rasul Paulus menekankan bahwa ia tidak malu mengakui Injil, dengan demikian makna teks akan lebih jelas bagi pembaca saat ini dan tidak mengurangi isi teks untuk konteks pada waktu itu.
Pulpit Commentary lebih luas menekankan alasan rasul Paulus menyatakan dengan tegas bahwa ia tidak malu mengakui Injil yang dianggap batu sandungan dan kebodohan. Pulpit commentary sedikit mengulas mengenai pendapat orang Yahudi dan Yunani mengenai salib. Commentary ini memperkaya latarbelakang penafsiran dan maksud dari penulis kitab lebih terlihat. Pada ayat 17 Pulpit banyak membahas mengenai kebenaran dan iman, pembahasan keduanya cukup seimbang mengingat kedua kata ini cukup penting untuk mengetahui maksud dari teks itu sendiri. Kritik terhadap Pulpit Commentary, hasil penafsirannya kurang aplikatif terlalu banyak menganalisa kata-kata, seharusnya penafsir juga membawa maknanya ke dalam konteks masa kini.
Dari kedua tafsiran tersebut, penulis merasa dilengkapi oleh keduanya. Meskipun penekanan pada wycliffe cenderung memaksakan satu kata untuk menjelaskan makna yang terkandung dalam teks, namun penjelasan mengenai kata tersebut cukup memberikan alasan untuk senantiasa percaya kepada Injil. Sedang penekanan pada Pulpit commentary cenderung kepada analisa kata. Dengan mengabungkan kedua tafsiran ini maka akan mendapatkan makna teks yang sebanarnya. Penulis telah melakukan langkah-langkah eksegese dengan hasil yang tidak jauh dari kedua penafsiran diatas, sehingga penafsiran diatas memperlengkapi penulis.


Terjemahan akhir
Ο γρ παισχνομαι τ εαγγλιον, δναμις γρ θεο στιν ες σωτηραν παντ τ πιστεοντι, ουδαίῳ τε πρτον κα λληνι. (Rom 1:16 BGT)
δικαιοσνη γρ θεο ν ατ ποκαλπτεται κ πστεως ες πστιν, καθς γγραπται· δ δκαιος κ πστεως ζσεται. (Rom 1:17 BGT)
ayat 16. Aku tidak malu karena Injil[8], sebab Injil adalah kekuatan Allah dalam karya keselamatan[9] setiap orang percaya, pertama orang Yahudi dan orang Yunani.
Ayat 17. Sebab di dalamnya menyingkapkan[10] kebenaran Allah, yang keluar dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis:”tetapi orang benar hidup oleh iman.”
Kesimpulan
Pendahuluan
Perikop ini merupakan pokok pikiran rasul Paulus dalam penulisan surat Roma. Melalui surat Roma ini, rasul Paulus ingin menguatkan dan mengokohkan kepercayaan jemaat di Roma mengenai Injil yang sudah dipercayai dan dipegang teguh. Sebab itulah sebelum rasul Paulus memberikan pemahaman mengenai pengajaran-pengajaran yang lain, terlabih dahulu rasul Paulus menguatkan iman jemaat melalui perikop ini.
Tafsiran
Ayat 16. Aku tidak malu karena Injil, ini merupakan pengakuan langsung rasul Paulus kepada jemaat Roma supaya tetap memegang teguh Injil dan mengabarkannya kepada orang lain. Orang Yahudi percaya bahwa mereka adalah umat pilihan Allah sejak zaman Abraham. Selain itu mereka juga menanti-nantikan kedatangan Mesias sebagai raja yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Namun mereka menolak kedatangan Yesus Kristus hanya karena tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
Sementara orang Yunani mengandalkan rasio mereka untuk menilai segala sesuatu. Orang Yunani sangat sulit menerima ajaran yang tidak masuk akal mereka, sebab setiap ada ajaran yang baru, mereka senantiasa membawa ke aeropagus untuk diuji. Jika ajaran itu tidak sesuai dengan rasio mereka, maka ajaran itu dianggap sebagai suatu kebodohann apalagi menyangkut kebangkitan orang mati. Kebangkitan orang mati menurut mereka sangat tidak masuk akal.
Kekuatan Allah dalam karya keselamatan setiap orang percaya, hal ini menyatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah sendiri yang menyelamatkan orang percaya dari hukuman dosa. Kekuatan yang dimaksud ialah kekuatan Allah yang besar untuk membangun umatNya terus-menerus untuk hidup bersekutu dengan Allah. Kekuatan Allah ini merupakan anugerah bagi umatNya, bukan hanya sekedar kekuatan satu-satunya yang dimiliki oleh Tuhan, tetapi menyatakan bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat menyelamatkan manusia dari hukuman maut akibat dosa dan juga memulihkan kembali citra diri Allah di dalam manusia yang telah rusak akibat dosa. Tanpa kekuatan Allah ini manusia tidak akan pernah bisa mencapai keselamatan dan persekutuan kembali dengan Allah.
Makna kata kekuatan yang berasal dari kata δuναμις sering dikaitkan dengan dinamit padahal jelas-jelas memiliki makna yang sangat berbeda. Dinamit merupakan kekuatan yang digunakan untuk menghancurkan meskipun pada awalnya dibuat untuk tujuan kemanusiaan, tetapi berfungsi sebagai penghancur. Sedangkan kata δuναμις yang dimaksudkan ialah kekuatan yang menyelamatkan atau dengan kata lain kemampuan Tuhan yang hanya Tuhan yang dapat melaksanankannya.[11]Pertama orang Yahudi dan orang Yunani, kata ini menunjukan bahwa keselamatan pertama kali diperuntukan oleh orang Yahudi terlebih dahulu, sebab Allah telah memberikan hukum-hukum, perjanjian-perjanjian, janji-janji  bahkan Mesiaspun dilahirkan diantara kaum orang Yahudi (bdk. Rom. 9:4-5).
Tetapi banyak orang Yahudi yang menolak Kristus sebagai juruselamat karena juruselamat yang diharapkan oleh orang Yahudi ialah juruselamat secara duniawi. Akibat ketidakpercayaan orang Yahudi dan menolak Mesias yang telah datang, orang Yunani beroleh kesempatan untuk menjadi percaya kepada Allah dan memperoleh keselamatan. Orang-orang Yunani mendapatkan keselamatan karena iman kepada Tuhan Yesus Kristus oleh pemberitaan orang-orang percaya pada waktu itu. Sebab diluar Yahudi, semua orang dikatakan kafir karena menyembah berhala dan orang Yahudi mengklaim hanya merekalah yang menyembah Allah yang hidup dan benar. Kata orang Yahudi dan Yunani juga menunjuk pada mayoritas jemaat di Roma pada waktu itu.
Ayat 17. Sebab di dalamnya menyingkapkan kebenaran Allah, Injil membuka kebenaran Allah dalam karya keselamatan yang telah tersembunyi sejak pertama kali manusia jatuh dalam dosa. Rahasia injil tersembunyi dengan rapi di dalam Perjanjian Lama, meskipun para nabi menubuatkan dan menggambarkan mengenai karya keselamatan dalam Injil, namun tidak dinyatakan dengan jelas. Setelah Tuhan Yesus Kristus datang dan menggenapi semua rahasia dalam nubuatan tentang Injil barulah nyata bahwa karya yang selama ini tersembunyi telah disingkapkan di dalam Tuhan Yesus Kristus yakni kebenaran mengenai keselamatan dan pemulihan kembali hubungan antara manusia dengan Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus.
Kebenaran inilah yang keluar dari iman dan memimpin kepada iman, keluar dari iman yang dimaksud bukanlah kebenaran itu berada diluar iman, tetapi muncul dari iman yang sudah ada dan membawa kepada iman yang telah diperbaharui. Iman kepada Tuhan senantiasa terus-menerus diperbaharui seiring dengan bertambahnya pemahaman akan kasih karunia Tuhan. Oleh sebab itu rasul Paulus mengutip pernyataan nabi Habakuk yang mengatakan:”tetapiorang benar hidup oleh iman”. Imanlah yang memimpin seseorang kepada kebenaran, tanpa iman seseorang akan sangat sulit menemukan kebenaran, oleh sebab itu orang benar akan hidup di dalam iman yang telah dipercayai memberikan kehidupan.
Rumusan Teologis.
1. Injil Tuhan penyelamat. Injil yang dimaksud ialah pemberitaan mengenai karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus mulai dari kelahiran, kematian sampai kepada kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
2. Injil adalah kebenaran. Injil menyingkapkan kebenaran Allah yang telah lama dirahasiakan oleh Allah sampai kepada penggenapan karya keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
Penerapan.
Sebagai orang percaya sudah seharusnya bangga menjadi pengikut Kristus yang telah menyelamatkan setiap orang percaya dari hukuman maut. Rasa bangga terse but seharusnya diwujudkan atau dinyatakan dengan memberitakan kebanggaannya kepada orang yang belum pernah mendengarkannya.
Sama halnya dengan orang yang sedan berbahagia mendapat sesuatu yang sangat diinginkannya, maka dengan penuh sukacita akan menceritakannya kepada orang lain. Orang percaya mendapatkan anugerah yang sangat besar dari Tuhan, seharusnya lebih lagi berbahagia dan dengan penuh sukacita menceritakannya kepada orang lain.
Kepustakaan
Donald Guthrie. Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Vol. 2, Surabaya: Momentum, 2009.
Adina Chapman, Pengantar Perjanjian Baru, Bandung: Kalam Hidup, 1995.
D. Fee, Gordon, New Testament Exsegesis, Malang: SAAT, 2011.



[1]tema ini penulis ambil dari sofware Alkitab Sabda yang didasarkan pada Roma 1:16-17 sebagai tema utama penulisan Surat Roma.
[2]penulis lebih menerima teori komunitas campuran mengenai penerima surat Roma (termasuk juga keadaan jemaat di Roma) dari salah satu teori mengenai keadaan jemaat yang diungkapkan oleh Donald Guthrie. Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Vol. 2, (Surabaya: Momentum, 2009) 4.
[4]Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Vol. 2. 7-9.
[5]penekanan-penekanan ini diambil secara ringkas dari pemikiran Adina Chapman dalam bukunya “Pengantar Perjanjian Baru dan penambahan bahasa Yunani dari penulis untuk mempermudah memahami kata yang telah disusun oleh Adina Chapman. Adina Chapman, Pengantar Perjanjian Baru, (Bandung: Kalam Hidup, 1995) 56-57.
[6]Donald Guthrie, Pengantar Perjanjian Baru Vol. 2. 9-10.
[7]antinomianisme adalah anti terhadap hukum
[8]Dalam beberapa teks seperti teks mesoret abad 10menambahkan kata tou cristou yag berarti milik Kristus, jika diterjemahkan dengan kata yang diatas menjadi “Injil Kristus”, namun penulis lebih mengikuti NA26 yang tidak menambahkan kata tou cristou.
[9]Pada uncial abad ke 9 menghilangkan kata εiς σωτηρiαν yang berarti “keselamatan”, penulis lebih mempertahankan tetap menggunakan kata εiς σωτηρiαν supaya lebih jelas tujuan dari Injil tersebut.
[10]LAI menterjemahkan kata ποκαλπτεται dengan kata “nyata”, tetapi penulis menterjemahkan dengan “menyingkapkan”.
[11]Dikutip dari langkah 7 eksegese Roma 6:16,17

1 komentar: