PENDAHULUAN
Dosa merupakan momok setiap manusia
sebab dosa telah menjalar dalam setiap aspek kehidupan manusia, disadari atau
tidak setiap tindakan dan keputusan yang diambil oleh manusia berada dalam
keberdosaan. Membahas tentang kejatuhan manusia dalam dosa ditemukan banyak
teka-teki di dalamnya. Sebab tidak satupun manusia yang mengetahui proses
terjadinya kejatuhan itu selain manusia pertama yang melakukannya. Alkitab
tidak menjelaskan secara terperinci mengenai kronologis terjadinya dosa.
Alkitab hanya menjelsakan bahwa dosa
timbul akibat dari ketidaktaatan Adam dan Hawa terhadap larangan Allah. Akibat
kejatuhan tersebut seluruh umat manusia tanpa terkecuali menanggung kesalahan
yang dilakukan oleh Adam. Umat manusia menanggung kesalahan Adam dikarenakan
Adam adalah kepala perjanjian dan wakil manusia dihadapan Allah. Dalam makalah
ini penulis menjelaskan mengenai kejatuhan Adam dalam kejadian 3.
KEJATUHAN ADAM DALAM KEJADIAN 3
a.
Siapakah
Adam?
Membahas
mengenai kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka perlu sedikit membahas tentang
seseorang yang memiliki andil besar dalam kejatuhan itu ialah Adam. Kitab
Kejadian yang memuat narasi tentang kejatuhan ditulis oleh Musa[1]
sekitar tahun 1445 -- 1405 SM. Kitab Kejadian 1-3
berbeda dengan genre sastra yang ditemukan dalam kitab-kitab lainnya. Biasanya,
para penulis Alkitab memiliki akses kepada orang-orang maupun dokumen-dokumen yang dapat memberikan
informasi kepada penulis.[2]
Penulis kitab Kejadian, Khususnya Kejadian 1-3 tidak memiliki akses informasi
yang akurat mengenai peristiwa tersebut. Kitab Kejadian mengatakan bahwa
manusia pertama yang diciptakan oleh Allah ialah Adam. Mengenai Adam, timbul
perdebatan apakah Adam merupakan pribadi historis atau simbolis. Beberapa tokoh
yang menolak historisitas Adam ialah Karl Barth, Emil Bruner, H. M Kuitert.
Karl Barth sendiri mengatakan bahwa: Adam bukanlah pribadi historis melainkan
contoh representatif dari semua manusia yang mengikutinya.[3]
Adam dikisahkan untuk membantu setiap orang memahami realitas
penebusan Kristus. Mempelajari pribadi Adam sebagai simbol mengenai asal-usul
manusia dan tindakan manusia yang tidak taat kepada Allah. Anthony A. Hoekema
menyanggah pernyataan bahwa Adam bukanlah pribadi historis, lebih lanjut dia
mengatakan:[4]
”Saya yakin, penyangkalan bahwa Adam dan hawa hanyalah simbol atau
“model pengajaran,” disebabkan oleh pemahaman yang tidak tepat atas Alkitab.
Kejadian bukanlah satu-satunya acuan Alakitab pada manusia pertama. Silsilah
dalam 1 Tawarikh 1 dimulai dengan Adam (ay. 1), dan jelas melihatnya sebagai
pribadi historis. Sama dengan itu, silsilah Yesus di dalam Lukas 3 diakhiri
dengan kata-kata berikut:”anak Enos, anak Set, anak Adam, anak Allah”(ay. 38).
Ayat ini dengan jelas menempatkan Adam ada bukan melalui peranakan alamiah,
melainkan melalui tindakan penciptaan.
Kejadian 2:7 mengenai penciptaan manusia penulis
menggunakan kataהָֽאָדָ֗ם . pertikel הָֽ menegaskan bahwa manusia pertama itu ada
dan diciptakan melalui tindakan langsung Allah. Kejadian 3:12 juga menggunakan
partikelהָֽ untuk menyatakan historisitas dari peristiwa
kejatuhan manusia, sekaligus menyatakan bahwa Adam adalah pribadi historis. Historisitas
mengenai Adam mendapat dukungan penuh dari penulis Perjanjian Baru, terutama
Paulus. Paulus dalam suratnya banyak menyinggung mengenai peristiwa kejatuhan
manusia sebagai suatu peristiwa historis dan Adam sebagai pribadi historis
(bdk. Rm. 5:12-21; 1 Kor 15:21-22; 1 Tim 2:13,14; Yds 1:14).
b.
Kejatuhan
Adam.
Kejatuhan
Adam merupakan sebuah peristiwa historis yang pernah terjadi dalam sejarah
kehidupan manusia, sebab Adam adalah sosok perwakilan manusia yang mewakili
manusia dihadapan Allah. Adam merupakan kepala perjanjian, dimana perbuatan
ataupun ketaatannya dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kejatuhan Adam
dimulai dari lemahnya pembimbingan kepada Hawa. Iblis mengetahui sisi lemah
daripada Hawa, sebab Hawa bukan orang yang mendapatkan perintah langsung dari
Allah.
Pada awal pasal 3 ini dimulai dengan
percakapan Hawa dengan iblis. Ular dikatakan sebagai makhluk yang licik dari
segala binatang yang hidup (ayt. 1). Ular ini digunakan oleh iblis untuk
menggoda Hawa dengan memutar balikkan fakta firman Tuhan. ular mengatakan
“karena Tuhan berkata: jangan kalian makan semua pohon di kebun ini” (ayt. 1b
bdk pasal 2:16).[5]
Kata jamak yang dipakai penulis Kejadian mengungkapkan bahwa Hawa tidaklah
sendirian waktu iblis berbicara kepadanya, melainkan Adam bersama-sama dengan
Hawa pada saat itu. Adam mengetahui persis bahwa perkataan iblis itu salah,
namun Adam membiarkan Hawa menjawab perkataan iblis itu dengan firman Tuhan
yang telah ditambahi oleh Hawa. Hawa menjawab “kecuali buah dari pohon yang di
tengah-tengah kebun itu, Allah berkata: jangan kalian memakannya dan jangan
kalian sentuh sehingga kalian mati”.[6] Perkataan
Hawa bahasa aslinya ditambahkan kata פֶּן yang berarti tidak atau
sehingga.
Percakapan ular bukan hanya tertuju
kepada Hawa saja, tetapi juga kepada Adam, sebab frasa yang digunakan penulis
dalam perkataan iblis menggunakan kata ganti orang kedua jamak bukan tunggal. Penggunaan
kata ganti orang kedua jamak yang dipakai oleh penulis menggambarkan
kebersamaan Adam dan Hawa, sekaligus ingin menunjukan bahwa Adam dengan sengaja
membiarkan Hawa untuk mengambil keputusan. Peran Adam sebagai kepala perjanjian
seakan-akan digantikan oleh Hawa dengan keputusan-keputusan yang telah
diambilnya. Adam seharusnya dapat mencegah Hawa untuk tidak mengambil keputusan
memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu sebab Adam bersama-sama dengan
dia pada saat itu.
c.
Akibat
Kesalahan Adam.
Ketika
Adam dan Hawa telah memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat barulah
merekan menyadari bahwa mereka telanjang. Setelah menyadari bahwa mereka telah
melakukan kesalahan mereka bersembunyi dari Allah karena rasa malu. Anthony A.
Hoekema mengatakan: perasaan malu Adam dan Hawa merupakan tanggapan langsung
dari hati nurani yang bersalah.[7] Pertama
kali yang Allah cari ialah Adam karena Adamlah yang menjadi kepala perjanjian
bukan Hawa. Sebagai wakil manusia Adam memiliki tanggungjawab yang sangat besar
dan tanggungjawab itu tidak dapat dilakukan dengan baik, sehingga Adam gagal
dan jatuh ke dalam dosa bersama dengan Adam.
Allah
memberikan hukuman kepada setiap pribadi yang terlibat aktif dalam pelanggaran
terhadap perintah Allah.
1. Hukuman
kepada Ular.
Ular dipakai oleh iblis untuk
menggoda Hawa dengan kelicikannya dan Allah mengutuk ular diantara binatang
lainnya. LAI menterjemahkan kutukan Allah kepada ular dengan “Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu:
"Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala
ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan
menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.” Ayat ini bukan
berarti menjelaskan bahwa dahulu ular berjalan dengan kaki atau gaya berjalan
yang lain dari sekarang ini dan Alkitab juga tidak menjelaskan tentang hal itu.
Mengenai debu tanah menjadi makanan ular, hal ini jangan semata-mata dijelaskan
bahwa debulah yang menjadi makanan ular, tetapi untuk menegaskan bagaimana ular
benar-benar berjalan dengan perutnya.
2. Hukuman
kepada Hawa.
Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu
waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan
melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa
atasmu" Gen 3:16 ITB. Allah menghukum Hawa dengan kesedihan dan kesakitan saat
melahirkan akibat menerima godaan iblis dan memakan buah pengetahuan yang baik
dan jahat. Hawa akan merasakan kesakitan yang luar biasa bahkan tidak jarang
wanita yang melahirkan meninggal. Hukuman yang timbul dari dosa ialah
penderitaan, sebab gambar dan rupa Allah telah rusak bersama dengan jatuhnya manusia
ke dalam dosa.
3. Hukuman
kepada Adam dan kutukan kepada Bumi.
Allah
memberikan hukuman kepada Adam untuk bekerja dengan susah payah. Sebelum Adam
jatuh dalam dosa, Adam tidak perlu bersusah payah bekerja untuk mencukupi
kebutuhannya karena Allah telah menyediakan semuanya di taman eden. Pengusiran
manusia dari taman eden mengindikasikan hubungan manusia dengan Allah menjadi
rusak. Selain itu, tanah juga mnedapatkan kutukan akibat kejatuhan manusia itu. Tanah sebelumnya tidak mengeluarkan semak duri, tetapi ketika manusia jatuh dalam dosa, tanah mengeluarkan semak duri sebagai tanda bahwa manusia harus bersusah payah bekerja untuk mendapatkan makanannya.
d.
Pengaruh
Kejatuhan Adam bagi Masa Kini.
Kejatuhan
Adam merupakan kegagalan Adam sebagai kepala perjanjian dan perwakilan mansuia
dihadapan Allah. Kejatuhan Adam mengakibatkan dosa asal (kerusakan total)
manusia dihadapan Allah. Manusia tidak memiliki kehendak baik yang mutlak,
tetapi kebaikan yang dilakukan manusia hanyalah kebaikan relatif yang dilakukan
dalam keberdosaan. Dosa asal mengakibatkan manusia melakukan dosa-dosa aktual
lainnya. Fakta dosa dalam kehidupan manusia tidak dapat dihindari dan tidak
dapat dicegah. Stephen Tong dalam bukunya Dosa, keadilan dan penghakiman
menuliskan mengenai fakta dosa yang mengikat kehidupan manusia ialah
kesengsaraan, dosa dan kematian.[8]
Pengaruh
dosa asal dalam kehidupan masa kini ialah manusia masa kini telah dilahirkan
dalam keadaan berdosa. Manusia ikut menanggung kesalahan yang dilakukan oleh
Adam. Menanggung kesalahan Adam bukan berarti manusia bertanggungjawab atas
dosa orang lain, tetapi perlu diingat bahwa Adam adalah kepala perjanjian dan
wakil manusia dihadapan Allah. Dosa asal juga mencemari seluruh aspek moral
manusia dab bukan status manusia dihadapan hukum Allah. Kesalahan asal sebagai
pencemaran natur manusia akibat dosa dan menghasilkan dosa. Sebagai akibat dari
ketercakupan manusia di dalam kesalahan Adam dan semua manusia dilahirkan dalam
kondisi rusak total.[9]
KESIMPULAN
Tokoh Adam merupakan pribadi
historis bukan sekedar simbol atau cerita tentang kejatuhan manusia.
Mempercayai Adam sebagai seorang pribadi yang historis akan mempermudah dalam
menerima semua konsekuensi dosa yang telah terjadi. Kesalahan Adam
mengakibatkan semua manusia hidup dalam keberdosaan. Fakta dosa sangat nyata
dalam kehidupan manusia bahkan seorang manusia yang masih dalam kandunganpun
sudah berdosa, meskipun belum melakukan dosa aktual seperti yang dilakukan oleh
orang dewasa.
Dosa berada dalam kedaulatan Allah
yang mahakuasa, tetapi Allah tidak terlibat dalam dosa yang dilakukan oleh
manusia. Manusia memiliki kehendaknya sendiri di dalam kuasa kehendak Allah.
Dosa-dosa aktual yang dilakukan manusia berasal dari dosa asal yang diwariskan
oleh Adam.
DAFTAR PUSTAKA
Bonhoeffer, Dietrich, Creation and Fall: A Theological
Interpretation of Genesis 1-3, New York: Macmillan Publishing, 1978.
Gowan, E. Gowan, From Eden To Babel: A Commentary on the Book of Genesis 1-11,
Michigan: Grand Rapids.
Kvam,
Kristen E. Schearing, Linda S. Ziegler, Valarie H. Ed, et all, Eve and Adam:Jewish, Christian, and Muslim
readings on Genesis and Gender, USA: Indiana University Press, 1999.
Hadiwiyata,
A.S. ed, Tafsir Alkitab Perjanjian Lama,
Yogyakarta: KANISIUS, 2002.
Tong,
Stephen, Dosa, Keadilan dan Penghakiman,
Jakarta: LRRI, 1996.
Berkhof,
Louis, Teplogi Sistematika 2: Doktrin
Manusia, Surabaya: Momentum, 2008.
Piper,
John, Dosa-Dosa Spektakuler dan Tujuan
Globalnya bagi Kemuliaan Kristus, Surabaya: Momentum, 2012.
Bakker,
Dr. F.L, Sejarah Kerajaan Allah 1,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
Hoekema,
A. Anthony, Manusia: Ciptaan Menurut
Gambar Allah, Surabaya: Momentum, 2008.
Hill,
Andrew E. & Walton, John H., Survei
Perjanjian Lama, Malang: Gandum Mas, 2013