Senin, 29 September 2014

keselamatan


KESELAMATAN DALAM AGAMA BUDDHA

Agama Buddha
Buddha  termasuk salah satu agama falsafah, usaha akal manusia untuk mencari kedamaian dengan rumusan-rumusan yang sistematis. Agama Buddha tidak bercorak Theosentris, tetapi Homosentris. Nama Buddha adalah sebutan dari pembawa ajaran yaitu Siddhartha Gautama. Nama Buddha berasal dari bahasa sansekerta “buddh” yang berarti “bangun” atau “mengetahui”. Buddha mempunyai arti bangun dari malam kesesatan dan sekarang berada di tengah-tengah cahaya pemandangan yang benar.[1] Buddha mempunyai sebutan lain, yaitu: Bhagavat (berarti, yang luhur) dan Tathagata (berarti, yang sempurna).

Siddharta adalah anak seorang Raja Kapilawastu yang bernama raja Suddhodana dan ibunya bernama Maya yang memerintah suku Shakya di daerah penggunungan Himalaya dan diantara hulu sungai Rapti dan Gandak. Siddhartha lahir pada tahun 563 SM dan meninggal 483 SM.[2] Nama Siddhartha mempunyai arti “yang mencapai maksud tujuannya”, selain itu juga mempunyai beberapa sebutan, antara lain: Gautama yang berarti Keturunan Guru Weda Gautama, Shakyamuni berarti rahib atau yang bijaksana dari Shakya, Shaakya-Sinha artinya singa dari kaum Shakya.[3]

Kitab Buddha bernama Tripitaka yang berarti tiga keranjang. Keranjang yang dimaksuda adalah pengelompokkan sumber-sumber tertulis sekitar abad pertama. ketiga kitab yang dikelompokkan itu ialah Sutra Pitaka atau Sutta Pitaka yang berisi Dharma (dhamma) ajaran Buddha kepada muridnya:[4]

1.      Adhidharma (Abhidhamma), berisi ajaran yang lebih mendalam mengenai hakekat dan tujuan manusia, ilmu atau pengetahuan yang membawa kepada kelepasan.

2.      Winaya Pitaka, berisi peraturan-peraturan untuk mengatur tata tertib Sangha atau jemaat dan hidup sehari-hari seorang bhiksu atau bhikku.

Di dalam agama Buddha terdapat dua golongan atau aliran yang diakibatkan dari pengumpulan dan penetapan kitab Sutra dan Winaya pitaka. Golongan pertama, Hinayana yang tetap memegang teguh pada peraturan Winaya. Golongan kedua, Mahayana yang menerima perubahan-perubahan dalam kitab Winaya. Perubahan-perubahan kitab Buddha terjadi sekitar tahun 383 SM dalam seminar Rajgraha dan menetapkan redaksi dari kitab Sutra dan Winaya Pitaka yang sudah diredaksi ditetapkan sebagai ajaran sang Buddha. Dalam naskah sansekerta dari Mahayana memberi keterangan yang lebih panjang mengenai terjadinya Buddha, naskah penting dari sansekerta ialah Mahaparinibbanasutta dari golongan Hinayana dan Lalitawistara dari golongan Mahayana.[5]

AJARAN-AJARAN DALAM BUDDHA.

Ajaran Penderitaan

Sebagai suatu agama pasti memiliki ajaran-ajaran yang diajarkan kepada Sangha atau jemaat. Buddha memiliki ajaran yang disebut dengan ajaran kelepasan yaitu suatu ajaran yang ingin membawa manusia kepada kelepasan, kerena merasa hidup ini adalah ketidak bebas. Ajaran utama di dalam Buddha dirumuskan dalam empat kebenaran yang mulia atau empat arysatyani. empat kebenaran yang mulia itu antara lain:

1.      Dukha (penderitaan). Berisi hidup adalah penderitaan, mulai dari kelahiran sampai dengan kematian penuh dengan penderitaan.

2.      Samudaya (sebab). Penderitaan adalah penyebab. Penyebab orang dilahirkan kembali adalah keinginan kepada hidup dengan disertai nafsu yang mencari kepuasan.

3.      Nirodha (pemadaman). Pemadaman penderitaan melalui penghapusan, pembuangan dan penyangkalan terhadap keinginan.

4.      Marga (jalan kelepasan). Ajaran ini mengajarkan jalan tentang kelepasan dari penderitaan. Namun, ada delapan jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan kelepasan

Penderitaan menjadi ajaran pokok dalam pengajaran Buddha, sebab Buddha datang ke dunia karena penderitaan. Untuk menerangkan ajaran ini diajarkan Pratitya samutpada, yang berate pokok permulaan yang bergantungan. Harun Hadiwijono merumuskan duabelas pokok permulaan, antara lain:

Menjadi tua dan mati (jaramaranam) bergantung pada kelahiran (jati), kelahiran bergantung pada pada hidup atau eksistensi yang lampau (bhawa), hidup atau eksistensi yang lampau bergantung pada pengikatan kepada makan minum dan sebagainya (upadana), pengikatan bergantung pada kehausan (tanha), kehausan bergantung pada emosi atau rejana (wedana), emosi bergantung pada sentuhan atau kontak (sparsa), sentuhan bergantung pada indera dan sasarannya (sadayatana), indera dengan sasarannya bergantung pada roh dan benda atau keadaan batin dan lahir (namarupa), roh dan benda bergangtung pada penafsiran atau penggambaran yang salah (sanskara), penafsiran yang salah bergantung pada ketidaktahuan (awidya).

Ketidaktahuan yang dimaksud bukan ketidaktahuan dalam pengetahuan secara umum, namun pengetahuan kosmis. Dalam ketidaktahuan kosmis ada tiga pokok hal yang sangat jelas: 1) alam semesta penuh dengan penderitaan (dukha), 2) alam semesta adalah fana (anitya  atau anicca), 3) tiada jiwa dalam dunia ini (anatman atau anatta). ajaran kebergantungan yang diajarkan membawa kepada karma. Karma lah yang menyebabkan manusia dilahirkan kembali, kelahiran kembali yang dimaksud bukan kelahiran kembali jiwa yang menjadi manusia kembali. Kelahiran kembali yang maksud adalah kelahiran kembali watak atau sifat-sifat, atau kepribadian manusia menjadi manusia baru. Konsep ini mirip dengan konsep kelahiran kembali yang dianut oleh umat Kristen yaitu tentang konsep lahir baru.

Ajaran Tentang Jalan Kelepasan (Keselamatan)

Ajaran kelepasan dalam Buddha diungkapa dengan ungkapan Wimoksa atau Wimukti[6]  dengan puncaknya adalah nirwana. Nirwana berarti pemadaman atau pendinginan. Hal-hal yang perlu dipadamkan ialah hal-hal yang menyebabkan penderitaan dan hal-hal yang negative dalam kehidupan manusia seperti: keinginan, api nafsu, kebencian dll. Nirwana digambarkan sebagai suatu tempat yang penuh dengan kebahagiaan dimana penderitaan (samskara) ditindas dengan sempurna, segala skanda dilarutkan, segala keinginan ditiadakan sehingga mencapai keadaan yang benar-benar damai.

Harun Hadiwijono mengungkapkan nirwana sebagai suatu kebahagiaan yang tanpa pengamatan, tanpa perasaan dengan sadar. Nirwana juga disebut sebagai suatu keadaan tanpa ganguan maut (amrtapada), suatu keadaan yang lebih baik daripada segala keadaan di bumi. Buddha mengajarkan seluruh dunia dipandang sebagai sesuatu yang terbakar, terbakar oleh api nafsu (raga), api kejahatan (dosa), api khayalan, api kelahiran, umur tua, mati, sakit, penderitaan-penderitaan dan keputusasaan.

Nirwana dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: Upadhisesa adalah status manusia yang sudah mendapat kelepasan, namun hidup dan lahirnya masih terus berjalan, dan Anuphadisesa merupakan status manusia yang sudah mendapat kelepasan, yang hidup lahirnya sudah tidak ada lagi (terjadi pada kematian orang suci). Untuk mencapai nirwana, manusia harus melalui depalan jalan keselamatan, antara lain:[7]

1.      Percaya yang benar.  percaya dan menyerahkan diri dari percaya dan menyerahkan diri kepada Buddha sebagai Guru yang berwenang mengajarkan kebenaran; percaya dan menyerahkan diri kepada darma atau ajaran Buddha yang membawanya kepad kelepasan dan menyerahkan diri kepada jemaat (sangha) sebagai jalan yang harus dilaluinya.

2.      Maksud yang benar. buah atau hasil percaya yang benar atau pengetahuan yang benar, karena yakin bahwa jalan petunjuk Buddha adalah jalan yang benar.

3.      Kata-kata yang benar. orang harus menjauhkan diri dari kebohongan, membeicarakan kejahatan orang lain, mengucapkan kata-kata kasar, serta percakapan yang tidak senonoh.

4.      Perbuatan yang benar. di dalam segala perbuatannya orang tidak boleh mencari keuntungan sendiri, melainkan harus didorong oleh motif-motif yang murni dan mementingkan peri kemanusiaan.

5.      Hidup yang benar. secara lahir dan batin orang harus murni, bebas dari penipuan diri, tidak hanya mementingkan tingkah laku yang lahir saja.

6.      Usaha yang benar. terdiri dari pengawasan hawa nafsu untuk menjaga jangan sampai di dalam dirinya timbul tabiat-tabiat yang jahat. Ada lima cara untuk melaksanakan usaha yang benar ini:

a.       Memperhatikan cita-cita yang baik.

b.      Memperhatikan bahaya akibat membiarkan cita-cita yang jahat menjadi perbuatan.

c.       Menjauhkan perhatian dari cita-cita yang jahat.

d.      Menganalisa dorongan yang mendorong cita-cita yang jahat.

e.       Memaksa pikiran untuk menjauhkan diri dari yang jahat dengan alat-alat jasmaniah.

7.      Ingatan yang benar. pengawasan akal serta pengawasan rejana atau emosi yang merusak.

8.      Samadhi. Samadhi adalah upacara supaya perhatiannya tidak terpecah. Dalam tingkat ini orang harus banyak merenungkan beberapa hal, antara lain:

a.       Merenungkan bahwa makan-minum membawa banyak kesusahan.

b.      Merenungkan bahwa tubuh terdiri dari 4 unsur, yaitu: bumi, air, api dan angina.

c.       Yang terakhir ialah merenungkan 4 bhawana, yaitu: meta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal), mudita (kesenangan dalam keuntungan dan kesengan akan segala sesuatu), upakha (tidak tergerak oleh hal-hal yang menguntungkan diri sendiri, teman, musuh dll).

Hal-hal yang disebutkan diatas belum dapat mengantarkan manusia untuk mencapai nirwana, masih ada Samadhi yang sebenarnya harus dilakukan supaya manusia bisa menghilangkan dukha atau sukha dan mengantarkan manusia untuk mencapai nirwana. Menurut DR Harun Hadiwijono ada empat tingkatan terakhir yang harus dicapai, yaitu:

1.      Srotapana (pertobatan), ialah tingkatan orang yang sudah ditempatkan dalam arus yang benar, yang disebabkan karena pergaulan yang baik, mendengar hokum dan karena bernuat baik. Pada tingkat ini manusia sudah berlindung kepada Buddha dan mengakui empat kebenaran mulia.

2.      Sakradagamin, tingkatan orang yang harus dilahirkan kembali sekali lagi untuk dapat mencapai kelepasan.

3.      Anagamin, tingkatan orang yang sudah tidak akan dilahirkan kembali dan sudah mendapat kelepasan di dunia sekarang ini, namun belum mencapai nirwana.

4.      Arhat, tingkatan manusia yang sudah bebas dari keinginan dilahirka kembali, biak di dalam dunia bentuk maupun di dalam dunia yang tak berbentuk.

Honig Jr dalam bukunya yang berjudul Ilmu agama mengutip perkataan-perkataan Buddha mengenai nirwana,

“Memang, hai para rahib (biksu), inilah perdamaian, inilah yang luhur, yakni berhentinya segala bentuk karma, terurainya dasar-dasar keadaan, menjadi keringnya nafsu, pemadaman, penghapusan, nirwana. Didorong oleh keinginan, hai para rahib, dibuat marah oleh kebencian, diperdayakan dan dikuasai oleh kesilauan, terikat di dalam akal, maka orang merencanakan kerugiannya sendiri dan kerugian orang lain, orang merencanakan kerugian kedua belah pihak dan orang mengalami penderitaan jiwa dan dukacita. Tetapi apabila keinginan, kebencian dan kesilauan itu lenyap, maka orang tidak merencanakan kerugiannya sendiri mauoun kerugian orang lain, pun pula kerugian kedua pihak dan orang tidak merasakan penderitaan dan dukacita. Dengan demikian nirwana tidak terikat kepada waktu, telah dapat dikenal di dalam hidup in, mengajak, menarik dan dapat dimengerti oleh para budiman.

Hai para rahib, ada suatu lingkungan, di aman tidak ada sesuatu yang padat, maupun sesuatu yang cair, tidak ada panas maupun gerak, tidak ada dunia ini, tidak ada dunia sana, tidak ada matahari ataupun bulan. Hai para rahib, itulah yang kusebut tidak ada yang datang, tidak ada yang pergi, tidak ada yang berhenti, tidak ada yang dilahirkan, tidak ada yang mati. Itu tanpa suatu dasar apapun, tanpa perkembangan, tanpa penumpu: inilah akhir pernderitaan. Itulah suatu kebahagian tanpa penginderaan, suatu ketidak-adaan perasaan dengan kesadaran, kepastian yang berbahagia, bahwa kegelisahan kehidupan-kehidupa itu telah lalu untuk selama-lamanya.”

Pada hakekatnya nirwana itu tidak dapat terpikirkan dan tidak dapat dimengerti, ada dua kemungkinan yang dapat menentukan hakekat nirwana. Pertama, nirwana bukanlah jiwa manusia masuk ke dalam maha jiwa. Kedua, nirwana tidak boleh disebut pembinasaan, tetapi nirwana adalah berhentinya suatu proses.[8]

KESELAMATAN DI DALAM KRISTUS

Buddha mengajarkan untuk mencapai kelepasan (keselamatan) orang harus menyangkal dirinya dari keinginan-keinginan yang jahat (lebih tepatnya memisahkan diri dari dunia). Di dalam kekristenan tidak demikian, keselamatan hanya diperoleh dari pembenaran oleh iman di dalam Yesus Kristus. Perbedaan yang sangat mencolok dalam konsep keselamatan. Sebab Buddha tidak mengenal adanya dosa, karena Buddha tidak menyembah kepada Tuhan, tetapi penderitaanlah yang dianggap sebagai penghalang manusia utnuk mencapai keselamatan (nirwana).

Di dalam kekristenan keselamatan adalah anugerah Allah kepada manusia yang berdosa dan pemebenaran adalah engsel dari keselamatan. Efesus 2:8,9 mengatakan “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Kasih karunia adalam bahasa Yunaninya χάριτί yang berarti anugerah atau kasih karunia. Anugerah adalah pemberian dari pihak atas (yang berkuasa) kepada pihak bawah (yang lemah) secara Cuma-Cuma.

Pembenaran Allah bukan hanya sekedar menyatakan manusia benar. pembenaran karena iman adalah Allah menyatakan orang-orang percaya sebagai orang benar bukan berdasarkan perbuatan-perbuatannya, melainkan berdasarkan pengorbanan Kristus.[9]

Louis Berkhof mendefinisikan pembenaran adalah tindakan Yuridis Allah dimana Ia menetapkan, berdasarkan kebenaran Tuhan Yesus Kristus, bahwa semua tuntutan hukum sudah dipenuhi bagi orang berdosa. Pembenaran mencakup pengampunan dosa dan pembaharuan berdasarkan kasih karunia Allah. Lebih lanjut Berkhof memberikan perhatian terhadap perbedaan-perbedaan sebagai berikut:[10]

1.      Pembenaran menyingkirkan kesalahan karena dosa dan memperbarui orang berdosa untuk semua hak yang mencakup keadaannya sebagai anak Tuhan, termassuk warisan hidup kekal.

2.      Pembenaran terjadi di luar diri orang berdosa dalam tahta pengadilan Allah dan tidak mengubah kehidupan batiniahnya.

3.      Pembenaran terjadi sekali untuk selamanya.

4.      Kendatipun jasa yang menyebabkan pembenaran kedua hal tersebut terletak pada jasa Kristus semata-mata, namun tetap ada perbedaan dalam penyebab efisien.

Pengakuan Iman Westminster mengenai pembenaran yang dikutip oleh Antony A. Hoekema dalam bukunya Diselamatkan oleh Anugerah sebagai berikut:[11]

Mereka yang dipanggila Allah secara efektif, juga secara bebas dibenarkan oleh Allah, bukan dengan menenamkan kebenaran di dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan menyatakan dan menerima pribadi-pribadi mereka sebagai benar. hal ini tidak dikarenakan sesuatu yang terdapat di dalam diri mereka atau yang dikerjakan oleh mereka, tetapi semata-mata dikarenakan Kristus …. Dengan memberlakukan [mengimputasikan] ketaatan dan pemuasan Kristus atas mereka, sehingga mereka menerima dan bergantung kepada-Nya dan kebenaran-Nya dengan iman, di mana iman ini sendiri juga bukan milik mereka sendiri melalainkan anugerah Allah.

Keselamatan diberikan secara Cuma-Cuma oleh Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Hanya Yesuslah jalan menuju ke keselamatan dan pendamaian kepada Allah, keselamatan dan pendamaian yang ditawarkan Yesus ialah keselamatan dan pendamaian yang sejati dan nyata, bukan hanya sekedar ajaran atau iming-iming belaka, tetapi suatu tindakkan yang nyata bagi orang-orang percaya.
 KESIMPULAN

Buddha mengajarkan ajaran tentang konsep keselamatan yang semu, yang penuh dengan ketidakpastian. Untuk dapat sampai kepada nirwana orang harus menghilangkan atau memadamkan keinginan-keinginannya. Kekristenan mengajarkan bahwa manusia setelah mengalami kejatuhan pertama yang dilakukan oleh Adam telah kehilangan kemuliaan Allah, manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah menjadi rusak.

Dosa membuat manusia mengalami kerusakan total, gambar dan rupa Allah rusak total. Hal inilah yang membuat manusia tidak memiliki keinginan-keinginan tentang hal-hal yang baik, kebaikan yang dilakukan manusia hanyalah kebaikan relatif. Kerusakan total berarti manusia tidak pernah dapat melakukan kebaikan secara fundamental menyenangkan hati Allah dan bahwa pada kenyataannya manusia selalu berbuat jahat.[12]

Roma 3:10-12 ”seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Sangat jelas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu sangat tidak mungkin dengan berbuat baik manusia bias diselamatkan.

Tidak ada keselamatan selain di dalam Yesus, karena pengorbanan Yesus membenarkan manusia dihadapan Allah. Pengorbanan Yesus di kayu salib membenarkan manusia dari dosa-dosanya. Kiranya kasih anugerah Allah menyertai kita senantiasa. 

SOLI DEO GLORIA  

DAFTAR PUSTAKA

Utomo, Bambang Ruseno, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, Malang: Gandum Mas.

Hadiwijono, DR. Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985.

Honig Jr, A. G. Ilmu Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Boice, James Montgomery, Dasar-Dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), Surabaya: Momentum, 2011.

Berkhof, Louis, Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan), Surabaya: Momentum, 2012.

Hoekema, Antony A. Diselamatkan oleh Anugerah (Saved by Grace), Surabaya: Momentum, 2006.

Palmer, Edwin H. Lima Pokok Calvinisme, Surabaya: Momentum, 2009.

Smith, Huston, Agama-Agama Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.




       [1] Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, (Malang: Gandum Mas) 23.
       [2] Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, 23.
       [3] DR. A. G. Honig, Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994) 166-167.  
       [4] DR. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985) 49.
       [5] naskah ini diukir di candi Borobudur yang terletak di Magelang. Di Indonesia penganut agama Buddha biasa merayakan hari-hari besar di candi Borobudur. A. g. honig Jr, Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994) 168.
       [6] wimoksa atau wimukti itu berarti keselamatan atau kelepasan. Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, 25.
       [7] delapan jalan keselamatan diringkaskan dari bukunya DR. Harun hadiwijono. DR. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, 60-61.
       [8] A. G. Honig, Ilmu Agama, 211-212.
       [9] James Montgomery Boice, Dasar-Dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), (Surabaya: Momentum, 2011) 477.
       [10] Louis Berkhof, Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan), (Surabaya: Momentum, 2012) 224-225.
       [11] Antony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah (Saved by Grace), (Surabaya: Momentum, 2006) 227.
       [12] Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, (Surabaya: Momentum, 2009) 8.

persembahan total


Persembahan yang Total
Markus 12:41-44
Persembahan ialah pemberian kepada yang terhormat, persembahan pada zaman raja-raja hanya diberikan kepada seorang raja sebagai tanda ketundukan seseorang kepada raja tersebut. Persembahan ialah merupakan pemberian yang tulus dari seseorang kepada orang yang lebih terhormat tanpa adanya imbalan atau keinginan tertentu sebagai ganti dari persembahan tersebut. Demikian seharusnya persembahan yang kita berikan kepada Tuhan, Tuhan ialah Tuhan yang besar lebih daripada apapun dan yang Terhormat lebih dari yang dihormati.
Bapak, Ibu dan teman-teman yang dikasihi Tuhan, jika kita membaca dan mencermati Markus 12:41-44 ini, tentu kita akan mendapatkan suatu iman yang besar dari seorang janda. Markus dan Lukas dalam injilnya memberikan keterangan mengenai keadaan janda ini. Janda yang memberikan persembahan ini ialah janda miskin, mungkin bisa dikelompokan dalam keadaan yang sangat miskin. Markus dan Lukas mencatat perkataan Yesus yang sama yaitu mengenai uang yang dipersembahkan oleh janda ini adalah seluruh nafkah hidupnya, bisa dikatakan hanya itu yang dimilikinya.
Janda ini memberikan persembahan sebesar 1 duit atau 2 peser. Peser merupakan mata uang yang paling kecil pada waktu itu, kalau jaman sekarang mungkin setara dengan Rp 100, jadi  2 peser nominalnya hanya Rp 200. Jika kita lihat, disini bukan nominalnya yang dipermasalahkan atau keadaannya yang memberi dengan total, tetapi Tuhan Yesus melihat iman janda ini. Tidak mudah memutuskan untuk memberi kepada Tuhan dengan keadaan yang cukup sulit jika tidak memiliki iman yang besar.
Iman bukan hanya sekedar pengakuan semata, tetapi iman haruslah ditunjukkan dengan perbuatan. Bukan berarti perbuatan yang dilakukan itu untuk memperoleh iman, tetapi imanlah yang mempengaruhi perbuatan kita. Yak. 2: 18, Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku."
Janda miskin ini memberikan persembahan karena imannya, bukan hanya sekedar kewajiban untuk memberikan persembahan. Inilah yang membuat janda miskin ini berani memberikan seluruh miliknya untuk Tuhan. dalam Kejadian 22:1-16 mengisahkan bagaimana dengan Iman Abraham mau mempersembahkan Ishak anaknya yang menjadi anak perjanjian dan anak tunggalnya. Janda ini juga mengimani pertolongan Tuhan yang senantiasa tidak pernah berhenti bagi orang Israel pada waktu itu, tentunya sebagai orang Israel janda ini mengetahui bagaimana Tuhan menolong orang Israel dalam perjalannya dari Mesir ke Tanah Kanaan. Tuhan juga memberikan kasih yang sama kepada kita orang percaya, bahkan lebih lagi, Tuhan meyerahkan AnakNya yang tunggal karena kasihNya kepada kita. Seharusnya kita lebih mengasihi Tuhan daripada yang dilakukan oleh janda miskin ini.
Persembahan yang kita berikan bukan hanya sekedar menjalankan kewajiban seperti orang Israel atau persembahan kita, kita tujukan untuk membantu pekerjaan Tuhan. Tuhan kita adalah Tuhan yang mahakuasa, Tuhan tidak butuh bantuan kita untuk melakukan pekerjaannya. Tuhan ingin kita mabil bagian dalam pekerjaan yang Tuhan berikan kepada kita, bukan hanya sekedar membantu atau memberi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Jika kita memberi untuk mendapatkan berkat dari Tuhan, hanya berkat itulah yang menjadi upah kita. Namun, sebaliknya kita harus ikut ambil bagian dalam perkejaan Tuhan dengan memberikan persembahan kepada Tuhan. Dengan mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, tentu kita memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan tersebut. Demikian juga dengan persembahan kita, kita hendaknya juga ikut mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan melalui persembahan yang kita berikan kepada Tuhan. Jika kita merasa, kita ikut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, tentu tidak akan berat bagi kita untuk memberikan persembahan kita dengan maksimal.

Janda miskin dan Abraham memberikan teladan kepada kita bagaimana mereka mempersembahkan persembahannya secara total kepada Tuhan? Dengan iman mereka memberikan persembahan, bukan dengan terpaksa, tetapi dengan penuh ketulusan hati. Kiranya kita dapat meneladani janda miskin dan Abraham yang dengan sepenuh hati memberikan persembahan kepada Tuhan secara total. Tuhan telah memberikan kepada kita apa yang kita butuhkan tanpa meminta sesuatu dari kita. Hanya dengan ketulusan dan iman yang besarlah kita dapat menyenangkan hati Tuhan dengan ikut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan sebagai ucapan syukur kita kepada Tuhan. Soli Deo Gloria

Doa tidak Mengubahkan kehendak Tuhan


Doa tidak Mengubahkan kehendak Tuhan

2 Raja-Raja 20:1-11

Bapak-ibu yang dikasihi Tuhan, doa merupakan nafas hidup keagaaman setiap orang percaya. Doa juga merupakan cara kita berkomunikasi dengan Tuhan dengan mencurahkan isi hati dan keinginann kita kepada Tuhan. Doa juga menjadi tanda bagi kita sebagai orang percaya dan senatiasa mengandalkan Tuhan. Namun, pernahkah kita sadari bahwa Tuhan telah menyediakan bagi kita apa yang kita butuhkan sebelum kita berdoa? Dan mungkin akan timbul pertanyaan diantara kita, kalau begitu untuk apa kita berdoa toh doa tidak menghasilkan apa-apa dan Tuhan juga sudah menyediakan yang kita butuhkan?
Pada hari ini kita akan belajar besama-sama mengenai doa yang tidak mengubahkan kehendak Tuhan. Doa pada hakekatnya berisi tentang ucapan syukur, permohonan dan pujian. Dewasa ini banyak orang-orang percaya yang menyalahgunakan doa untuk menuruti kehendak hatinya sendiri tanpa melihat kehendak Tuhan dalam dirinya. Tuhan Yesus dalam doa bapa kami mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus berdoa dengan bersandar kepada Tuhan.

Dalam bagian ini kita akan belajar mengenai doa yang diucapkan Hizkia karena mendengar firman Tuhan bahwa dia akan mati karena sakitnya yang sudah parah. Kelihatannya dengan doa yang diucapkan Hizkia, Hizkia mendapatkan kesembuhan dan tidak jadi meninggal bukan? Kelihatannya doanya Hizkia bisa memperpanjang umurnya bukan? Mari kita lihat bersama-sama ayat 1 yang mengatakan bahwa Hizkia akan mati.
Kita perlu memperhatikan kata engaku akan mati, tidak akan sembuh lagi dalam bahasa aslinya jika diterjemahkan secara literal atau apa adanya maka terjemahannya menjadi kamu mati dan tidak hidup ada penekanan dalam kata mati itu, sehingga Hizkia menangis sebab ia menyadari bahwa hidupnya tidak lama lagi. Kemudian Hizkia berdoa kepada Tuhan, dalam doanya Hizkia tidak meminta kepada Tuhan untuk disembuhkan, tetapi meminta kepada Tuhan supaya Tuhan mengingat dia dan kemudian Tuhan memperpanjang umur Hizkia selama 15 tahun.

Bapak-ibu yang dikasihi Tuhan, kelihatannya doa Hizkia mengubah keputusan Tuhan bukan? Namun bukan itu yang terjadi, tetapi sebaliknya Tuhanlah yang telah menggerakan Hizkia untuk berdoa kepadaNya. Sebab tanpa digerakan oleh Tuhan Hizkia dan kita tidak akan pernah bisa berdoa, karena kita adalah orang-orang tidak tahu apa yang akan kita doakan kepada Tuhan. Paulus dalam Roma 8:26 mengatakan “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Bapak-ibu yang dikasihi Tuhan, doa bukan hanya sekedar meminta kepada Tuhan dan berharap Tuhan memberikan apa yang kita inginkan, tetapi doa adalah meminta kepada Tuhan supaya kita mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup kita, kita tidak akan pernah mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup kita jika kita tidak berdoa.
Jika kita membutuhkan atau menginginkan sesuatu sebelum kita berdoapun Tuhan sudah tahu apa yang kita butuhkan. Jika kita memperhatikan doa Tuhan Yesus dan pekerjaanNya dalam injil, maka kita akan melihat bahwa hanya kehendak Tuhanlah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kita berandai-andai sejenak, jika kita hidup pada masa Tuhan Yesus, kira-kira berapa banyak orang yang ingin disembuhkan dan ditolong oleh Tuhan Yesus? Tetapi tidak semua ditolong oleh Tuhan Yesus bukan?

Bahkan ada yang dibiarkan sampai mati meskipun Tuhan Yesus membangkitkan kembali.
Hal itu dilakukan sesuai dengan kehendak Allah Bapa dalam diri Tuhan Yesus, Tuhan Yesus mengetahui apa kehendak Tuhan dalam diriNya. Maka tidaklah salah jika doa adalah nafas hidup orang percaya, karena melalui doa kita dapat mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan kita, jika kita tidak berdoa maka kita juga tidak akan pernah memahami kehendak Tuhan atas kehidupan kita. Jadi doa bukan hanya berisikan permohonan atau permintaan kita kepada Tuhan saja, yang terpenting di dalam doa itu ialah bagaimana kita bisa mengerti kehendak Tuhan dalam kehidupan kita saat ini.

Jonathan Edwards

PENDAHULUAN       
            Jonathan Edwards adalah sosok bapa gereja yang dapat dijadikan contoh dan teladan dalam setiap pemikiran dan pelayanannya. Banyak buku-buku Edwards yang mempengaruhi gereja-gereja di Amerika dan New England. Buku yang terkenal adalah A Treatise Concerning Religious Affections yang menguraikan tentang kebangunan rohani dan pengalaman rohani Edwards. Selain itu, Edwards juga terkenal dengan Freedom of the Will yang memberi jawaban kepada kaum Arminian tentang kehendak bebas manusia.
            Edwards dalam pemikirannya banyak menganut pemikiran Calvin, namun dia menolak disebut sebagai kaum Calvinisme. Dalam menjawab pertentang dengan kaum Arminianisme, Edwards dengan santun dan sopan menulis buku untuk menjawab permsalah dengan Aminian, namun dia tidak menyebutkan nama Arminian maupun sebutan yang lain, meski demikian orang segera dapat mengetahui siapa yang dimaksud dalam bukunya dengan mengetahui pemikiran dari tokoh yang di bahasnya.
Biografi Jonathan Edwards
Jonathan Edwards adalah pencetus pertama kebangunan rohani di Amerika Serikat pada tahun 1734-1735.[1] Edwards lahir pada tahun 1703 di Northampton, Massachussets, Amerika Serikat. Edwards adalah seorang anak yang cerdas, pandai dan sangat saleh. Ayah Edwars bernama Timothy  Edwards dan ibunya bernama Esther Stoddard. Timothy Edwards pernah mengeyam pendidikan di Harvard dan meraka menetap di East Windsor, Connecticut River Valley.[2] Edwars adalah anak laki-laki satu-satunya dari sebelas orang anak Timothy. Anak-anak mereka memiliki tinggi badan yang tidak lazim bagi orang-orang pada saat itu, mereka rata-rata memiliki tinggi badan sekitar 18 meter.
Edwards belajar Alkitab, katekismus dan warisan yang kaya dari iman Puritan dan Reformed dari ayah-ibunya. Timothy Edwards dan Solomon Stoddard telah mempersiapkan bagi Edwards “sekolah berkhotbah Connecticut Rever Valley”. Pada tahun 1716, Edwards masuk ke Universitas Yale saat itu umurnya baru tiga belas tahun. Edwards di kenal sebagai seorang revivalist di samping sebagai seorang teolog dan psikolog. Peristiwa-peristiwa kunci pada abad ke-18, termasuk perang Tujuh Tahun dan Kebangunan Rohani Besar, menyentuh kehidupannya. Nenek moyangnya termasuk para pemukim mula-mula dan keturunannya termasuk dalam kelompok pemimpin Republik yang masih baru.[3]
Di Universitas Yale, Edwards belajar filsafat dan ilmu jiwa, terutama filsafat John Locke dan Newton. Karya Newton memampukan Edwards untuk melihat keniscayaan mutlak topangan Allah secara aktif atas ciptaan-Nya. Pengaruh Newton atas Edwards terlihat dalam berbagai macam karangan ilmiah, seperti “The Wisdomof God in the Contrivance of the World.”[4] Saat berada di Universitas Yale, kepala dan staf dosen menginginka para mahasiswanya tidak mengabaikan hari sabat atau longgar dalam pembentukan karakter rohani. Sehingga pihak Universitas meminta mahasiswa untuk membuat catatan dari semua khotbah yang diberikan
Text Box: 1.1 Yale Charter (1701)
By the Governor, Council & Representatives of His Majesty’s
Colony of Connecticut in General Court assembled,
New Heaven, Oct. 9, 1701:
An act for liberty to erect a collegiate school.

Whereas several well disposed, and publick spiritual persons of their sincere regard to & zeal for upholding & propagating of the Christian Protestant religion by a succession of learned & orthodox men have expresses by pettion their earnest desires that full liberty and privilege be granted unto certain undertakers for the founding, suitably endowing & ordering of a collegiate school within his Majesty’s Colony of Connecticut wherein youth may be instructed in the arts and sciences who through the blessing of Almighty God may be fitted for publik employment both in church and civil state.

selama Hari Tuhan itu.[5] Stephen J. Nichols memberikan contoh catatan khotbah.
Pada tahun 1727, Edwards mengalami suatu pertobatan yang kisahnya ditulis dalam buku hariannya. Edwards merupakan seorang Calvinisme sejati yang mempertahankan predestinasi dan pemeliharaan Allah. Edwards menjadi pendeta pembantu kakeknya yang bernama Solomon Stoddrad di Northampton. Setelah kakeknya meninggal pada tahun 1729, Edwards menjadi pendeta tunggal disana.[6]
Selama Edwards di Northampton terjadi kebangunan rohani di jemaat itu pada tahun 1734-1735, yang timbul dari khotbahnya sendiri dan pada tahun 1740 karena pelayanan George Whitefield dari New England.[7] Tidak lama setelah ia menjadi pendeta, Edwards menikahi Sarah Pierpont, seorang yang bijaksana, can tik dan tulus. Edwards melawan mati-matian ajaran Armenianisme, menurutnya manusia yang jatuh ke dalam dosa berada dalam keadaan tanpa pengharapan untuk memperoleh keselamatan, dan keselamatan itu semata-mata adalah anugerah Allah.[8]
Akibat dari perlawanannya terhadap ajaran Armenian, Edwards diusir dari Northampton pada tahun 1750. Edwards setelah pengusirannya dari Northampton, berjalan berkeliling untuk kebangunan rohani, ia juga mengadakan kebangunan rohani di Stockbridge yang sangat berhasil. Selama di Stockbridge, Edwards menginjili orang-orang Indian dan di sana juga dia menulis sejumlah tulisan, termasuk karyanya yang terbesar Freedom of teh Will (Kebesasann Kehendak). Pada tahun 1757, Edwards diminta untuk menjadi rektor di universitas New Jersie College (sekarang Princeton University).[9]
Dalam Khotbah Edwards yang terkenal Sinners in the Hand of an Anggry God (orang-orang berdosa di tangan Allah yang murka), menyebabkan kebangunan Rohani. Tony Lane mengatakan:
Allah yang menaruh kamu di atas lubang neraka, sama seperti kalau orang menaruh serangga yang memuakkan di atas api, membenci kamu dan amarah-Nya yang mengerikan telah dibangkitkan. Murka-Nya terhadapmu membara seperti api; Ia menganggap kamu tidak pantas untuk yang lain daripada melempar kamu ke dalam api. Mata-Nya murni dan tidak tahan melihat kamu. Kamu sepuluh ribu lebih buruk di dalam mata-Nya daripada ular yangpaling dibencidalam mata kita. Kamu sudah menghina-Nya lebih dari seorang pemberontak melawan tuannya. Toh hanya tangan Dia yang menahan kamu jatuh ke dalam api setiap saat.
 
Pada Tahun 1746, Edwards menulis  buku yang berjudul Religious Affections (perasaan-perasaan keagamaan) yang menyelidiki sifat keagamaan sejati. Melawan penentang kebangunan rohani yang rasionalis, ia menegaskan bahwa keagamaan sesungguhnya tidak terdapat di dalam pikiran, tetapi di dalam perasaan (hati, emosi, dan kehndak).[10] Edwards juag dipengaruhi oleh mistik, ia mengatakan bahwa dalam hal agama, baik akal maupun perasaan memegang peranan yang penting. Bila seseorang hendak dibuat bertobat, maka pertama-tama bulu romannyalah yang harus berdiri tegak.[11]
Edwards tidak sendirian yang berkhotbah dalam kebangunan rohani. Theodore Freylinghuysen, seorang pastor Jerman di New Jersey yang bekerja dengan jemaat Reformasi Belanda sejak tahun 1720, telah membawa hasil kebangunan rohani dan juga perselisihan. George Whitefield seorang pendeta anglikan dan teman dari John Wesly, mulai mengajar di Amerika pada tahun 1738, dengan tidak menghiraukan ikatan denominasi dan karena semuanya untuk Kristus, dengan tidak mengenal rasa lelah, ia melintasi berbagai negara bagiandan mengajarkan berita pertobatan.[12] Salah satu tulisannya paling dicintai oleh banyak orang yang berjudul Personal Narrative.[13]

Text Box: 1.2 “Personal Narrative”

After [my conversion] my sense of divine things gradually increased, and became more and more lively, and had more of that in ward sweetness. The appearance of everything was altered: there seemed to be as it were a calm, sweet cast, or appearance of divine glory,in almost everything. God’s excellency, his wisdom, his purity and love, seemed to appear  in everything; in the sun, moon and stars; in the clouds and blue sky; in the grass, flowers, trees; in the water, and all nature; which used greatly to fix my mind. I often used to sit and view the moon, for a long time; and so in the daytime, spent much time in viewing the clouds and sky, to behold the sweet glory of God in these thing: in the meantime, singing forth with a low voice, my contemplations of the Creator an Redeemer....
I have loved the doctrines of the Gospel: they have been to my soul like green pastures. The Gospel has seemed to me to be the richest treasure; the treasure thet I have most desired, and longed thal it might dwell richly in me. The way of salvation by Christ, has appeared in a general way, glorious and axcellnt, and most pleasant and beautiful. It has often seemed to me, that in would in great measure spoil heaven, to receive it in any other way.
KEBANGUNAN ROHANI
Risalah Mengenai Afeksi[14] Rohani.
            Edwars menulis sebuah buku yang berjudul A Treatise Concerning Religious Affections. Buku pertama yang memilah antara pengalaman rohani yang palsu dan yang sejati di tengah banyaknya ajaran dan praktek keagamaan yang simpang siur dan membingungkan, serta menuntun menuju pengalaman rohani sejati seperti yang diajarkan oleh Alkitab. Sebelum Edwards menulis buku A Treatise Concerning Religious Affections, dia diminta oleh teman dekatnya Joshep Bellamy untuk menuliskan kata pengantar pada bukunya yang berjudul True Religion Delineated. Stephen menuliskan kata pengantar yang ditulis oleh Edwards sebagai berikut.
Keberadaan Allah haruslah dianggap sebagai hal pertama, terbesar dan yang paling mendasari segala sesuatu yang menjadi objek pengetahuan atau kepercayaan. Hal berikutnya yang harus diperhitungkan adalah natur agama sesuai dengan kehendak Allah bagi kita, dan harus ditemukan di dalam diri kita, supaya dapat menikmati manfaat-manfaat dari kebaikan Allah: atau sebaliknya, hal ini harus dihargai sebagai sama pentingnya dengan hal lain; sebab dengan cara yang demikian akan membawa kita untuk mengerti bagaimana kita dapat menghormati dan menyenangkan hati Allah, dan diterima oleh-Nya, seperti hal itu telah membawa kita untuk mengenal Dia sebagai suatu keberadaan.
Ini adalah akibat yang tak terbatas bagi setiap orang; masing-masing berurusan dengan Allah sebagai hakim yang tertinggi, yang akan memulihkan keadaan kekalnya, seperti ketikadia menemukan Allah baik melalui ataupun tanpa melalui agama yang sejati. Hal ini juga merupakan suatu hal yang secara luas membangkitkan minat publik terhadap gereja Tuhan.
Sehubungan dengan pengalaman rohani, Edwards menghubungkannya dengan emosi dari orang yang mengalaminya. Kata afeksi dalam buku ini juga berarti “emosi” atau “perasaan”.
            Apa hubungannya emosi dengan pengalaman rohani? Emosi adalah suatu gerakan yang lebih hidup dan intens dari kecenderungan hati dan kehendak. Allah telah memberikan kekuatan utama dalam jiwa manusia. Kekuatan pertama ialah pengertian (understanding) yang bisa digunakan untuk menguji dan menilai sesuatu. Kekuatan yang kedua ialah kecenderungan (inclination) hati yang sering disebut dengan kehendak (will) yang digunakan untuk melihat seuatu dengan menyukai atau tidak menyukainya, puas atau tidak puas terhadapnya, menerima atau menolaknya, namun bukan dengan mengamati secara apatis.[15]
            Kerohanian sejati memiliki hati yang sungguh dan bersemangat merupakan hasil dari sunat rohani, atau kelahiran baru, yang bersamanya tersedia janji-janji kehidupan.[16] Edwards menuliskan manfaat dari kerohanian sejati ialah:[17]
First, Love to Christ: "Whom having not yet seen, ye love." The world was ready to wonder, what strange principle it was, that influenced them to expose themselves to so great sufferings, to forsake the things that were seen, and renounce all that was dear and pleasant, which was the object of sense. They seemed to the men of the world about them, as though they were beside themselves, and to act as though they hated themselves; there was nothing in their view, that could induce them thus to suffer, and support them under, and carry them through such trials. But although there was nothing that was seen, nothing that the world saw, or that the Christians themselves ever saw with their bodily eyes, that thus influenced and supported them, yet they had a supernatural principle of love to something unseen; they loved Jesus Christ, for they saw him spiritually whom the world saw not, and whom they themselves had never seen with bodily eyes.
Second, Joy in Christ. Though their outward sufferings were very grievous, yet their inward spiritual joys were greater than their sufferings; and these supported them, and enabled them to suffer with cheerfulness.
 
Menurut Edwards sebuah pengakuan adalah benar jika dan hanya jika itu adalah kepemilikan yang dibuktikan dalam perbuatan.[18] Edwards juga menunjukkan tanda-tanda pasti dan bukan tanda-tanda yang pasti.[19]
If anyone, on the reading of what has been just now said, is ready to acquit himself, and say, "I am not one of those who have no religious affections; I am often greatly moved with the consideration of the great things of religion:" let him not content himself with this, that he has religious affections: for as we observed before, as we ought not to reject and condemn all affections, as though true religion did not at all consist in affection; so on the other hand, we ought not to approve of all, as though everyone that was religiously affected had true grace, and was therein the subject of the saving influences of the Spirit of God; and that therefore the right way is to distinguish among religious affections, between one sort and another. Therefore let us now endeavor to do this; and in order to do it, I would do two things.
I. I would mention some things, which are no signs one way or the other, either that affections are such as true religion consists in, or that they are otherwise; that we may be guarded against judging of affections by false signs.
II. I would observe some things, wherein those affections which are spiritual and gracious, differ from those which are not so, and may be distinguished and known. First, I would take notice of some things, which are no signs that affections are gracious, or that they are not.
 FREEDOM OF THE WILL
            Edwards menulis buku ini untuk melawan kaum Arminianisme yang menyatakan setiap manusia memiliki kehendak bebas yang bebas memilih mana yang baik dan mana yang jahat. Setiap manusia memiliki kehendak bebas masing-masing, namun kehendak bebas tersebut berada dalam kedaulatan Allah. Dalam teologia reformed kehendak bebas yang dimaksudkan adalah pilihan bebas manusia terhadap apa yang telah disediakan oleh Allah. Calvin dalam Institutio mengatakan
“Kehendak bebas tidak menyanggupkan manusia untuk berbuat baik, kecuali kalau ia dibantu oleh anugerah Allah, yaitu anugerah istimewa yang hanya diberikan kepada mereka yang terpilih, melalui kelahiran kembali. Manusia dikatakan mempunyai kehendak bebas bukan karena agaknya dengan bebas ia dapat menentukan pilihan antara yang baik dan yang jahat, melainkan karena kejahatan yang dilakukannya, dilakukannya menurut kemauannya dan bukan karena dipaksa.
 
Pendapat Arminianisme tentang kehendak bebas memiliki konsekuensi kuasa penetapan diri dan kotingensi. Edwards menjelaskan maksud dari penetapan diri dan kotingensi.[20]
 
“Suatu kedaulatan tertentu yang dimiliki  kehendak terhadap dirinya sendiri dan semua tindakannya, yang menentukan kemampuannya untuk memilih; supaya jangan bergantung, dalam penetapannya, pada penyebab apa pun tanpa dirinya sendiri, tidak pula berketetapan untuk memilih sesuatu dan mendahului tindakanya sendiri. kotingensi adalah yang berlawanan dengan semua keharusan atau hubungan tertentu yang sudah tetap dengan sejumlah alasan sebelumnya atau alasan dari keberadaan."
 
Luther mengatakan,” Kehendak bebas manusia telah hilang oleh karena terkurung oleh kuasa dosa dan dipaksa untuk melayani dosa dan sebagai akibatnya tidak dapat melakukan kehendak baik dan benar.[21] Kehendak bebas bukan berarti kebebasan untuk melakukan kehendaknya sendiri, kebebasan berkaitan dengan tindakan yang berdasarkan natur seseorang. Kejatuhan Adam ke dalam dosa sangat membantu untuk memahami konsep kebebasan.
            Allah menciptakan manusia untuk melayani, menyembah, dan memiliki persekutuan dengan-Nya. Namun, kejatuhan menghalangi manusia untuk mencapai tujuan penciptaan. Dengan kata lain, keselamatan memulihkan manusia kepada peranan yang telah direncanakan bagi manusia dan memampukan manusia untuk melakukan tujuan penciptaan dan menjadikan untuk apa manusia diciptakan.[22]
            Ketika manusia sudah diselamatkan dan di dalam kemuliaan dan dalam keadaan tanpa dosa, maka manusia akan sepenuhnya menjadi apa yang direncanakan Tuhan bagi manusia sejak kekekalan, bahkan manusia tidak dapat memilih untuk berbuat dosa atau tidak berdosa. Untuk menjawab pendapat Arminian tentang kehendak bebas dengan menekankan kedaulatan Allah. Edwards menyatakan, “kedaulatan Allah adalah kesanggupan dan otoritas-Nya untuk melakukan apa saja yang menyenangkan-Nya.[23] Sebagai akhir dari Freedom of the Will, Edwards menyatakan:[24]
 
Natur dari iman sejati menyiratkan suatu kencederungan untuk menyerahkan segala kemuliaan dari keselamatan kepada Allah dan Kristus. Dia juga menjelaskan, pertobatan seorang berdosa tidak tergantung pada ketetapan diri seseorang, tetapi pada penetapan Allah dan pilihan kekal yang bersifat mutlak serta bergantung pada kehendak Allah yang berdaulat, bukan pada kebebasan manusia. Akhirnya Edwards mengajukan sebuah pandangan tentang kehendak, kebebasan, dan keselamatan yang menyerahkan segalanya bagi kemuliaan Allah.
 
KESIMPULAN
Pemikiran Jonathan Edwars berkontribusi dalam perkebangan gereja pada masa kini, khusunya dalam Kebaktian Kebangunan Rohani yang sering dilakukan baik di Indonesia maupun di Amerika oleh gereja. Kebangunan-kebangunan rohani yang terjadi selama dua abad ini (terutama yang kedua (1800)), telah memberi kepastian yang tetap kepada sebagian besar dari Protestantisme di Amerika.  Gereja-gereja yang paling giat di dalamnya (Gereja-gereja Metodis dan Baptis) menjadi gereja-gereja protestan terbesar di Amerika.
Pengaruh kebangunan terasa dalam kehidupan orang Kristen secara individual, yang melatih imannya dengan pembacaan Alkitab sehari-hari, saat teduh, dalam kebaktian mereka yang cenderung bersifat bebas dan penuh perasaan, khotbah-khotbah yang praktis, serta teologi yang cenderung kepada biblisisme.[25]
Selain itu, pemikiran Edwards membantu penulis untuk lebih memahami arti dari kebangunan Rohani dan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan. Sosok Edwars sendiri memberikan inspirasi kepada penulis untuk terus belajar dan mengembangkan diri melalui hal-hal kecil yang berkenan dihadapan Tuhan.
Uraian tentang kehendak bebas Edwards semakin menegaskan makna dari kedaulatan Allah yang menopang kehidupan ciptaan-Nya dan semakin menundukkan diri kepada Tuhan, karena kemuliaan dan kekudusan, serta kebenaran-Nya yang mutlak dan tidak dapat diselami oleh kehendak dan rasio manusia. Sebab, Dia adalah Allah yang besar, jika Dia dapat diselami oleh rasio manusia, berarti Dia bukanlah Allah. Akhirnya segala kemuliaan dan kuasa hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus.
DAFTAR PUSTAKA
 Wallen, F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Nichols, Stephen J., Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, Surabaya: Momentum, 2009.
Rajendran, A., ed. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gnung Mulia, 2011.
Lane, Tony, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Needham, N. R., ed, Pengalaman Rohani Sejati, Surabaya: Momentum, 2008.
Edwards, Jonathan, (1703-1758), Religious Affections, Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library, 1746.
Edwards, Jonathan (1703-1758), Freedom of the Will, Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library.
Pranoto, Minggus M., VERITAS 7/2, Oktober 2006.
 


       [1] F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) 72.
       [2] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, (Surabaya: Momentum, 2009) 16.
       [3] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 15.
       [4] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 21.
       [5] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 19.
       [6] A. Rajendran, ed. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gnung Mulia, 2011) 108.
       [7] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012) 158.
       [8] F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja,72.
       [9] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani,159.
       [10] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani,159.
       [11] F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja,72.
       [12] A. Rajendran, ed. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 109.
       [13] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 24.
       [14] Kata afeksi dalam buku ini juga berarti “emosi” atau “perasaan”. Afeksi sebenarnya banyak memiliki arti, definisi Edwards tentang Afeksi adalah respon yang kuat dari hati. Kata emosi digunaka penulis buku aslinya untuk mengurangi kesalahan penafsiran. N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, (Surabaya: Momentum, 2008) xiii.
       [15] N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, 5.
       [16] N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, 8.
       [17] Jonathan Edwards, (1703-1758), Religious Affections (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library, 1746) 7.
       [18] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 114.
       [19] Jonathan Edwards, (1703-1758), Religious Affections, 32.
       [20] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 183.
       [21] Minggus M. Pranoto, VERITAS 7/2 (Oktober 2006) 209.
       [22] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 184.
       [23] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 187.