PENDAHULUAN
Jonathan Edwards adalah sosok bapa
gereja yang dapat dijadikan contoh dan teladan dalam setiap pemikiran dan
pelayanannya. Banyak buku-buku Edwards yang mempengaruhi gereja-gereja di
Amerika dan New England. Buku yang terkenal adalah A Treatise Concerning Religious Affections yang menguraikan tentang
kebangunan rohani dan pengalaman rohani Edwards. Selain itu, Edwards juga
terkenal dengan Freedom of the Will
yang memberi jawaban kepada kaum Arminian tentang kehendak bebas manusia.
Edwards dalam pemikirannya banyak
menganut pemikiran Calvin, namun dia menolak disebut sebagai kaum Calvinisme.
Dalam menjawab pertentang dengan kaum Arminianisme, Edwards dengan santun dan
sopan menulis buku untuk menjawab permsalah dengan Aminian, namun dia tidak menyebutkan
nama Arminian maupun sebutan yang lain, meski demikian orang segera dapat
mengetahui siapa yang dimaksud dalam bukunya dengan mengetahui pemikiran dari
tokoh yang di bahasnya.
Biografi Jonathan Edwards
Jonathan
Edwards adalah pencetus pertama kebangunan rohani di Amerika Serikat pada tahun
1734-1735.[1]
Edwards lahir pada tahun 1703 di Northampton, Massachussets, Amerika Serikat.
Edwards adalah seorang anak yang cerdas, pandai dan sangat saleh. Ayah Edwars
bernama Timothy Edwards dan ibunya
bernama Esther Stoddard. Timothy Edwards pernah mengeyam pendidikan di Harvard
dan meraka menetap di East Windsor, Connecticut River Valley.[2]
Edwars adalah anak laki-laki satu-satunya dari sebelas orang anak Timothy.
Anak-anak mereka memiliki tinggi badan yang tidak lazim bagi orang-orang pada
saat itu, mereka rata-rata memiliki tinggi badan sekitar 18 meter.
Edwards
belajar Alkitab, katekismus dan warisan yang kaya dari iman Puritan dan
Reformed dari ayah-ibunya. Timothy Edwards dan Solomon Stoddard telah
mempersiapkan bagi Edwards “sekolah berkhotbah Connecticut Rever Valley”. Pada
tahun 1716, Edwards masuk ke Universitas Yale saat itu umurnya baru tiga belas
tahun. Edwards di kenal sebagai seorang revivalist
di samping sebagai seorang teolog dan psikolog. Peristiwa-peristiwa kunci pada
abad ke-18, termasuk perang Tujuh Tahun dan Kebangunan Rohani Besar, menyentuh
kehidupannya. Nenek moyangnya termasuk para pemukim mula-mula dan keturunannya
termasuk dalam kelompok pemimpin Republik yang masih baru.[3]
Di
Universitas Yale, Edwards belajar filsafat dan ilmu jiwa, terutama filsafat
John Locke dan Newton. Karya Newton memampukan Edwards untuk melihat
keniscayaan mutlak topangan Allah secara aktif atas ciptaan-Nya. Pengaruh
Newton atas Edwards terlihat dalam berbagai macam karangan ilmiah, seperti “The
Wisdomof God in the Contrivance of the World.”[4] Saat
berada di Universitas Yale, kepala dan staf dosen menginginka para mahasiswanya
tidak mengabaikan hari sabat atau longgar dalam pembentukan karakter rohani.
Sehingga pihak Universitas meminta mahasiswa untuk membuat catatan dari semua
khotbah yang diberikan 
![]() |
Pada
tahun 1727, Edwards mengalami suatu pertobatan yang kisahnya ditulis dalam buku
hariannya. Edwards merupakan seorang Calvinisme sejati yang mempertahankan
predestinasi dan pemeliharaan Allah. Edwards menjadi pendeta pembantu kakeknya
yang bernama Solomon Stoddrad di Northampton. Setelah kakeknya meninggal pada
tahun 1729, Edwards menjadi pendeta tunggal disana.[6]
Selama
Edwards di Northampton terjadi kebangunan rohani di jemaat itu pada tahun
1734-1735, yang timbul dari khotbahnya sendiri dan pada tahun 1740 karena
pelayanan George Whitefield dari New England.[7] Tidak
lama setelah ia menjadi pendeta, Edwards menikahi Sarah Pierpont, seorang yang
bijaksana, can tik dan tulus. Edwards melawan mati-matian ajaran Armenianisme,
menurutnya manusia yang jatuh ke dalam dosa berada dalam keadaan tanpa
pengharapan untuk memperoleh keselamatan, dan keselamatan itu semata-mata
adalah anugerah Allah.[8]
Akibat
dari perlawanannya terhadap ajaran Armenian, Edwards diusir dari Northampton
pada tahun 1750. Edwards setelah pengusirannya dari Northampton, berjalan
berkeliling untuk kebangunan rohani, ia juga mengadakan kebangunan rohani di
Stockbridge yang sangat berhasil. Selama di Stockbridge, Edwards menginjili
orang-orang Indian dan di sana juga dia menulis sejumlah tulisan, termasuk
karyanya yang terbesar Freedom of teh
Will (Kebesasann Kehendak). Pada tahun 1757, Edwards diminta untuk menjadi
rektor di universitas New Jersie College (sekarang Princeton University).[9]
Dalam
Khotbah Edwards yang terkenal Sinners in
the Hand of an Anggry God (orang-orang berdosa di tangan Allah yang murka),
menyebabkan kebangunan Rohani. Tony Lane mengatakan:
Allah yang menaruh
kamu di atas lubang neraka, sama seperti kalau orang menaruh serangga yang
memuakkan di atas api, membenci kamu dan amarah-Nya yang mengerikan telah
dibangkitkan. Murka-Nya terhadapmu membara seperti api; Ia menganggap kamu
tidak pantas untuk yang lain daripada melempar kamu ke dalam api. Mata-Nya
murni dan tidak tahan melihat kamu. Kamu sepuluh ribu lebih buruk di dalam
mata-Nya daripada ular yangpaling dibencidalam mata kita. Kamu sudah
menghina-Nya lebih dari seorang pemberontak melawan tuannya. Toh hanya tangan
Dia yang menahan kamu jatuh ke dalam api setiap saat.
Pada
Tahun 1746, Edwards menulis buku yang
berjudul Religious Affections
(perasaan-perasaan keagamaan) yang menyelidiki sifat keagamaan sejati. Melawan
penentang kebangunan rohani yang rasionalis, ia menegaskan bahwa keagamaan
sesungguhnya tidak terdapat di dalam pikiran, tetapi di dalam perasaan (hati,
emosi, dan kehndak).[10]
Edwards juag dipengaruhi oleh mistik, ia mengatakan bahwa dalam hal agama, baik
akal maupun perasaan memegang peranan yang penting. Bila seseorang hendak
dibuat bertobat, maka pertama-tama bulu romannyalah yang harus berdiri tegak.[11]
Edwards
tidak sendirian yang berkhotbah dalam kebangunan rohani. Theodore
Freylinghuysen, seorang pastor Jerman di New Jersey yang bekerja dengan jemaat
Reformasi Belanda sejak tahun 1720, telah membawa hasil kebangunan rohani dan
juga perselisihan. George Whitefield seorang pendeta anglikan dan teman dari
John Wesly, mulai mengajar di Amerika pada tahun 1738, dengan tidak
menghiraukan ikatan denominasi dan karena semuanya untuk Kristus, dengan tidak
mengenal rasa lelah, ia melintasi berbagai negara bagiandan mengajarkan berita
pertobatan.[12]
Salah satu tulisannya paling dicintai oleh banyak orang yang berjudul Personal Narrative.[13]
![Text Box: 1.2 “Personal Narrative”
After [my conversion] my sense of divine things gradually increased, and became more and more lively, and had more of that in ward sweetness. The appearance of everything was altered: there seemed to be as it were a calm, sweet cast, or appearance of divine glory,in almost everything. God’s excellency, his wisdom, his purity and love, seemed to appear in everything; in the sun, moon and stars; in the clouds and blue sky; in the grass, flowers, trees; in the water, and all nature; which used greatly to fix my mind. I often used to sit and view the moon, for a long time; and so in the daytime, spent much time in viewing the clouds and sky, to behold the sweet glory of God in these thing: in the meantime, singing forth with a low voice, my contemplations of the Creator an Redeemer....
I have loved the doctrines of the Gospel: they have been to my soul like green pastures. The Gospel has seemed to me to be the richest treasure; the treasure thet I have most desired, and longed thal it might dwell richly in me. The way of salvation by Christ, has appeared in a general way, glorious and axcellnt, and most pleasant and beautiful. It has often seemed to me, that in would in great measure spoil heaven, to receive it in any other way.](file:///C:/Users/Phileo/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.png)
KEBANGUNAN ROHANI
Risalah Mengenai Afeksi[14]
Rohani.
Edwars menulis sebuah buku yang
berjudul A Treatise Concerning Religious
Affections. Buku pertama yang memilah antara pengalaman rohani yang palsu
dan yang sejati di tengah banyaknya ajaran dan praktek keagamaan yang simpang
siur dan membingungkan, serta menuntun menuju pengalaman rohani sejati seperti
yang diajarkan oleh Alkitab. Sebelum Edwards menulis buku A Treatise Concerning Religious Affections, dia diminta oleh teman
dekatnya Joshep Bellamy untuk menuliskan kata pengantar pada bukunya yang
berjudul True Religion Delineated. Stephen
menuliskan kata pengantar yang ditulis oleh Edwards sebagai berikut.
Keberadaan Allah haruslah
dianggap sebagai hal pertama, terbesar dan yang paling mendasari segala sesuatu
yang menjadi objek pengetahuan atau kepercayaan. Hal berikutnya yang harus
diperhitungkan adalah natur agama sesuai dengan kehendak Allah bagi kita, dan
harus ditemukan di dalam diri kita, supaya dapat menikmati manfaat-manfaat dari
kebaikan Allah: atau sebaliknya, hal ini harus dihargai sebagai sama pentingnya
dengan hal lain; sebab dengan cara yang demikian akan membawa kita untuk
mengerti bagaimana kita dapat menghormati dan menyenangkan hati Allah, dan
diterima oleh-Nya, seperti hal itu telah membawa kita untuk mengenal Dia
sebagai suatu keberadaan.
Ini adalah akibat yang tak
terbatas bagi setiap orang; masing-masing berurusan dengan Allah sebagai hakim
yang tertinggi, yang akan memulihkan keadaan kekalnya, seperti ketikadia
menemukan Allah baik melalui ataupun tanpa melalui agama yang sejati. Hal ini
juga merupakan suatu hal yang secara luas membangkitkan minat publik terhadap
gereja Tuhan.
Sehubungan
dengan pengalaman rohani, Edwards menghubungkannya dengan emosi dari orang yang
mengalaminya. Kata afeksi dalam buku
ini juga berarti “emosi” atau “perasaan”.
Apa hubungannya emosi dengan
pengalaman rohani? Emosi adalah suatu gerakan yang lebih hidup dan intens dari
kecenderungan hati dan kehendak. Allah telah memberikan kekuatan utama dalam
jiwa manusia. Kekuatan pertama ialah pengertian (understanding) yang bisa digunakan untuk menguji dan menilai
sesuatu. Kekuatan yang kedua ialah kecenderungan (inclination) hati yang sering disebut dengan kehendak (will) yang digunakan untuk melihat
seuatu dengan menyukai atau tidak menyukainya, puas atau tidak puas
terhadapnya, menerima atau menolaknya, namun bukan dengan mengamati secara
apatis.[15]
Kerohanian sejati memiliki hati yang
sungguh dan bersemangat merupakan hasil dari sunat rohani, atau kelahiran baru,
yang bersamanya tersedia janji-janji kehidupan.[16]
Edwards menuliskan manfaat dari kerohanian sejati ialah:[17]
First, Love to Christ: "Whom having not
yet seen, ye love." The world was ready to wonder, what strange principle
it was, that influenced them to expose themselves to so great sufferings, to
forsake the things that were seen, and renounce all that was dear and pleasant,
which was the object of sense. They seemed to the men of the world about them,
as though they were beside themselves, and to act as though they hated
themselves; there was nothing in their view, that could induce them thus to
suffer, and support them under, and carry them through such trials. But
although there was nothing that was seen, nothing that the world saw, or that
the Christians themselves ever saw with their bodily eyes, that thus influenced
and supported them, yet they had a supernatural principle of love to something
unseen; they loved Jesus Christ, for they saw him spiritually whom the world
saw not, and whom they themselves had never seen with bodily eyes.
Second, Joy in Christ. Though their outward
sufferings were very grievous, yet their inward spiritual joys were greater
than their sufferings; and these supported them, and enabled them to suffer
with cheerfulness.
Menurut
Edwards sebuah pengakuan adalah benar jika dan hanya jika itu adalah
kepemilikan yang dibuktikan dalam perbuatan.[18] Edwards
juga menunjukkan tanda-tanda pasti dan bukan tanda-tanda yang pasti.[19]
If anyone, on the
reading of what has been just now said, is ready to acquit himself, and say,
"I am not one of those who have no religious affections; I am often greatly
moved with the consideration of the great things of religion:" let him not
content himself with this, that he has religious affections: for as we observed
before, as we ought not to reject and condemn all affections, as though true
religion did not at all consist in affection; so on the other hand, we ought
not to approve of all, as though everyone that was religiously affected had
true grace, and was therein the subject of the saving influences of the Spirit
of God; and that therefore the right way is to distinguish among religious
affections, between one sort and another. Therefore let us now endeavor to do
this; and in order to do it, I would do two things.
I. I would mention
some things, which are no signs one way or the other, either that affections
are such as true religion consists in, or that they are otherwise; that we may
be guarded against judging of affections by false signs.
II. I would observe
some things, wherein those affections which are spiritual and gracious, differ
from those which are not so, and may be distinguished and known. First, I would
take notice of some things, which are no signs that affections are gracious, or
that they are not.
Edwards menulis buku ini untuk
melawan kaum Arminianisme yang menyatakan setiap manusia memiliki kehendak
bebas yang bebas memilih mana yang baik dan mana yang jahat. Setiap manusia
memiliki kehendak bebas masing-masing, namun kehendak bebas tersebut berada
dalam kedaulatan Allah. Dalam teologia reformed kehendak bebas yang dimaksudkan
adalah pilihan bebas manusia terhadap apa yang telah disediakan oleh Allah.
Calvin dalam Institutio mengatakan
“Kehendak bebas tidak menyanggupkan manusia untuk
berbuat baik, kecuali kalau ia dibantu oleh anugerah Allah, yaitu anugerah
istimewa yang hanya diberikan kepada mereka yang terpilih, melalui kelahiran
kembali. Manusia dikatakan mempunyai kehendak bebas bukan karena agaknya dengan
bebas ia dapat menentukan pilihan antara yang baik dan yang jahat, melainkan
karena kejahatan yang dilakukannya, dilakukannya menurut kemauannya dan bukan
karena dipaksa.
Pendapat Arminianisme
tentang kehendak bebas memiliki konsekuensi kuasa penetapan diri dan kotingensi.
Edwards menjelaskan maksud dari penetapan diri dan kotingensi.[20]
“Suatu kedaulatan tertentu yang dimiliki kehendak terhadap dirinya sendiri dan semua
tindakannya, yang menentukan kemampuannya untuk memilih; supaya jangan
bergantung, dalam penetapannya, pada penyebab apa pun tanpa dirinya sendiri,
tidak pula berketetapan untuk memilih sesuatu dan mendahului tindakanya
sendiri. kotingensi adalah yang berlawanan dengan semua keharusan atau hubungan
tertentu yang sudah tetap dengan sejumlah alasan sebelumnya atau alasan dari
keberadaan."
Luther
mengatakan,” Kehendak bebas manusia telah hilang oleh karena terkurung oleh
kuasa dosa dan dipaksa untuk melayani dosa dan sebagai akibatnya tidak dapat
melakukan kehendak baik dan benar.[21] Kehendak
bebas bukan berarti kebebasan untuk melakukan kehendaknya sendiri, kebebasan
berkaitan dengan tindakan yang berdasarkan natur seseorang. Kejatuhan Adam ke
dalam dosa sangat membantu untuk memahami konsep kebebasan.
Allah menciptakan manusia untuk
melayani, menyembah, dan memiliki persekutuan dengan-Nya. Namun, kejatuhan
menghalangi manusia untuk mencapai tujuan penciptaan. Dengan kata lain,
keselamatan memulihkan manusia kepada peranan yang telah direncanakan bagi
manusia dan memampukan manusia untuk melakukan tujuan penciptaan dan menjadikan
untuk apa manusia diciptakan.[22]
Ketika manusia sudah diselamatkan
dan di dalam kemuliaan dan dalam keadaan tanpa dosa, maka manusia akan
sepenuhnya menjadi apa yang direncanakan Tuhan bagi manusia sejak kekekalan,
bahkan manusia tidak dapat memilih untuk berbuat dosa atau tidak berdosa. Untuk
menjawab pendapat Arminian tentang kehendak bebas dengan menekankan kedaulatan
Allah. Edwards menyatakan, “kedaulatan Allah adalah kesanggupan dan
otoritas-Nya untuk melakukan apa saja yang menyenangkan-Nya.[23] Sebagai
akhir dari Freedom of the Will,
Edwards menyatakan:[24]
Natur dari iman sejati menyiratkan suatu
kencederungan untuk menyerahkan segala kemuliaan dari keselamatan kepada Allah
dan Kristus. Dia juga menjelaskan, pertobatan seorang berdosa tidak tergantung
pada ketetapan diri seseorang, tetapi pada penetapan Allah dan pilihan kekal
yang bersifat mutlak serta bergantung pada kehendak Allah yang berdaulat, bukan
pada kebebasan manusia. Akhirnya Edwards mengajukan sebuah pandangan tentang
kehendak, kebebasan, dan keselamatan yang menyerahkan segalanya bagi kemuliaan Allah.
KESIMPULAN
Pemikiran
Jonathan Edwars berkontribusi dalam perkebangan gereja pada masa kini, khusunya
dalam Kebaktian Kebangunan Rohani yang sering dilakukan baik di Indonesia
maupun di Amerika oleh gereja. Kebangunan-kebangunan rohani yang terjadi selama
dua abad ini (terutama yang kedua (1800)), telah memberi kepastian yang tetap
kepada sebagian besar dari Protestantisme di Amerika. Gereja-gereja yang paling giat di dalamnya
(Gereja-gereja Metodis dan Baptis) menjadi gereja-gereja protestan terbesar di
Amerika.
Pengaruh
kebangunan terasa dalam kehidupan orang Kristen secara individual, yang melatih
imannya dengan pembacaan Alkitab sehari-hari, saat teduh, dalam kebaktian
mereka yang cenderung bersifat bebas dan penuh perasaan, khotbah-khotbah yang
praktis, serta teologi yang cenderung kepada biblisisme.[25]
Selain
itu, pemikiran Edwards membantu penulis untuk lebih memahami arti dari
kebangunan Rohani dan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan. Sosok Edwars
sendiri memberikan inspirasi kepada penulis untuk terus belajar dan
mengembangkan diri melalui hal-hal kecil yang berkenan dihadapan Tuhan.
Uraian
tentang kehendak bebas Edwards semakin menegaskan makna dari kedaulatan Allah
yang menopang kehidupan ciptaan-Nya dan semakin menundukkan diri kepada Tuhan,
karena kemuliaan dan kekudusan, serta kebenaran-Nya yang mutlak dan tidak dapat
diselami oleh kehendak dan rasio manusia. Sebab, Dia adalah Allah yang besar,
jika Dia dapat diselami oleh rasio manusia, berarti Dia bukanlah Allah. Akhirnya
segala kemuliaan dan kuasa hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus.
DAFTAR PUSTAKA
Nichols, Stephen J., Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam
Kehidupan dan Pemikiranya, Surabaya: Momentum, 2009.
Rajendran,
A., ed. 100 Peristiwa Penting dalam
Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gnung Mulia, 2011.
Lane,
Tony, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran
Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Needham,
N. R., ed, Pengalaman Rohani Sejati,
Surabaya: Momentum, 2008.
Edwards, Jonathan,
(1703-1758), Religious Affections, Grand Rapids, MI: Christian Classics
Ethereal Library, 1746.
Edwards,
Jonathan (1703-1758), Freedom of the Will, Grand Rapids, MI: Christian Classics
Ethereal Library.
Pranoto,
Minggus M., VERITAS 7/2, Oktober 2006.
[14]
Kata afeksi dalam buku ini juga
berarti “emosi” atau “perasaan”. Afeksi sebenarnya
banyak memiliki arti, definisi Edwards tentang Afeksi adalah respon yang kuat dari hati. Kata emosi digunaka
penulis buku aslinya untuk mengurangi kesalahan penafsiran. N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, (Surabaya:
Momentum, 2008) xiii.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar