Senin, 29 September 2014

Jonathan Edwards

PENDAHULUAN       
            Jonathan Edwards adalah sosok bapa gereja yang dapat dijadikan contoh dan teladan dalam setiap pemikiran dan pelayanannya. Banyak buku-buku Edwards yang mempengaruhi gereja-gereja di Amerika dan New England. Buku yang terkenal adalah A Treatise Concerning Religious Affections yang menguraikan tentang kebangunan rohani dan pengalaman rohani Edwards. Selain itu, Edwards juga terkenal dengan Freedom of the Will yang memberi jawaban kepada kaum Arminian tentang kehendak bebas manusia.
            Edwards dalam pemikirannya banyak menganut pemikiran Calvin, namun dia menolak disebut sebagai kaum Calvinisme. Dalam menjawab pertentang dengan kaum Arminianisme, Edwards dengan santun dan sopan menulis buku untuk menjawab permsalah dengan Aminian, namun dia tidak menyebutkan nama Arminian maupun sebutan yang lain, meski demikian orang segera dapat mengetahui siapa yang dimaksud dalam bukunya dengan mengetahui pemikiran dari tokoh yang di bahasnya.
Biografi Jonathan Edwards
Jonathan Edwards adalah pencetus pertama kebangunan rohani di Amerika Serikat pada tahun 1734-1735.[1] Edwards lahir pada tahun 1703 di Northampton, Massachussets, Amerika Serikat. Edwards adalah seorang anak yang cerdas, pandai dan sangat saleh. Ayah Edwars bernama Timothy  Edwards dan ibunya bernama Esther Stoddard. Timothy Edwards pernah mengeyam pendidikan di Harvard dan meraka menetap di East Windsor, Connecticut River Valley.[2] Edwars adalah anak laki-laki satu-satunya dari sebelas orang anak Timothy. Anak-anak mereka memiliki tinggi badan yang tidak lazim bagi orang-orang pada saat itu, mereka rata-rata memiliki tinggi badan sekitar 18 meter.
Edwards belajar Alkitab, katekismus dan warisan yang kaya dari iman Puritan dan Reformed dari ayah-ibunya. Timothy Edwards dan Solomon Stoddard telah mempersiapkan bagi Edwards “sekolah berkhotbah Connecticut Rever Valley”. Pada tahun 1716, Edwards masuk ke Universitas Yale saat itu umurnya baru tiga belas tahun. Edwards di kenal sebagai seorang revivalist di samping sebagai seorang teolog dan psikolog. Peristiwa-peristiwa kunci pada abad ke-18, termasuk perang Tujuh Tahun dan Kebangunan Rohani Besar, menyentuh kehidupannya. Nenek moyangnya termasuk para pemukim mula-mula dan keturunannya termasuk dalam kelompok pemimpin Republik yang masih baru.[3]
Di Universitas Yale, Edwards belajar filsafat dan ilmu jiwa, terutama filsafat John Locke dan Newton. Karya Newton memampukan Edwards untuk melihat keniscayaan mutlak topangan Allah secara aktif atas ciptaan-Nya. Pengaruh Newton atas Edwards terlihat dalam berbagai macam karangan ilmiah, seperti “The Wisdomof God in the Contrivance of the World.”[4] Saat berada di Universitas Yale, kepala dan staf dosen menginginka para mahasiswanya tidak mengabaikan hari sabat atau longgar dalam pembentukan karakter rohani. Sehingga pihak Universitas meminta mahasiswa untuk membuat catatan dari semua khotbah yang diberikan
Text Box: 1.1 Yale Charter (1701)
By the Governor, Council & Representatives of His Majesty’s
Colony of Connecticut in General Court assembled,
New Heaven, Oct. 9, 1701:
An act for liberty to erect a collegiate school.

Whereas several well disposed, and publick spiritual persons of their sincere regard to & zeal for upholding & propagating of the Christian Protestant religion by a succession of learned & orthodox men have expresses by pettion their earnest desires that full liberty and privilege be granted unto certain undertakers for the founding, suitably endowing & ordering of a collegiate school within his Majesty’s Colony of Connecticut wherein youth may be instructed in the arts and sciences who through the blessing of Almighty God may be fitted for publik employment both in church and civil state.

selama Hari Tuhan itu.[5] Stephen J. Nichols memberikan contoh catatan khotbah.
Pada tahun 1727, Edwards mengalami suatu pertobatan yang kisahnya ditulis dalam buku hariannya. Edwards merupakan seorang Calvinisme sejati yang mempertahankan predestinasi dan pemeliharaan Allah. Edwards menjadi pendeta pembantu kakeknya yang bernama Solomon Stoddrad di Northampton. Setelah kakeknya meninggal pada tahun 1729, Edwards menjadi pendeta tunggal disana.[6]
Selama Edwards di Northampton terjadi kebangunan rohani di jemaat itu pada tahun 1734-1735, yang timbul dari khotbahnya sendiri dan pada tahun 1740 karena pelayanan George Whitefield dari New England.[7] Tidak lama setelah ia menjadi pendeta, Edwards menikahi Sarah Pierpont, seorang yang bijaksana, can tik dan tulus. Edwards melawan mati-matian ajaran Armenianisme, menurutnya manusia yang jatuh ke dalam dosa berada dalam keadaan tanpa pengharapan untuk memperoleh keselamatan, dan keselamatan itu semata-mata adalah anugerah Allah.[8]
Akibat dari perlawanannya terhadap ajaran Armenian, Edwards diusir dari Northampton pada tahun 1750. Edwards setelah pengusirannya dari Northampton, berjalan berkeliling untuk kebangunan rohani, ia juga mengadakan kebangunan rohani di Stockbridge yang sangat berhasil. Selama di Stockbridge, Edwards menginjili orang-orang Indian dan di sana juga dia menulis sejumlah tulisan, termasuk karyanya yang terbesar Freedom of teh Will (Kebesasann Kehendak). Pada tahun 1757, Edwards diminta untuk menjadi rektor di universitas New Jersie College (sekarang Princeton University).[9]
Dalam Khotbah Edwards yang terkenal Sinners in the Hand of an Anggry God (orang-orang berdosa di tangan Allah yang murka), menyebabkan kebangunan Rohani. Tony Lane mengatakan:
Allah yang menaruh kamu di atas lubang neraka, sama seperti kalau orang menaruh serangga yang memuakkan di atas api, membenci kamu dan amarah-Nya yang mengerikan telah dibangkitkan. Murka-Nya terhadapmu membara seperti api; Ia menganggap kamu tidak pantas untuk yang lain daripada melempar kamu ke dalam api. Mata-Nya murni dan tidak tahan melihat kamu. Kamu sepuluh ribu lebih buruk di dalam mata-Nya daripada ular yangpaling dibencidalam mata kita. Kamu sudah menghina-Nya lebih dari seorang pemberontak melawan tuannya. Toh hanya tangan Dia yang menahan kamu jatuh ke dalam api setiap saat.
 
Pada Tahun 1746, Edwards menulis  buku yang berjudul Religious Affections (perasaan-perasaan keagamaan) yang menyelidiki sifat keagamaan sejati. Melawan penentang kebangunan rohani yang rasionalis, ia menegaskan bahwa keagamaan sesungguhnya tidak terdapat di dalam pikiran, tetapi di dalam perasaan (hati, emosi, dan kehndak).[10] Edwards juag dipengaruhi oleh mistik, ia mengatakan bahwa dalam hal agama, baik akal maupun perasaan memegang peranan yang penting. Bila seseorang hendak dibuat bertobat, maka pertama-tama bulu romannyalah yang harus berdiri tegak.[11]
Edwards tidak sendirian yang berkhotbah dalam kebangunan rohani. Theodore Freylinghuysen, seorang pastor Jerman di New Jersey yang bekerja dengan jemaat Reformasi Belanda sejak tahun 1720, telah membawa hasil kebangunan rohani dan juga perselisihan. George Whitefield seorang pendeta anglikan dan teman dari John Wesly, mulai mengajar di Amerika pada tahun 1738, dengan tidak menghiraukan ikatan denominasi dan karena semuanya untuk Kristus, dengan tidak mengenal rasa lelah, ia melintasi berbagai negara bagiandan mengajarkan berita pertobatan.[12] Salah satu tulisannya paling dicintai oleh banyak orang yang berjudul Personal Narrative.[13]

Text Box: 1.2 “Personal Narrative”

After [my conversion] my sense of divine things gradually increased, and became more and more lively, and had more of that in ward sweetness. The appearance of everything was altered: there seemed to be as it were a calm, sweet cast, or appearance of divine glory,in almost everything. God’s excellency, his wisdom, his purity and love, seemed to appear  in everything; in the sun, moon and stars; in the clouds and blue sky; in the grass, flowers, trees; in the water, and all nature; which used greatly to fix my mind. I often used to sit and view the moon, for a long time; and so in the daytime, spent much time in viewing the clouds and sky, to behold the sweet glory of God in these thing: in the meantime, singing forth with a low voice, my contemplations of the Creator an Redeemer....
I have loved the doctrines of the Gospel: they have been to my soul like green pastures. The Gospel has seemed to me to be the richest treasure; the treasure thet I have most desired, and longed thal it might dwell richly in me. The way of salvation by Christ, has appeared in a general way, glorious and axcellnt, and most pleasant and beautiful. It has often seemed to me, that in would in great measure spoil heaven, to receive it in any other way.
KEBANGUNAN ROHANI
Risalah Mengenai Afeksi[14] Rohani.
            Edwars menulis sebuah buku yang berjudul A Treatise Concerning Religious Affections. Buku pertama yang memilah antara pengalaman rohani yang palsu dan yang sejati di tengah banyaknya ajaran dan praktek keagamaan yang simpang siur dan membingungkan, serta menuntun menuju pengalaman rohani sejati seperti yang diajarkan oleh Alkitab. Sebelum Edwards menulis buku A Treatise Concerning Religious Affections, dia diminta oleh teman dekatnya Joshep Bellamy untuk menuliskan kata pengantar pada bukunya yang berjudul True Religion Delineated. Stephen menuliskan kata pengantar yang ditulis oleh Edwards sebagai berikut.
Keberadaan Allah haruslah dianggap sebagai hal pertama, terbesar dan yang paling mendasari segala sesuatu yang menjadi objek pengetahuan atau kepercayaan. Hal berikutnya yang harus diperhitungkan adalah natur agama sesuai dengan kehendak Allah bagi kita, dan harus ditemukan di dalam diri kita, supaya dapat menikmati manfaat-manfaat dari kebaikan Allah: atau sebaliknya, hal ini harus dihargai sebagai sama pentingnya dengan hal lain; sebab dengan cara yang demikian akan membawa kita untuk mengerti bagaimana kita dapat menghormati dan menyenangkan hati Allah, dan diterima oleh-Nya, seperti hal itu telah membawa kita untuk mengenal Dia sebagai suatu keberadaan.
Ini adalah akibat yang tak terbatas bagi setiap orang; masing-masing berurusan dengan Allah sebagai hakim yang tertinggi, yang akan memulihkan keadaan kekalnya, seperti ketikadia menemukan Allah baik melalui ataupun tanpa melalui agama yang sejati. Hal ini juga merupakan suatu hal yang secara luas membangkitkan minat publik terhadap gereja Tuhan.
Sehubungan dengan pengalaman rohani, Edwards menghubungkannya dengan emosi dari orang yang mengalaminya. Kata afeksi dalam buku ini juga berarti “emosi” atau “perasaan”.
            Apa hubungannya emosi dengan pengalaman rohani? Emosi adalah suatu gerakan yang lebih hidup dan intens dari kecenderungan hati dan kehendak. Allah telah memberikan kekuatan utama dalam jiwa manusia. Kekuatan pertama ialah pengertian (understanding) yang bisa digunakan untuk menguji dan menilai sesuatu. Kekuatan yang kedua ialah kecenderungan (inclination) hati yang sering disebut dengan kehendak (will) yang digunakan untuk melihat seuatu dengan menyukai atau tidak menyukainya, puas atau tidak puas terhadapnya, menerima atau menolaknya, namun bukan dengan mengamati secara apatis.[15]
            Kerohanian sejati memiliki hati yang sungguh dan bersemangat merupakan hasil dari sunat rohani, atau kelahiran baru, yang bersamanya tersedia janji-janji kehidupan.[16] Edwards menuliskan manfaat dari kerohanian sejati ialah:[17]
First, Love to Christ: "Whom having not yet seen, ye love." The world was ready to wonder, what strange principle it was, that influenced them to expose themselves to so great sufferings, to forsake the things that were seen, and renounce all that was dear and pleasant, which was the object of sense. They seemed to the men of the world about them, as though they were beside themselves, and to act as though they hated themselves; there was nothing in their view, that could induce them thus to suffer, and support them under, and carry them through such trials. But although there was nothing that was seen, nothing that the world saw, or that the Christians themselves ever saw with their bodily eyes, that thus influenced and supported them, yet they had a supernatural principle of love to something unseen; they loved Jesus Christ, for they saw him spiritually whom the world saw not, and whom they themselves had never seen with bodily eyes.
Second, Joy in Christ. Though their outward sufferings were very grievous, yet their inward spiritual joys were greater than their sufferings; and these supported them, and enabled them to suffer with cheerfulness.
 
Menurut Edwards sebuah pengakuan adalah benar jika dan hanya jika itu adalah kepemilikan yang dibuktikan dalam perbuatan.[18] Edwards juga menunjukkan tanda-tanda pasti dan bukan tanda-tanda yang pasti.[19]
If anyone, on the reading of what has been just now said, is ready to acquit himself, and say, "I am not one of those who have no religious affections; I am often greatly moved with the consideration of the great things of religion:" let him not content himself with this, that he has religious affections: for as we observed before, as we ought not to reject and condemn all affections, as though true religion did not at all consist in affection; so on the other hand, we ought not to approve of all, as though everyone that was religiously affected had true grace, and was therein the subject of the saving influences of the Spirit of God; and that therefore the right way is to distinguish among religious affections, between one sort and another. Therefore let us now endeavor to do this; and in order to do it, I would do two things.
I. I would mention some things, which are no signs one way or the other, either that affections are such as true religion consists in, or that they are otherwise; that we may be guarded against judging of affections by false signs.
II. I would observe some things, wherein those affections which are spiritual and gracious, differ from those which are not so, and may be distinguished and known. First, I would take notice of some things, which are no signs that affections are gracious, or that they are not.
 FREEDOM OF THE WILL
            Edwards menulis buku ini untuk melawan kaum Arminianisme yang menyatakan setiap manusia memiliki kehendak bebas yang bebas memilih mana yang baik dan mana yang jahat. Setiap manusia memiliki kehendak bebas masing-masing, namun kehendak bebas tersebut berada dalam kedaulatan Allah. Dalam teologia reformed kehendak bebas yang dimaksudkan adalah pilihan bebas manusia terhadap apa yang telah disediakan oleh Allah. Calvin dalam Institutio mengatakan
“Kehendak bebas tidak menyanggupkan manusia untuk berbuat baik, kecuali kalau ia dibantu oleh anugerah Allah, yaitu anugerah istimewa yang hanya diberikan kepada mereka yang terpilih, melalui kelahiran kembali. Manusia dikatakan mempunyai kehendak bebas bukan karena agaknya dengan bebas ia dapat menentukan pilihan antara yang baik dan yang jahat, melainkan karena kejahatan yang dilakukannya, dilakukannya menurut kemauannya dan bukan karena dipaksa.
 
Pendapat Arminianisme tentang kehendak bebas memiliki konsekuensi kuasa penetapan diri dan kotingensi. Edwards menjelaskan maksud dari penetapan diri dan kotingensi.[20]
 
“Suatu kedaulatan tertentu yang dimiliki  kehendak terhadap dirinya sendiri dan semua tindakannya, yang menentukan kemampuannya untuk memilih; supaya jangan bergantung, dalam penetapannya, pada penyebab apa pun tanpa dirinya sendiri, tidak pula berketetapan untuk memilih sesuatu dan mendahului tindakanya sendiri. kotingensi adalah yang berlawanan dengan semua keharusan atau hubungan tertentu yang sudah tetap dengan sejumlah alasan sebelumnya atau alasan dari keberadaan."
 
Luther mengatakan,” Kehendak bebas manusia telah hilang oleh karena terkurung oleh kuasa dosa dan dipaksa untuk melayani dosa dan sebagai akibatnya tidak dapat melakukan kehendak baik dan benar.[21] Kehendak bebas bukan berarti kebebasan untuk melakukan kehendaknya sendiri, kebebasan berkaitan dengan tindakan yang berdasarkan natur seseorang. Kejatuhan Adam ke dalam dosa sangat membantu untuk memahami konsep kebebasan.
            Allah menciptakan manusia untuk melayani, menyembah, dan memiliki persekutuan dengan-Nya. Namun, kejatuhan menghalangi manusia untuk mencapai tujuan penciptaan. Dengan kata lain, keselamatan memulihkan manusia kepada peranan yang telah direncanakan bagi manusia dan memampukan manusia untuk melakukan tujuan penciptaan dan menjadikan untuk apa manusia diciptakan.[22]
            Ketika manusia sudah diselamatkan dan di dalam kemuliaan dan dalam keadaan tanpa dosa, maka manusia akan sepenuhnya menjadi apa yang direncanakan Tuhan bagi manusia sejak kekekalan, bahkan manusia tidak dapat memilih untuk berbuat dosa atau tidak berdosa. Untuk menjawab pendapat Arminian tentang kehendak bebas dengan menekankan kedaulatan Allah. Edwards menyatakan, “kedaulatan Allah adalah kesanggupan dan otoritas-Nya untuk melakukan apa saja yang menyenangkan-Nya.[23] Sebagai akhir dari Freedom of the Will, Edwards menyatakan:[24]
 
Natur dari iman sejati menyiratkan suatu kencederungan untuk menyerahkan segala kemuliaan dari keselamatan kepada Allah dan Kristus. Dia juga menjelaskan, pertobatan seorang berdosa tidak tergantung pada ketetapan diri seseorang, tetapi pada penetapan Allah dan pilihan kekal yang bersifat mutlak serta bergantung pada kehendak Allah yang berdaulat, bukan pada kebebasan manusia. Akhirnya Edwards mengajukan sebuah pandangan tentang kehendak, kebebasan, dan keselamatan yang menyerahkan segalanya bagi kemuliaan Allah.
 
KESIMPULAN
Pemikiran Jonathan Edwars berkontribusi dalam perkebangan gereja pada masa kini, khusunya dalam Kebaktian Kebangunan Rohani yang sering dilakukan baik di Indonesia maupun di Amerika oleh gereja. Kebangunan-kebangunan rohani yang terjadi selama dua abad ini (terutama yang kedua (1800)), telah memberi kepastian yang tetap kepada sebagian besar dari Protestantisme di Amerika.  Gereja-gereja yang paling giat di dalamnya (Gereja-gereja Metodis dan Baptis) menjadi gereja-gereja protestan terbesar di Amerika.
Pengaruh kebangunan terasa dalam kehidupan orang Kristen secara individual, yang melatih imannya dengan pembacaan Alkitab sehari-hari, saat teduh, dalam kebaktian mereka yang cenderung bersifat bebas dan penuh perasaan, khotbah-khotbah yang praktis, serta teologi yang cenderung kepada biblisisme.[25]
Selain itu, pemikiran Edwards membantu penulis untuk lebih memahami arti dari kebangunan Rohani dan pengalaman rohani bersama dengan Tuhan. Sosok Edwars sendiri memberikan inspirasi kepada penulis untuk terus belajar dan mengembangkan diri melalui hal-hal kecil yang berkenan dihadapan Tuhan.
Uraian tentang kehendak bebas Edwards semakin menegaskan makna dari kedaulatan Allah yang menopang kehidupan ciptaan-Nya dan semakin menundukkan diri kepada Tuhan, karena kemuliaan dan kekudusan, serta kebenaran-Nya yang mutlak dan tidak dapat diselami oleh kehendak dan rasio manusia. Sebab, Dia adalah Allah yang besar, jika Dia dapat diselami oleh rasio manusia, berarti Dia bukanlah Allah. Akhirnya segala kemuliaan dan kuasa hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus.
DAFTAR PUSTAKA
 Wallen, F. D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Nichols, Stephen J., Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, Surabaya: Momentum, 2009.
Rajendran, A., ed. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK Gnung Mulia, 2011.
Lane, Tony, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
Needham, N. R., ed, Pengalaman Rohani Sejati, Surabaya: Momentum, 2008.
Edwards, Jonathan, (1703-1758), Religious Affections, Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library, 1746.
Edwards, Jonathan (1703-1758), Freedom of the Will, Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library.
Pranoto, Minggus M., VERITAS 7/2, Oktober 2006.
 


       [1] F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009) 72.
       [2] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, (Surabaya: Momentum, 2009) 16.
       [3] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 15.
       [4] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 21.
       [5] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 19.
       [6] A. Rajendran, ed. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, (Jakarta: BPK Gnung Mulia, 2011) 108.
       [7] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012) 158.
       [8] F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja,72.
       [9] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani,159.
       [10] Tony Lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani,159.
       [11] F. D. Wallen, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja,72.
       [12] A. Rajendran, ed. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, 109.
       [13] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 24.
       [14] Kata afeksi dalam buku ini juga berarti “emosi” atau “perasaan”. Afeksi sebenarnya banyak memiliki arti, definisi Edwards tentang Afeksi adalah respon yang kuat dari hati. Kata emosi digunaka penulis buku aslinya untuk mengurangi kesalahan penafsiran. N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, (Surabaya: Momentum, 2008) xiii.
       [15] N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, 5.
       [16] N. R. Needham, ed, Pengalaman Rohani Sejati, 8.
       [17] Jonathan Edwards, (1703-1758), Religious Affections (Grand Rapids, MI: Christian Classics Ethereal Library, 1746) 7.
       [18] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 114.
       [19] Jonathan Edwards, (1703-1758), Religious Affections, 32.
       [20] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 183.
       [21] Minggus M. Pranoto, VERITAS 7/2 (Oktober 2006) 209.
       [22] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 184.
       [23] Stephen J. Nichols, Jonathan Edwards: Penuntun ke dalam Kehidupan dan Pemikiranya, 187.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar