Senin, 29 September 2014

keselamatan


KESELAMATAN DALAM AGAMA BUDDHA

Agama Buddha
Buddha  termasuk salah satu agama falsafah, usaha akal manusia untuk mencari kedamaian dengan rumusan-rumusan yang sistematis. Agama Buddha tidak bercorak Theosentris, tetapi Homosentris. Nama Buddha adalah sebutan dari pembawa ajaran yaitu Siddhartha Gautama. Nama Buddha berasal dari bahasa sansekerta “buddh” yang berarti “bangun” atau “mengetahui”. Buddha mempunyai arti bangun dari malam kesesatan dan sekarang berada di tengah-tengah cahaya pemandangan yang benar.[1] Buddha mempunyai sebutan lain, yaitu: Bhagavat (berarti, yang luhur) dan Tathagata (berarti, yang sempurna).

Siddharta adalah anak seorang Raja Kapilawastu yang bernama raja Suddhodana dan ibunya bernama Maya yang memerintah suku Shakya di daerah penggunungan Himalaya dan diantara hulu sungai Rapti dan Gandak. Siddhartha lahir pada tahun 563 SM dan meninggal 483 SM.[2] Nama Siddhartha mempunyai arti “yang mencapai maksud tujuannya”, selain itu juga mempunyai beberapa sebutan, antara lain: Gautama yang berarti Keturunan Guru Weda Gautama, Shakyamuni berarti rahib atau yang bijaksana dari Shakya, Shaakya-Sinha artinya singa dari kaum Shakya.[3]

Kitab Buddha bernama Tripitaka yang berarti tiga keranjang. Keranjang yang dimaksuda adalah pengelompokkan sumber-sumber tertulis sekitar abad pertama. ketiga kitab yang dikelompokkan itu ialah Sutra Pitaka atau Sutta Pitaka yang berisi Dharma (dhamma) ajaran Buddha kepada muridnya:[4]

1.      Adhidharma (Abhidhamma), berisi ajaran yang lebih mendalam mengenai hakekat dan tujuan manusia, ilmu atau pengetahuan yang membawa kepada kelepasan.

2.      Winaya Pitaka, berisi peraturan-peraturan untuk mengatur tata tertib Sangha atau jemaat dan hidup sehari-hari seorang bhiksu atau bhikku.

Di dalam agama Buddha terdapat dua golongan atau aliran yang diakibatkan dari pengumpulan dan penetapan kitab Sutra dan Winaya pitaka. Golongan pertama, Hinayana yang tetap memegang teguh pada peraturan Winaya. Golongan kedua, Mahayana yang menerima perubahan-perubahan dalam kitab Winaya. Perubahan-perubahan kitab Buddha terjadi sekitar tahun 383 SM dalam seminar Rajgraha dan menetapkan redaksi dari kitab Sutra dan Winaya Pitaka yang sudah diredaksi ditetapkan sebagai ajaran sang Buddha. Dalam naskah sansekerta dari Mahayana memberi keterangan yang lebih panjang mengenai terjadinya Buddha, naskah penting dari sansekerta ialah Mahaparinibbanasutta dari golongan Hinayana dan Lalitawistara dari golongan Mahayana.[5]

AJARAN-AJARAN DALAM BUDDHA.

Ajaran Penderitaan

Sebagai suatu agama pasti memiliki ajaran-ajaran yang diajarkan kepada Sangha atau jemaat. Buddha memiliki ajaran yang disebut dengan ajaran kelepasan yaitu suatu ajaran yang ingin membawa manusia kepada kelepasan, kerena merasa hidup ini adalah ketidak bebas. Ajaran utama di dalam Buddha dirumuskan dalam empat kebenaran yang mulia atau empat arysatyani. empat kebenaran yang mulia itu antara lain:

1.      Dukha (penderitaan). Berisi hidup adalah penderitaan, mulai dari kelahiran sampai dengan kematian penuh dengan penderitaan.

2.      Samudaya (sebab). Penderitaan adalah penyebab. Penyebab orang dilahirkan kembali adalah keinginan kepada hidup dengan disertai nafsu yang mencari kepuasan.

3.      Nirodha (pemadaman). Pemadaman penderitaan melalui penghapusan, pembuangan dan penyangkalan terhadap keinginan.

4.      Marga (jalan kelepasan). Ajaran ini mengajarkan jalan tentang kelepasan dari penderitaan. Namun, ada delapan jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan kelepasan

Penderitaan menjadi ajaran pokok dalam pengajaran Buddha, sebab Buddha datang ke dunia karena penderitaan. Untuk menerangkan ajaran ini diajarkan Pratitya samutpada, yang berate pokok permulaan yang bergantungan. Harun Hadiwijono merumuskan duabelas pokok permulaan, antara lain:

Menjadi tua dan mati (jaramaranam) bergantung pada kelahiran (jati), kelahiran bergantung pada pada hidup atau eksistensi yang lampau (bhawa), hidup atau eksistensi yang lampau bergantung pada pengikatan kepada makan minum dan sebagainya (upadana), pengikatan bergantung pada kehausan (tanha), kehausan bergantung pada emosi atau rejana (wedana), emosi bergantung pada sentuhan atau kontak (sparsa), sentuhan bergantung pada indera dan sasarannya (sadayatana), indera dengan sasarannya bergantung pada roh dan benda atau keadaan batin dan lahir (namarupa), roh dan benda bergangtung pada penafsiran atau penggambaran yang salah (sanskara), penafsiran yang salah bergantung pada ketidaktahuan (awidya).

Ketidaktahuan yang dimaksud bukan ketidaktahuan dalam pengetahuan secara umum, namun pengetahuan kosmis. Dalam ketidaktahuan kosmis ada tiga pokok hal yang sangat jelas: 1) alam semesta penuh dengan penderitaan (dukha), 2) alam semesta adalah fana (anitya  atau anicca), 3) tiada jiwa dalam dunia ini (anatman atau anatta). ajaran kebergantungan yang diajarkan membawa kepada karma. Karma lah yang menyebabkan manusia dilahirkan kembali, kelahiran kembali yang dimaksud bukan kelahiran kembali jiwa yang menjadi manusia kembali. Kelahiran kembali yang maksud adalah kelahiran kembali watak atau sifat-sifat, atau kepribadian manusia menjadi manusia baru. Konsep ini mirip dengan konsep kelahiran kembali yang dianut oleh umat Kristen yaitu tentang konsep lahir baru.

Ajaran Tentang Jalan Kelepasan (Keselamatan)

Ajaran kelepasan dalam Buddha diungkapa dengan ungkapan Wimoksa atau Wimukti[6]  dengan puncaknya adalah nirwana. Nirwana berarti pemadaman atau pendinginan. Hal-hal yang perlu dipadamkan ialah hal-hal yang menyebabkan penderitaan dan hal-hal yang negative dalam kehidupan manusia seperti: keinginan, api nafsu, kebencian dll. Nirwana digambarkan sebagai suatu tempat yang penuh dengan kebahagiaan dimana penderitaan (samskara) ditindas dengan sempurna, segala skanda dilarutkan, segala keinginan ditiadakan sehingga mencapai keadaan yang benar-benar damai.

Harun Hadiwijono mengungkapkan nirwana sebagai suatu kebahagiaan yang tanpa pengamatan, tanpa perasaan dengan sadar. Nirwana juga disebut sebagai suatu keadaan tanpa ganguan maut (amrtapada), suatu keadaan yang lebih baik daripada segala keadaan di bumi. Buddha mengajarkan seluruh dunia dipandang sebagai sesuatu yang terbakar, terbakar oleh api nafsu (raga), api kejahatan (dosa), api khayalan, api kelahiran, umur tua, mati, sakit, penderitaan-penderitaan dan keputusasaan.

Nirwana dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: Upadhisesa adalah status manusia yang sudah mendapat kelepasan, namun hidup dan lahirnya masih terus berjalan, dan Anuphadisesa merupakan status manusia yang sudah mendapat kelepasan, yang hidup lahirnya sudah tidak ada lagi (terjadi pada kematian orang suci). Untuk mencapai nirwana, manusia harus melalui depalan jalan keselamatan, antara lain:[7]

1.      Percaya yang benar.  percaya dan menyerahkan diri dari percaya dan menyerahkan diri kepada Buddha sebagai Guru yang berwenang mengajarkan kebenaran; percaya dan menyerahkan diri kepada darma atau ajaran Buddha yang membawanya kepad kelepasan dan menyerahkan diri kepada jemaat (sangha) sebagai jalan yang harus dilaluinya.

2.      Maksud yang benar. buah atau hasil percaya yang benar atau pengetahuan yang benar, karena yakin bahwa jalan petunjuk Buddha adalah jalan yang benar.

3.      Kata-kata yang benar. orang harus menjauhkan diri dari kebohongan, membeicarakan kejahatan orang lain, mengucapkan kata-kata kasar, serta percakapan yang tidak senonoh.

4.      Perbuatan yang benar. di dalam segala perbuatannya orang tidak boleh mencari keuntungan sendiri, melainkan harus didorong oleh motif-motif yang murni dan mementingkan peri kemanusiaan.

5.      Hidup yang benar. secara lahir dan batin orang harus murni, bebas dari penipuan diri, tidak hanya mementingkan tingkah laku yang lahir saja.

6.      Usaha yang benar. terdiri dari pengawasan hawa nafsu untuk menjaga jangan sampai di dalam dirinya timbul tabiat-tabiat yang jahat. Ada lima cara untuk melaksanakan usaha yang benar ini:

a.       Memperhatikan cita-cita yang baik.

b.      Memperhatikan bahaya akibat membiarkan cita-cita yang jahat menjadi perbuatan.

c.       Menjauhkan perhatian dari cita-cita yang jahat.

d.      Menganalisa dorongan yang mendorong cita-cita yang jahat.

e.       Memaksa pikiran untuk menjauhkan diri dari yang jahat dengan alat-alat jasmaniah.

7.      Ingatan yang benar. pengawasan akal serta pengawasan rejana atau emosi yang merusak.

8.      Samadhi. Samadhi adalah upacara supaya perhatiannya tidak terpecah. Dalam tingkat ini orang harus banyak merenungkan beberapa hal, antara lain:

a.       Merenungkan bahwa makan-minum membawa banyak kesusahan.

b.      Merenungkan bahwa tubuh terdiri dari 4 unsur, yaitu: bumi, air, api dan angina.

c.       Yang terakhir ialah merenungkan 4 bhawana, yaitu: meta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal), mudita (kesenangan dalam keuntungan dan kesengan akan segala sesuatu), upakha (tidak tergerak oleh hal-hal yang menguntungkan diri sendiri, teman, musuh dll).

Hal-hal yang disebutkan diatas belum dapat mengantarkan manusia untuk mencapai nirwana, masih ada Samadhi yang sebenarnya harus dilakukan supaya manusia bisa menghilangkan dukha atau sukha dan mengantarkan manusia untuk mencapai nirwana. Menurut DR Harun Hadiwijono ada empat tingkatan terakhir yang harus dicapai, yaitu:

1.      Srotapana (pertobatan), ialah tingkatan orang yang sudah ditempatkan dalam arus yang benar, yang disebabkan karena pergaulan yang baik, mendengar hokum dan karena bernuat baik. Pada tingkat ini manusia sudah berlindung kepada Buddha dan mengakui empat kebenaran mulia.

2.      Sakradagamin, tingkatan orang yang harus dilahirkan kembali sekali lagi untuk dapat mencapai kelepasan.

3.      Anagamin, tingkatan orang yang sudah tidak akan dilahirkan kembali dan sudah mendapat kelepasan di dunia sekarang ini, namun belum mencapai nirwana.

4.      Arhat, tingkatan manusia yang sudah bebas dari keinginan dilahirka kembali, biak di dalam dunia bentuk maupun di dalam dunia yang tak berbentuk.

Honig Jr dalam bukunya yang berjudul Ilmu agama mengutip perkataan-perkataan Buddha mengenai nirwana,

“Memang, hai para rahib (biksu), inilah perdamaian, inilah yang luhur, yakni berhentinya segala bentuk karma, terurainya dasar-dasar keadaan, menjadi keringnya nafsu, pemadaman, penghapusan, nirwana. Didorong oleh keinginan, hai para rahib, dibuat marah oleh kebencian, diperdayakan dan dikuasai oleh kesilauan, terikat di dalam akal, maka orang merencanakan kerugiannya sendiri dan kerugian orang lain, orang merencanakan kerugian kedua belah pihak dan orang mengalami penderitaan jiwa dan dukacita. Tetapi apabila keinginan, kebencian dan kesilauan itu lenyap, maka orang tidak merencanakan kerugiannya sendiri mauoun kerugian orang lain, pun pula kerugian kedua pihak dan orang tidak merasakan penderitaan dan dukacita. Dengan demikian nirwana tidak terikat kepada waktu, telah dapat dikenal di dalam hidup in, mengajak, menarik dan dapat dimengerti oleh para budiman.

Hai para rahib, ada suatu lingkungan, di aman tidak ada sesuatu yang padat, maupun sesuatu yang cair, tidak ada panas maupun gerak, tidak ada dunia ini, tidak ada dunia sana, tidak ada matahari ataupun bulan. Hai para rahib, itulah yang kusebut tidak ada yang datang, tidak ada yang pergi, tidak ada yang berhenti, tidak ada yang dilahirkan, tidak ada yang mati. Itu tanpa suatu dasar apapun, tanpa perkembangan, tanpa penumpu: inilah akhir pernderitaan. Itulah suatu kebahagian tanpa penginderaan, suatu ketidak-adaan perasaan dengan kesadaran, kepastian yang berbahagia, bahwa kegelisahan kehidupan-kehidupa itu telah lalu untuk selama-lamanya.”

Pada hakekatnya nirwana itu tidak dapat terpikirkan dan tidak dapat dimengerti, ada dua kemungkinan yang dapat menentukan hakekat nirwana. Pertama, nirwana bukanlah jiwa manusia masuk ke dalam maha jiwa. Kedua, nirwana tidak boleh disebut pembinasaan, tetapi nirwana adalah berhentinya suatu proses.[8]

KESELAMATAN DI DALAM KRISTUS

Buddha mengajarkan untuk mencapai kelepasan (keselamatan) orang harus menyangkal dirinya dari keinginan-keinginan yang jahat (lebih tepatnya memisahkan diri dari dunia). Di dalam kekristenan tidak demikian, keselamatan hanya diperoleh dari pembenaran oleh iman di dalam Yesus Kristus. Perbedaan yang sangat mencolok dalam konsep keselamatan. Sebab Buddha tidak mengenal adanya dosa, karena Buddha tidak menyembah kepada Tuhan, tetapi penderitaanlah yang dianggap sebagai penghalang manusia utnuk mencapai keselamatan (nirwana).

Di dalam kekristenan keselamatan adalah anugerah Allah kepada manusia yang berdosa dan pemebenaran adalah engsel dari keselamatan. Efesus 2:8,9 mengatakan “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Kasih karunia adalam bahasa Yunaninya χάριτί yang berarti anugerah atau kasih karunia. Anugerah adalah pemberian dari pihak atas (yang berkuasa) kepada pihak bawah (yang lemah) secara Cuma-Cuma.

Pembenaran Allah bukan hanya sekedar menyatakan manusia benar. pembenaran karena iman adalah Allah menyatakan orang-orang percaya sebagai orang benar bukan berdasarkan perbuatan-perbuatannya, melainkan berdasarkan pengorbanan Kristus.[9]

Louis Berkhof mendefinisikan pembenaran adalah tindakan Yuridis Allah dimana Ia menetapkan, berdasarkan kebenaran Tuhan Yesus Kristus, bahwa semua tuntutan hukum sudah dipenuhi bagi orang berdosa. Pembenaran mencakup pengampunan dosa dan pembaharuan berdasarkan kasih karunia Allah. Lebih lanjut Berkhof memberikan perhatian terhadap perbedaan-perbedaan sebagai berikut:[10]

1.      Pembenaran menyingkirkan kesalahan karena dosa dan memperbarui orang berdosa untuk semua hak yang mencakup keadaannya sebagai anak Tuhan, termassuk warisan hidup kekal.

2.      Pembenaran terjadi di luar diri orang berdosa dalam tahta pengadilan Allah dan tidak mengubah kehidupan batiniahnya.

3.      Pembenaran terjadi sekali untuk selamanya.

4.      Kendatipun jasa yang menyebabkan pembenaran kedua hal tersebut terletak pada jasa Kristus semata-mata, namun tetap ada perbedaan dalam penyebab efisien.

Pengakuan Iman Westminster mengenai pembenaran yang dikutip oleh Antony A. Hoekema dalam bukunya Diselamatkan oleh Anugerah sebagai berikut:[11]

Mereka yang dipanggila Allah secara efektif, juga secara bebas dibenarkan oleh Allah, bukan dengan menenamkan kebenaran di dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan menyatakan dan menerima pribadi-pribadi mereka sebagai benar. hal ini tidak dikarenakan sesuatu yang terdapat di dalam diri mereka atau yang dikerjakan oleh mereka, tetapi semata-mata dikarenakan Kristus …. Dengan memberlakukan [mengimputasikan] ketaatan dan pemuasan Kristus atas mereka, sehingga mereka menerima dan bergantung kepada-Nya dan kebenaran-Nya dengan iman, di mana iman ini sendiri juga bukan milik mereka sendiri melalainkan anugerah Allah.

Keselamatan diberikan secara Cuma-Cuma oleh Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Hanya Yesuslah jalan menuju ke keselamatan dan pendamaian kepada Allah, keselamatan dan pendamaian yang ditawarkan Yesus ialah keselamatan dan pendamaian yang sejati dan nyata, bukan hanya sekedar ajaran atau iming-iming belaka, tetapi suatu tindakkan yang nyata bagi orang-orang percaya.
 KESIMPULAN

Buddha mengajarkan ajaran tentang konsep keselamatan yang semu, yang penuh dengan ketidakpastian. Untuk dapat sampai kepada nirwana orang harus menghilangkan atau memadamkan keinginan-keinginannya. Kekristenan mengajarkan bahwa manusia setelah mengalami kejatuhan pertama yang dilakukan oleh Adam telah kehilangan kemuliaan Allah, manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah menjadi rusak.

Dosa membuat manusia mengalami kerusakan total, gambar dan rupa Allah rusak total. Hal inilah yang membuat manusia tidak memiliki keinginan-keinginan tentang hal-hal yang baik, kebaikan yang dilakukan manusia hanyalah kebaikan relatif. Kerusakan total berarti manusia tidak pernah dapat melakukan kebaikan secara fundamental menyenangkan hati Allah dan bahwa pada kenyataannya manusia selalu berbuat jahat.[12]

Roma 3:10-12 ”seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Sangat jelas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang benar di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu sangat tidak mungkin dengan berbuat baik manusia bias diselamatkan.

Tidak ada keselamatan selain di dalam Yesus, karena pengorbanan Yesus membenarkan manusia dihadapan Allah. Pengorbanan Yesus di kayu salib membenarkan manusia dari dosa-dosanya. Kiranya kasih anugerah Allah menyertai kita senantiasa. 

SOLI DEO GLORIA  

DAFTAR PUSTAKA

Utomo, Bambang Ruseno, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, Malang: Gandum Mas.

Hadiwijono, DR. Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985.

Honig Jr, A. G. Ilmu Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.

Boice, James Montgomery, Dasar-Dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), Surabaya: Momentum, 2011.

Berkhof, Louis, Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan), Surabaya: Momentum, 2012.

Hoekema, Antony A. Diselamatkan oleh Anugerah (Saved by Grace), Surabaya: Momentum, 2006.

Palmer, Edwin H. Lima Pokok Calvinisme, Surabaya: Momentum, 2009.

Smith, Huston, Agama-Agama Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.




       [1] Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, (Malang: Gandum Mas) 23.
       [2] Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, 23.
       [3] DR. A. G. Honig, Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994) 166-167.  
       [4] DR. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1985) 49.
       [5] naskah ini diukir di candi Borobudur yang terletak di Magelang. Di Indonesia penganut agama Buddha biasa merayakan hari-hari besar di candi Borobudur. A. g. honig Jr, Ilmu Agama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994) 168.
       [6] wimoksa atau wimukti itu berarti keselamatan atau kelepasan. Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia, 25.
       [7] delapan jalan keselamatan diringkaskan dari bukunya DR. Harun hadiwijono. DR. Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Buddha, 60-61.
       [8] A. G. Honig, Ilmu Agama, 211-212.
       [9] James Montgomery Boice, Dasar-Dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), (Surabaya: Momentum, 2011) 477.
       [10] Louis Berkhof, Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan), (Surabaya: Momentum, 2012) 224-225.
       [11] Antony A. Hoekema, Diselamatkan oleh Anugerah (Saved by Grace), (Surabaya: Momentum, 2006) 227.
       [12] Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, (Surabaya: Momentum, 2009) 8.

1 komentar:

  1. Guru Agung Buddha Gautama bukan mengajarkan sesuatu yang semu. tapi nyata. dan tidak perlu melalui proses kematian untuk selamat. jaman sang Buddha masih ada, banyak murid beliau yang mencapai keselamatan seperti sang Buddha. bagaimana bisa disebut semu ?

    BalasHapus