KESELAMATAN
DALAM AGAMA BUDDHA
Agama
Buddha
Buddha termasuk salah satu agama falsafah, usaha
akal manusia untuk mencari kedamaian dengan rumusan-rumusan yang sistematis. Agama
Buddha tidak bercorak Theosentris, tetapi Homosentris. Nama Buddha adalah
sebutan dari pembawa ajaran yaitu Siddhartha Gautama. Nama Buddha berasal dari
bahasa sansekerta “buddh” yang
berarti “bangun” atau “mengetahui”. Buddha mempunyai arti bangun dari malam
kesesatan dan sekarang berada di tengah-tengah cahaya pemandangan yang benar.[1]
Buddha mempunyai sebutan lain, yaitu: Bhagavat
(berarti, yang luhur) dan Tathagata
(berarti, yang sempurna).
Siddharta
adalah anak seorang Raja Kapilawastu yang bernama raja Suddhodana dan ibunya
bernama Maya yang memerintah suku Shakya di daerah penggunungan Himalaya dan
diantara hulu sungai Rapti dan Gandak. Siddhartha lahir pada tahun 563 SM dan
meninggal 483 SM.[2]
Nama Siddhartha mempunyai arti “yang mencapai maksud tujuannya”, selain itu
juga mempunyai beberapa sebutan, antara lain: Gautama yang berarti Keturunan Guru Weda Gautama, Shakyamuni berarti rahib atau yang
bijaksana dari Shakya, Shaakya-Sinha
artinya singa dari kaum Shakya.[3]
Kitab
Buddha bernama Tripitaka yang berarti
tiga keranjang. Keranjang yang dimaksuda adalah pengelompokkan sumber-sumber
tertulis sekitar abad pertama. ketiga kitab yang dikelompokkan itu ialah Sutra Pitaka atau Sutta Pitaka yang berisi Dharma
(dhamma) ajaran Buddha kepada muridnya:[4]
1. Adhidharma (Abhidhamma),
berisi ajaran yang lebih mendalam mengenai hakekat dan tujuan manusia, ilmu
atau pengetahuan yang membawa kepada kelepasan.
2. Winaya Pitaka,
berisi peraturan-peraturan untuk mengatur tata tertib Sangha atau jemaat dan
hidup sehari-hari seorang bhiksu atau bhikku.
Di
dalam agama Buddha terdapat dua golongan atau aliran yang diakibatkan dari
pengumpulan dan penetapan kitab Sutra dan Winaya pitaka. Golongan pertama, Hinayana yang tetap memegang teguh pada
peraturan Winaya. Golongan kedua, Mahayana
yang menerima perubahan-perubahan dalam kitab Winaya. Perubahan-perubahan kitab
Buddha terjadi sekitar tahun 383 SM dalam seminar Rajgraha dan menetapkan
redaksi dari kitab Sutra dan Winaya Pitaka yang sudah diredaksi ditetapkan
sebagai ajaran sang Buddha. Dalam naskah sansekerta dari Mahayana memberi
keterangan yang lebih panjang mengenai terjadinya Buddha, naskah penting dari
sansekerta ialah Mahaparinibbanasutta dari golongan Hinayana dan Lalitawistara
dari golongan Mahayana.[5]
AJARAN-AJARAN
DALAM BUDDHA.
Ajaran Penderitaan
Sebagai
suatu agama pasti memiliki ajaran-ajaran yang diajarkan kepada Sangha atau
jemaat. Buddha memiliki ajaran yang disebut dengan ajaran kelepasan yaitu suatu
ajaran yang ingin membawa manusia kepada kelepasan, kerena merasa hidup ini
adalah ketidak bebas. Ajaran utama di dalam Buddha dirumuskan dalam empat kebenaran yang mulia atau empat arysatyani. empat kebenaran yang
mulia itu antara lain:
1. Dukha
(penderitaan). Berisi hidup adalah penderitaan, mulai dari kelahiran sampai
dengan kematian penuh dengan penderitaan.
2. Samudaya
(sebab). Penderitaan adalah penyebab. Penyebab orang dilahirkan kembali adalah
keinginan kepada hidup dengan disertai nafsu yang mencari kepuasan.
3. Nirodha
(pemadaman). Pemadaman penderitaan melalui penghapusan, pembuangan dan
penyangkalan terhadap keinginan.
4. Marga
(jalan kelepasan). Ajaran ini mengajarkan jalan tentang kelepasan dari
penderitaan. Namun, ada delapan jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan
kelepasan
Penderitaan menjadi ajaran pokok dalam pengajaran Buddha, sebab Buddha datang ke dunia karena penderitaan. Untuk menerangkan ajaran ini diajarkan Pratitya samutpada, yang berate pokok permulaan yang bergantungan. Harun Hadiwijono merumuskan duabelas pokok permulaan, antara lain:
Menjadi tua dan mati (jaramaranam) bergantung pada kelahiran (jati), kelahiran bergantung pada pada
hidup atau eksistensi yang lampau (bhawa),
hidup atau eksistensi yang lampau bergantung pada pengikatan kepada makan minum
dan sebagainya (upadana), pengikatan
bergantung pada kehausan (tanha),
kehausan bergantung pada emosi atau rejana (wedana),
emosi bergantung pada sentuhan atau kontak (sparsa),
sentuhan bergantung pada indera dan sasarannya (sadayatana), indera dengan sasarannya bergantung pada roh dan benda
atau keadaan batin dan lahir (namarupa),
roh dan benda bergangtung pada penafsiran atau penggambaran yang salah (sanskara), penafsiran yang salah
bergantung pada ketidaktahuan (awidya).
Ketidaktahuan
yang dimaksud bukan ketidaktahuan dalam pengetahuan secara umum, namun
pengetahuan kosmis. Dalam ketidaktahuan kosmis ada tiga pokok hal yang sangat
jelas: 1) alam semesta penuh dengan penderitaan (dukha), 2) alam semesta adalah fana (anitya atau anicca), 3) tiada jiwa dalam dunia ini (anatman atau anatta). ajaran kebergantungan yang diajarkan membawa kepada karma.
Karma lah yang menyebabkan manusia dilahirkan kembali, kelahiran kembali yang
dimaksud bukan kelahiran kembali jiwa yang menjadi manusia kembali. Kelahiran
kembali yang maksud adalah kelahiran kembali watak atau sifat-sifat, atau
kepribadian manusia menjadi manusia baru. Konsep ini mirip dengan konsep
kelahiran kembali yang dianut oleh umat Kristen yaitu tentang konsep lahir baru.
Ajaran Tentang Jalan Kelepasan
(Keselamatan)
Ajaran
kelepasan dalam Buddha diungkapa dengan ungkapan Wimoksa atau Wimukti[6]
dengan puncaknya adalah nirwana.
Nirwana berarti pemadaman atau pendinginan. Hal-hal yang perlu dipadamkan ialah
hal-hal yang menyebabkan penderitaan dan hal-hal yang negative dalam kehidupan
manusia seperti: keinginan, api nafsu, kebencian dll. Nirwana digambarkan
sebagai suatu tempat yang penuh dengan kebahagiaan dimana penderitaan
(samskara) ditindas dengan sempurna, segala skanda dilarutkan, segala keinginan
ditiadakan sehingga mencapai keadaan yang benar-benar damai.
Harun
Hadiwijono mengungkapkan nirwana sebagai suatu kebahagiaan yang tanpa
pengamatan, tanpa perasaan dengan sadar. Nirwana juga disebut sebagai suatu
keadaan tanpa ganguan maut (amrtapada), suatu keadaan yang lebih baik daripada
segala keadaan di bumi. Buddha mengajarkan seluruh dunia dipandang sebagai
sesuatu yang terbakar, terbakar oleh api nafsu (raga), api kejahatan (dosa),
api khayalan, api kelahiran, umur tua, mati, sakit, penderitaan-penderitaan dan
keputusasaan.
Nirwana
dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: Upadhisesa
adalah status manusia yang sudah mendapat kelepasan, namun hidup dan
lahirnya masih terus berjalan, dan Anuphadisesa
merupakan status manusia yang sudah mendapat kelepasan, yang hidup lahirnya
sudah tidak ada lagi (terjadi pada kematian orang suci). Untuk mencapai
nirwana, manusia harus melalui depalan jalan keselamatan, antara lain:[7]
1. Percaya yang benar. percaya dan menyerahkan diri dari percaya dan
menyerahkan diri kepada Buddha sebagai Guru yang berwenang mengajarkan
kebenaran; percaya dan menyerahkan diri kepada darma atau ajaran Buddha yang
membawanya kepad kelepasan dan menyerahkan diri kepada jemaat (sangha) sebagai
jalan yang harus dilaluinya.
2. Maksud yang benar.
buah atau hasil percaya yang benar atau pengetahuan yang benar, karena yakin
bahwa jalan petunjuk Buddha adalah jalan yang benar.
3. Kata-kata yang benar. orang harus menjauhkan
diri dari kebohongan, membeicarakan kejahatan orang lain, mengucapkan kata-kata
kasar, serta percakapan yang tidak senonoh.
4. Perbuatan yang benar.
di dalam segala perbuatannya orang tidak boleh mencari keuntungan sendiri, melainkan
harus didorong oleh motif-motif yang murni dan mementingkan peri kemanusiaan.
5. Hidup yang benar.
secara lahir dan batin orang harus murni, bebas dari penipuan diri, tidak hanya
mementingkan tingkah laku yang lahir saja.
6. Usaha yang benar.
terdiri dari pengawasan hawa nafsu untuk menjaga jangan sampai di dalam dirinya
timbul tabiat-tabiat yang jahat. Ada lima cara untuk melaksanakan usaha yang
benar ini:
a. Memperhatikan
cita-cita yang baik.
b. Memperhatikan
bahaya akibat membiarkan cita-cita yang jahat menjadi perbuatan.
c. Menjauhkan
perhatian dari cita-cita yang jahat.
d. Menganalisa
dorongan yang mendorong cita-cita yang jahat.
e. Memaksa
pikiran untuk menjauhkan diri dari yang jahat dengan alat-alat jasmaniah.
7. Ingatan yang benar.
pengawasan akal serta pengawasan rejana atau emosi yang merusak.
8. Samadhi.
Samadhi adalah upacara supaya perhatiannya tidak terpecah. Dalam tingkat ini
orang harus banyak merenungkan beberapa hal, antara lain:
a. Merenungkan
bahwa makan-minum membawa banyak kesusahan.
b. Merenungkan
bahwa tubuh terdiri dari 4 unsur, yaitu: bumi, air, api dan angina.
c. Yang
terakhir ialah merenungkan 4 bhawana, yaitu: meta (persahabatan yang universal), karuna (belas kasih yang universal), mudita (kesenangan dalam keuntungan dan kesengan akan segala
sesuatu), upakha (tidak tergerak oleh
hal-hal yang menguntungkan diri sendiri, teman, musuh dll).
Hal-hal
yang disebutkan diatas belum dapat mengantarkan manusia untuk mencapai nirwana,
masih ada Samadhi yang sebenarnya
harus dilakukan supaya manusia bisa menghilangkan dukha atau sukha dan mengantarkan manusia untuk mencapai nirwana. Menurut
DR Harun Hadiwijono ada empat tingkatan terakhir yang harus dicapai, yaitu:
1. Srotapana
(pertobatan), ialah tingkatan orang yang sudah ditempatkan dalam arus yang
benar, yang disebabkan karena pergaulan yang baik, mendengar hokum dan karena
bernuat baik. Pada tingkat ini manusia sudah berlindung kepada Buddha dan
mengakui empat kebenaran mulia.
2. Sakradagamin, tingkatan
orang yang harus dilahirkan kembali sekali lagi untuk dapat mencapai kelepasan.
3. Anagamin, tingkatan
orang yang sudah tidak akan dilahirkan kembali dan sudah mendapat kelepasan di
dunia sekarang ini, namun belum mencapai nirwana.
4. Arhat, tingkatan
manusia yang sudah bebas dari keinginan dilahirka kembali, biak di dalam dunia
bentuk maupun di dalam dunia yang tak berbentuk.
Honig
Jr dalam bukunya yang berjudul Ilmu agama mengutip perkataan-perkataan Buddha
mengenai nirwana,
“Memang, hai para rahib (biksu),
inilah perdamaian, inilah yang luhur, yakni berhentinya segala bentuk karma,
terurainya dasar-dasar keadaan, menjadi keringnya nafsu, pemadaman,
penghapusan, nirwana. Didorong oleh keinginan, hai para rahib, dibuat marah
oleh kebencian, diperdayakan dan dikuasai oleh kesilauan, terikat di dalam
akal, maka orang merencanakan kerugiannya sendiri dan kerugian orang lain,
orang merencanakan kerugian kedua belah pihak dan orang mengalami penderitaan
jiwa dan dukacita. Tetapi apabila keinginan, kebencian dan kesilauan itu
lenyap, maka orang tidak merencanakan kerugiannya sendiri mauoun kerugian orang
lain, pun pula kerugian kedua pihak dan orang tidak merasakan penderitaan dan
dukacita. Dengan demikian nirwana tidak terikat kepada waktu, telah dapat
dikenal di dalam hidup in, mengajak, menarik dan dapat dimengerti oleh para
budiman.
Hai para rahib, ada suatu lingkungan,
di aman tidak ada sesuatu yang padat, maupun sesuatu yang cair, tidak ada panas
maupun gerak, tidak ada dunia ini, tidak ada dunia sana, tidak ada matahari
ataupun bulan. Hai para rahib, itulah yang kusebut tidak ada yang datang, tidak
ada yang pergi, tidak ada yang berhenti, tidak ada yang dilahirkan, tidak ada
yang mati. Itu tanpa suatu dasar apapun, tanpa perkembangan, tanpa penumpu:
inilah akhir pernderitaan. Itulah suatu kebahagian tanpa penginderaan, suatu
ketidak-adaan perasaan dengan kesadaran, kepastian yang berbahagia, bahwa
kegelisahan kehidupan-kehidupa itu telah lalu untuk selama-lamanya.”
Pada
hakekatnya nirwana itu tidak dapat terpikirkan dan tidak dapat dimengerti, ada
dua kemungkinan yang dapat menentukan hakekat nirwana. Pertama, nirwana
bukanlah jiwa manusia masuk ke dalam maha jiwa. Kedua, nirwana tidak boleh
disebut pembinasaan, tetapi nirwana adalah berhentinya suatu proses.[8]
KESELAMATAN DI DALAM KRISTUS
Buddha mengajarkan untuk mencapai
kelepasan (keselamatan) orang harus menyangkal dirinya dari keinginan-keinginan
yang jahat (lebih tepatnya memisahkan diri dari dunia). Di dalam kekristenan
tidak demikian, keselamatan hanya diperoleh dari pembenaran oleh iman di dalam
Yesus Kristus. Perbedaan yang sangat mencolok dalam konsep keselamatan. Sebab
Buddha tidak mengenal adanya dosa, karena Buddha tidak menyembah kepada Tuhan,
tetapi penderitaanlah yang dianggap sebagai penghalang manusia utnuk mencapai
keselamatan (nirwana).
Di dalam kekristenan keselamatan adalah anugerah
Allah kepada manusia yang berdosa dan pemebenaran adalah engsel dari
keselamatan. Efesus 2:8,9 mengatakan “Sebab
karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu
bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Kasih karunia
adalam bahasa Yunaninya χάριτί yang berarti anugerah atau kasih karunia. Anugerah adalah pemberian dari pihak atas (yang
berkuasa) kepada pihak bawah (yang lemah) secara Cuma-Cuma.
Pembenaran Allah bukan hanya sekedar menyatakan manusia
benar. pembenaran karena iman adalah Allah menyatakan orang-orang percaya
sebagai orang benar bukan berdasarkan perbuatan-perbuatannya, melainkan
berdasarkan pengorbanan Kristus.[9]
Louis Berkhof mendefinisikan
pembenaran adalah tindakan Yuridis Allah dimana Ia menetapkan, berdasarkan
kebenaran Tuhan Yesus Kristus, bahwa semua tuntutan hukum sudah dipenuhi bagi
orang berdosa. Pembenaran mencakup pengampunan dosa dan pembaharuan berdasarkan
kasih karunia Allah. Lebih lanjut Berkhof memberikan perhatian terhadap
perbedaan-perbedaan sebagai berikut:[10]
1.
Pembenaran
menyingkirkan kesalahan karena dosa dan memperbarui orang berdosa untuk semua
hak yang mencakup keadaannya sebagai anak Tuhan, termassuk warisan hidup kekal.
2.
Pembenaran terjadi
di luar diri orang berdosa dalam tahta pengadilan Allah dan tidak mengubah
kehidupan batiniahnya.
3.
Pembenaran terjadi
sekali untuk selamanya.
4.
Kendatipun jasa
yang menyebabkan pembenaran kedua hal tersebut terletak pada jasa Kristus
semata-mata, namun tetap ada perbedaan dalam penyebab efisien.
Pengakuan Iman Westminster mengenai
pembenaran yang dikutip oleh Antony A. Hoekema dalam bukunya Diselamatkan oleh
Anugerah sebagai berikut:[11]
Mereka yang dipanggila Allah
secara efektif, juga secara bebas dibenarkan oleh Allah, bukan dengan
menenamkan kebenaran di dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa-dosa
mereka dan menyatakan dan menerima pribadi-pribadi mereka sebagai benar. hal
ini tidak dikarenakan sesuatu yang terdapat di dalam diri mereka atau yang
dikerjakan oleh mereka, tetapi semata-mata dikarenakan Kristus …. Dengan
memberlakukan [mengimputasikan] ketaatan dan pemuasan Kristus atas mereka,
sehingga mereka menerima dan bergantung kepada-Nya dan kebenaran-Nya dengan
iman, di mana iman ini sendiri juga bukan milik mereka sendiri melalainkan
anugerah Allah.
Keselamatan diberikan secara Cuma-Cuma
oleh Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus. Hanya Yesuslah jalan menuju ke
keselamatan dan pendamaian kepada Allah, keselamatan dan pendamaian yang
ditawarkan Yesus ialah keselamatan dan pendamaian yang sejati dan nyata, bukan
hanya sekedar ajaran atau iming-iming belaka, tetapi suatu tindakkan yang nyata
bagi orang-orang percaya.
Buddha mengajarkan ajaran tentang konsep
keselamatan yang semu, yang penuh dengan ketidakpastian. Untuk dapat sampai
kepada nirwana orang harus menghilangkan atau memadamkan keinginan-keinginannya.
Kekristenan mengajarkan bahwa manusia setelah mengalami kejatuhan pertama yang
dilakukan oleh Adam telah kehilangan kemuliaan Allah, manusia yang diciptakan
segambar dan serupa dengan Allah menjadi rusak.
Dosa membuat manusia mengalami kerusakan
total, gambar dan rupa Allah rusak total. Hal inilah yang membuat manusia tidak
memiliki keinginan-keinginan tentang hal-hal yang baik, kebaikan yang dilakukan
manusia hanyalah kebaikan relatif. Kerusakan total berarti manusia tidak pernah
dapat melakukan kebaikan secara fundamental menyenangkan hati Allah dan bahwa
pada kenyataannya manusia selalu berbuat jahat.[12]
Roma 3:10-12 ”seperti
ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada
seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua
orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat
baik, seorangpun tidak. Sangat jelas mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang
benar di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu sangat tidak mungkin dengan berbuat baik
manusia bias diselamatkan.
Tidak ada keselamatan selain di
dalam Yesus, karena pengorbanan Yesus membenarkan manusia dihadapan Allah.
Pengorbanan Yesus di kayu salib membenarkan manusia dari dosa-dosanya. Kiranya
kasih anugerah Allah menyertai kita senantiasa.
SOLI
DEO GLORIA
DAFTAR PUSTAKA
Utomo, Bambang Ruseno, Sekilas Mengenal Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia,
Malang: Gandum Mas.
Hadiwijono, DR. Harun, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1985.
Honig Jr, A. G. Ilmu Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
1994.
Boice, James Montgomery, Dasar-Dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), Surabaya:
Momentum, 2011.
Berkhof, Louis, Teologi Sistematika (Doktrin Keselamatan),
Surabaya: Momentum, 2012.
Hoekema, Antony A. Diselamatkan oleh Anugerah (Saved by Grace), Surabaya: Momentum,
2006.
Palmer, Edwin H. Lima Pokok Calvinisme, Surabaya:
Momentum, 2009.
Smith,
Huston, Agama-Agama Manusia, Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1995.
Guru Agung Buddha Gautama bukan mengajarkan sesuatu yang semu. tapi nyata. dan tidak perlu melalui proses kematian untuk selamat. jaman sang Buddha masih ada, banyak murid beliau yang mencapai keselamatan seperti sang Buddha. bagaimana bisa disebut semu ?
BalasHapus